FTTH4: He Kissed Me Like a Warning 🔞

Disclaimer: dominan vibes, aggressive kisses, Caleb's drunk & possessive here. Don't read if you're uncomfortable

Suara pintu terbuka pelan. Kamu berdiri di ambang, mendapati pemandangan yang langsung membuat dadamu mengencang. Caleb, dengan langkah gontai dan tubuh nyaris tidak sadarkan diri, tengah dituntun oleh Liam, ajudan kepercayaannya.

Dan Tanpa berkata banyak, kamu hanya melangkah mundur, mempersilahkan Liam untuk membawa tubuh Caleb ke kamar. “Bring him to the room.”

Liam mengangguk patuh, lalu menuntun tubuh Caleb masuk ke kamar dengan hati-hati. Kamu mengikuti di belakang mereka, lalu membantu membuka pintu kamar. Caleb tampak benar-benar lelah, atau mungkin terlampau mabuk hingga kesadarannya tersisa tipis.

Setelah tubuhnya dibaringkan di atas tempat tidur, kamu menoleh dan mengucap terima kasih lirih pada Liam. Ajudan itu hanya tersenyum kecil sebelum pamit, meninggalkan kalian berdua dalam keheningan yang ganjil.

Kamu menunduk, menghela napas panjang, lalu perlahan membuka sepatu dan kaus kaki Caleb. Jas kolonel nya kamu lepas dengan hati-hati, agar ia dapat beristirahat dengan lebih nyaman. Wajahnya tenang dalam tidur, namun rona merah di pipinya menunjukkan sisa efek alkohol yang kuat. Entah berapa banyak yang ia minum malam ini, dan kamu tahu, alasan utamanya hanya satu: foto itu. Foto dirimu dan Zayne yang terlihat terlalu dekat.

Padahal, kenyataannya tidak seperti yang ia lihat. Tidak ada pelukan. Tidak ada yang perlu dicurigai. Hanya sudut pengambilan gambar yang menipu, namun cukup untuk membuat semuanya terlihat berbeda. Caleb tiba-tiba bergerak gelisah. Keningnya berkerut, seperti sedang dihantui mimpi buruk.

“Please… don't… take her away…” gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Khawatir, kamu menyentuh dahinya. Namun, yang terasa justru suhu panas. Ia sedikit demam. Kamu berdiri, hendak mengambil kompres dingin dari lemari, namun tangan Caleb tiba-tiba menggenggam tanganmu erat.

Matamu terbelalak. “Caleb…”

Ia membuka matanya perlahan. Sayu, merah, dan penuh beban. “Don't go…”

“Caleb, I just came to take - ”

Belum sempat kalimatmu selesai, tubuhnya sudah bergerak. Ia bangkit duduk, lalu menarikmu dalam dekapannya, seolah tidak ingin membiarkanmu menjauh barang sedetik.

“I said don't go…” bisiknya parau. “You've done more than enough to make me feel like I'm losing everything. You claimed it was just about helping Zayne talk, but anyone could see it, like a perfect couple.” Pelukannya begitu kuat, dan kamu hanya bisa terdiam. Napasmu berat, kepalamu menunduk rendah.

“It's not what you think. I was just helping him talk to a woman. Don't let a misleading photo make you misunderstand,” ujarmu pelan, mencoba menjelaskan dengan sabar.

Namun Caleb justru semakin mendekap erat, membenamkan wajahnya di lekuk lehermu. Napasnya hangat di kulitmu, dan kehadirannya terasa berat, secara fisik dan emosional.

“I hate seeing you with him. The way you smile at him, the way you look at him… it tears me apart. Makes me feel like I'm only here to hurt you, when all I want is to be the one, the only one who makes you happy.”

Kata-katanya mengguncang. Ada luka di dalam suara seraknya, dan kamu tidak tahu harus merespons apa lagi selain diam.

“Caleb, you're drunk. You need to sleep now.”

Ia mengendurkan pelukannya perlahan, seolah sedang mencari napas yang hilang. Namun sebelum kamu sempat menjauh, matanya menatapmu lekat, dalam dan buram, tapi menyimpan sesuatu yang tidak dapat kamu tebak. Tidak ada jeda, tidak ada aba-aba. Dalam sekejap, ia mendekatkan wajahnya dan menekan bibirnya ke bibirmu. Kamu sempat terkejut. Ciuman itu berbeda. Tidak selembut biasanya, tidak menyentuh dengan kasih atau kerinduan. Yang terasa hanyalah kekalutan. Bibirnya menindih bibirmu dengan paksa, seolah ingin melampiaskan segala amarah dan ketakutannya dalam satu sentuhan yang terburu-buru.

“Caleb!” desakmu pelan, mendorong dadanya, berharap ia sadar.

Namun ia tidak bergeming. “Shut up!” bisiknya dengan suara serak yang berat dan tercekat. “This… is the price you pay for destroying my trust, Pips.”

Belum sempat kamu mengeluarkan satu kata pun, bibirmu kembali ditangkap olehnya. Kali ini lebih keras, lebih dalam, tanpa jeda dan tanpa ampun. Tidak ada kehalusan dalam gerakannya, semuanya berantakan, terburu-buru, dan sepenuhnya dikuasai emosi yang membuncah di dadanya. Bibirnya menindih bibirmu dengan paksa, seolah ingin menghapus jejak siapa pun yang pernah mendekatimu. Kamu meronta, mencoba menjauhkan wajahmu darinya, namun ia menahannya dengan satu tangan yang kokoh di tengkukmu. Sementara lengan lainnya melingkar di punggungmu, menarikmu lebih erat, membuat tubuhmu tidak punya celah untuk menghindar. Kamu seperti terperangkap dalam pelukannya yang menyesakkan, bukan karena kasih, tapi karena ketakutan yang berubah menjadi obsesi.

“Caleb, stop - ” rintihmu disela ciumannya yang mendominasi dan menusuk. Namun seolah ia tuli, ia kembali menciummu tanpa memberimu kesempatan untuk berbicara.

Sentuhannya tidak lagi seperti Caleb yang kamu kenal. Bibirnya bergerak liar, menuntut dan mendesak, bahkan ketika kamu mencoba menarik napas. Lidahnya memaksa masuk, menciptakan pertempuran yang membuatmu kehilangan arah. Kamu berusaha melawan, namun setiap kali kamu menghindar, ia akan semakin mendesak, seolah tidak ingin memberi ruang untukmu menghilang.

“Still sneaking around behind my back, huh?” Tangannya mencengkram rahangmu kencang. Memaksamu untuk menatapnya, hanya menatapnya. Tatapannya yang tajam membuat tubuhmu gemetar takut. Ini bukan Caleb yang kamu kenal. “If you weren't pregnant, I would take you in this bed until you had multiple orgasms, then make you weak and end up losing consciousness, pips. You are mine, only mine!”

Ia kembali meraup bibirmu. Sebuah gigitan yang ia tinggalkan, tajam, tergesa, dan penuh tekanan hingga kamu meringis karena perihnya. Ia tidak hanya menggigit bibirmu, ia juga menariknya, seperti itu terus sampai dirasa bibir kamu bengkak. Rasa nyeri itu seperti teguran, tapi bukan itu yang ia maksud. Ia tidak sadar, tidak benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Yang ia tahu hanyalah kamu membuatnya merasa kalah. Dan ia tidak bisa menerima itu.

Napas kalian bertabrakan di antara desahan kacau yang tidak beraturan. Napasnya berat, sementara napasmu mulai tersengal, tertahan oleh kedekatan yang terlalu memaksa. Bibirmu terasa panas, perih, nyaris bengkak oleh gesekan dan gigitan yang tertinggal. Meski tubuhmu sudah bergetar karena ketegangan dan syok, ia tetap tidak melepasmu.

Pelukannya menguat, seperti ingin memastikan kamu tidak akan pergi lagi. Ia menciummu tanpa ampun, tanpa memedulikan rengekan kecilmu yang memintanya berhenti. Dalam genggamannya, kamu bukan hanya rumahnya, kamu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras. Dan kini, ia merasa kehilangan kendali atas itu.

To be continued… © calsavapple 🍎