jaemtigabelas

FTTH 5: Goodbye, My Almost

Disclaimer: slight violence, blood, yelling, mentions of prostitutes and sex. 🔞

Langkahmu berat ketika akhirnya tiba di depan pintu rumah. Tas cucian yang menggantung di bahu kiri terasa semakin menyiksa punggungmu yang lelah. Sementara perutmu yang semakin membesar membuat gerakmu tidak lagi lincah seperti dulu. Kamu menarik napas pelan, mencoba mengumpulkan tenaga terakhir untuk membuka pintu dan masuk ke dalam rumah yang sejak tadi terasa sunyi.

Saat kamu melewati ruang tamu dan menjejakkan kaki di dapur, pandanganmu langsung tertumbuk pada sosok yang tidak asing. 

Caleb.

Ia berdiri bersandar pada meja dapur, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana training abu-abu yang menggantung rendah di pinggulnya. Rambutnya berantakan, seperti baru saja bangun tidur, namun ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kantuk. Justru sebaliknya - rahangnya mengeras, pandangannya menusuk lurus ke arahmu, dan dadanya naik-turun perlahan namun berat, seolah tengah berusaha meredam sesuatu yang lebih panas dari api.

Ia sedang meneguk air dari botol besar di tangannya, namun tidak ada sapaan yang keluar dari bibirnya. Tidak ada senyuman. Tidak ada kalimat 'Are you going home?'. Hanya diam yang mengendap, dan hawa dingin yang langsung menyergap ruangan.

Kamu tahu ada yang tidak beres.

“You're up?” tanyamu pelan, mencoba mencairkan udara yang mendadak begitu tegang. Senyum kecil kamu paksa muncul di wajahmu meski rasanya kaku sekali.

Namun Caleb tidak menjawab pertanyaanmu. Ia meletakkan botolnya ke atas meja dengan suara thud yang terdengar terlalu keras untuk sekadar menaruh air.

“Where were you?” suaranya tajam. Bukan berteriak, tapi dinginnya seperti pisau yang perlahan menggores kulitmu.

Kamu mengangkat alis, sedikit bingung, sedikit tersinggung. “From the laundromat. I told you earlier, remember?”

“Oh, really?” Caleb mengangguk kecil, sinis. “Laundry… or are you lying to me just to meet Zayne?”

Kamu terdiam sejenak. Matamu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Kamu tahu Caleb pencemburu, tapi tidak seperti ini. Tidak dengan tuduhan seperti itu. Dadamu terasa nyeri, dan ada sesuatu yang membeku di tenggorokanmu.

“Oh my God…” gumammu, napasmu mulai memburu. “How much longer are you going to make Liam shadow me, Caleb? What am I to you? Some kind of criminal? Is that how little you trust me?”

Caleb tidak langsung menjawab. Tapi ia mulai berjalan ke arahmu. Langkahnya tenang, tapi ada bahaya di setiap gerakannya. Seperti singa yang mendekati mangsanya, pelan tapi mematikan. Kamu mundur selangkah secara naluriah, tubuhmu bereaksi lebih dulu daripada otakmu.

“I trust you, Pips. I really do… I'm trying to,” suaranya rendah, menggeram, namun jelas. “I'm doing my best to stay, to be the father this baby needs, for you. And yet… I see you with that homewrecker more than you're with me. You let him in. You give him your trust, your time, your comfort, things that should be mine.”

“He's not a homewrecker!” balasmu, nadamu meninggi karena amarah dan rasa sakit yang menyeruak bersamaan. “He's Zayne. He's the one who stayed when you left. He's the one who was there when I had to face the hardest days of my life, when I had to accept this pregnancy on my own. Meanwhile you… you weren't even there, Caleb.”

Wajah Caleb menegang. Matanya menyorot tajam. Tapi yang keluar dari mulutnya bukan jawaban yang kamu harapkan.

“Why do you always choose him, huh?” suaranya rendah, tapi getir. “Why is it always him? Be honest, did you sleep with him? Or is this child… not even mine?”

PLAK!

Tamparanmu mendarat keras di pipinya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, tapi ia tak membalas. Hanya tatapan itu yang masih menyala di matanya, tatapan kecewa, terluka, dan hancur.

Air matamu jatuh tanpa kamu sadari. Suaramu bergetar, namun tetap tajam. “Turns out, you're not that different from your parents, Caleb. Too busy drowning in your fears to realize you're breaking the person who still believed in you.”

Kamu berbalik. Langkahmu gemetar. Tapi kamu tidak ingin menangis di depannya. Tidak kali ini. Tidak setelah semua luka yang ia torehkan, baik dengan ucapan maupun keraguannya.

Caleb menarik tanganmu dengan kasar, menghentikan langkahmu yang baru saja ingin pergi meninggalkan ruangan. Tubuhmu sedikit tertarik ke belakang oleh gerakannya yang mendadak, dan sebelum sempat kamu menghindar, ia memaksa wajahmu menoleh ke arahnya. Matanya menyala, bukan karena cinta, tapi karena amarah yang sudah meluap sejak pagi itu.

“Where are you going?” suaranya dalam, tajam, dan penuh tekanan. Kamu menatapnya. Matamu sudah berkaca-kaca, namun tidak setetes pun air mata jatuh. Wajahmu menegang, bibirmu bergetar, namun nada bicaramu tetap jelas, walau amarah dan luka hati terasa menggumpal dalam setiap katanya.

“Going to see Zayne. And forcing him to sleep with me. Isn't that what you've been assuming all along?” suaramu dingin, penuh ironi. “Or maybe… I should just bring him here. Let's have sex right in front of you, so you can finally see for yourself what you keep accusing me of.”

”(YOUR NAME)!” bentak Caleb akhirnya. Nadanya naik satu oktaf, tidak sanggup menahan amarah yang mendidih. Sorot matanya kini semakin gelap, terpukul, marah, dan tidak percaya bahwa kamu bisa melempar kalimat setega itu.

“WHAT?!!” kamu balas membentaknya. Suaramu meninggi, walau sedikit bergetar karena luka yang terlalu dalam untuk ditutupi. “Because no matter what, I'll always be the whore in your parents' story. And you… you, Caleb. The one I trusted not to hurt me, not again… turns out you're just like them.”

Hening menggantung sesaat setelah kalimat itu meluncur dari bibirmu. Tidak ada satu pun dari kalian yang bicara. Hanya suara napas yang memburu, dada yang naik turun, dan mata yang tidak saling berpaling meski begitu penuh luka. Caleb terdiam, rahangnya mengeras, seolah tidak tahu bagaimana harus merespons. Tapi kamu tahu, di balik diamnya, ada sesuatu yang retak. Entah itu egonya, atau hatinya sendiri.

Namun kamu sudah terlalu lelah untuk peduli.

Caleb terdiam, tapi bukan karena kalah. Melainkan karena amarahnya telah melewati titik didih, dan yang tersisa kini hanyalah bara panas, senyap, dan mematikan. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam lenganmu lebih erat, hingga kamu harus sedikit berusaha menarik tanganmu agar lepas.

“Never say that again. Not in front of me,” ucapnya, pelan namun mengancam. Matanya menatapmu seolah kamu makhluk asing yang tidak pernah ia kenal. “Did you really think I stayed quiet because I didn't know? I know Zayne is still orbiting you… using every second I'm not here to pull you closer.”

“And you think I ever let him in from the start?” kamu membalas dengan nada setengah tertawa, getir dan nyaris sinis. “You actually think I wanted him here? When you left me alone with a positive test in my hand, waiting for you, choking on every ounce of pain by myself? You think I asked for that kind of hell?”

“I left you for your own good, Pips!” bentaknya. Suaranya pecah di ujung. “I did it for us, for our baby! I let my parents have their way so they'd leave you alone… and what do you do? You run straight into another man's arms?!”

“Oh, so now you're blaming me?” suara kamu akhirnya pecah, air mata pertama akhirnya jatuh. “I only did it because I couldn't handle this by myself. Every night… as my belly gets bigger, you're nowhere beside me. I was terrified… I was falling apart… But all you cared about was guarding your pride, being a hero somewhere else, while forgetting that I needed someone to save me too.”

Kamu memukul dadanya dengan lemah, bukan karena ingin menyakitinya, tapi karena kamu sendiri sudah terlalu lelah menyimpan semuanya sendirian.

“I just need you to be here, Caleb.” lanjutmu dengan suara parau. “Not the emptiness you created out of your own ego.”

Caleb memejamkan mata sejenak. Napasnya berat. Wajahnya tampak bimbang seolah ada dua sisi dalam dirinya yang sedang saling bertarung, antara pria yang terluka karena cemburu, dan pria yang bersalah karena telah mengabaikan perempuan yang ia cintai.

Tapi alih-alih mereda, ia malah tertawa kecil, sinis.

“Funny how you say you need me, yet you're the one letting him fill the emptiness I left behind.”

“It's up to you, Caleb. I'm done talking,” bisikmu sambil menepis tangannya. “If a photo and your imagination weigh more than everything I've given you… then maybe I really don't know how to stay anymore.”

Kamu pun melangkah pelan, kembali mengambil tas yang sempat terjatuh, dengan air mata yang terus mengalir di pipimu. 

Langkahmu belum jauh saat tiba-tiba tangan Caleb kembali menarikmu, lebih kasar dari sebelumnya. Tubuhmu tertarik ke belakang, membentur dadanya. Jemarinya membelit pergelangan tanganmu dengan kekuatan yang membuatmu meringis, dan tatapan matanya kini benar-benar gelap, menusuk dan mengintimidasi.

“Tell me… do you love him?” tanyanya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Answer me, Pips! Are you in love with Zayne?!”

Kamu mencoba melepaskan genggamannya, tubuhmu bergerak gelisah karena cengkeramannya menyakitkan. Tapi ia tidak melepaskan. Justru menatapmu semakin dalam, seakan mencari-cari kebenaran di balik wajahmu yang penuh amarah dan air mata.

“It's not your business, Caleb” desismu akhirnya, dingin. Kamu angkat dagumu dengan mata basah yang penuh perlawanan.

“It is my business!” bentaknya. “Because I'm the father of the child you're carrying!”

Tubuhmu menegang. Kata-katanya menusuk lebih dalam daripada genggamannya. Tapi kamu tidak ingin mundur. Tidak sekarang, tidak setelah semua luka yang kamu tanggung sendiri selama ini. Kamu mengatupkan rahangmu, napasmu tercekat karena terlalu banyak emosi yang menyesakkan dada. Tapi kalimat yang akhirnya keluar dari mulutmu adalah sesuatu yang lebih menghancurkan daripada umpatan atau amarah.

“This isn't your child,” suaramu rendah, hampir berbisik, tapi penuh penekanan. “It's my child.”

Caleb mematung. Seolah dunia tiba-tiba hening. Matanya membelalak, tubuhnya sedikit mundur. Tapi cengkeramannya belum sepenuhnya terlepas.

“What… do you mean?”

“This baby doesn't need a father who can't control his words or his hands,” ujarmu sambil menarik pergelanganmu sekuat tenaga, akhirnya berhasil melepaskan diri. “If your pride matters more than me, then you have no place in this baby's life.”

Saat kamu berhasil menarik pergelangan tanganmu dari genggamannya. Tapi sebelum kamu sempat melangkah mundur, Caleb menggerakkan tangannya dengan cepat, tidak dengan niat menyakitimu, hanya ingin menahanmu. Namun sentuhannya terlalu kuat, dan kamu yang tengah berada dalam emosi tinggi kehilangan keseimbangan.

Tubuhmu terdorong ke belakang keras. Terlalu cepat. Terlalu mendadak.

BRAK!

Tubuhmu membentur lantai marmer dingin dengan suara menggelegar. Benturannya membuat seluruh udara di dadamu terhempas keluar. Tapi yang paling menghantam adalah rasa ngilu yang tiba-tiba menjalar dari perutmu. Kamu terdiam sejenak, matamu membelalak, sebelum akhirnya meringis panjang menahan rasa sakit yang menusuk tajam, dalam, dan menyebar liar ke seluruh tubuh.

“Arghh…” suara itu lolos dari bibirmu, pecah. Tubuhmu menggeliat di lantai, tanganmu terangkat ke perut yang terasa seperti diremas dari dalam.

Caleb yang masih terdiam di tempat, seketika membatu melihatmu jatuh. Wajahnya langsung memucat, matanya terbelalak penuh kepanikan. Tapi saat melihat noda darah mulai merembes dari celana bagian dalammu, napasnya tercekat.

“Pips… Pips! Damn it…” suaranya panik, gemetar. Ia berlutut cepat ke arahmu, mencoba menyentuh pipimu. “Pips, let me take you to the hospital – “

Kamu menepis tangannya dengan sisa tenaga. “Don't fucking touch me!” raungmu penuh amarah dan rasa sakit.

Tapi bahkan untuk mendorongnya pun kamu nyaris tidak sanggup. Nyeri di perutmu terlalu menyiksa. Terasa seperti ada yang koyak dari dalam tubuhmu. Kamu menjerit pelan, tanganmu refleks menekan perut.

“Ahh - !” tubuhmu melengkung, lututmu terangkat, dan napasmu mencabik dada seperti habis dikeroyok dari dalam.

Caleb langsung mengabaikan penolakanmu. Ia menyelipkan tangannya di bawah tubuhmu, mencoba mengangkatmu. Tapi kamu kembali berontak, meskipun tubuhmu jelas melemah.

“Don't touch me, Caleb!”

“DO YOU WANT OUR BABY TO DIE, HUH?!” Dan untuk pertama kalinya, suara Caleb pecah. Matanya memerah, suaranya melengking tajam dalam keputusasaan.

Kamu terdiam. Kata-katanya menghantam tepat di dadamu. Mulutmu gemetar, tapi tidak ada suara keluar selain erangan tertahan karena rasa sakit yang kini menjalar hingga ke pinggang dan punggungmu. Kamu hanya bisa memejamkan mata dengan napas tersengal, pasrah saat Caleb akhirnya mengangkatmu dalam gendongannya.

Langkahnya terburu. Terbata. Panik.

“Hang on, Pips. Please… don't leave me,” gumamnya sambil terus memelukmu erat, darah dari tubuhmu mulai menodai kausnya. Tapi ia tidak peduli.

Air matanya jatuh di atas dahimu. Kamu bisa merasakannya meski matamu kabur oleh nyeri dan isak tertahan.

Lantai tempat kalian berpijak kini berceceran merah. Caleb menggenggam erat tubuhmu yang gemetar, membawamu keluar menuju mobil sambil mengutuk dirinya sendiri.

Dan pagi itu, di tengah suasana mendung yang gelap dan hujan yang turun deras, seorang pria yang nyaris kehilangan segalanya melaju kencang membawa wanita yang ia sakiti, dan anak yang ia takutkan takkan pernah sempat ia dekap.


Suara klakson mobil menggema lemah di kejauhan, namun tidak mampu menyaingi debar jantung Caleb yang berdentum keras di dalam dadanya. Kedua tangannya mencengkeram setir dengan erat, sementara satu tangannya yang lain terus menggenggam punggung tanganmu yang dingin dan semakin lemas.

“Hey… keep your eyes open, Pips. Hear me, stay with me,” ucapnya panik, suara seraknya bergetar oleh ketakutan. “Please, Pips… hang in there. We're almost there.”

Matanya terus melirikmu setiap beberapa detik sekali, seolah takut kehilangan setiap tarikan napasmu. Ia kembali mengecup punggung tanganmu, berulang kali, seakan ciuman itu bisa menyalurkan hidup, bisa membangkitkanmu dari keadaan yang mengkhawatirkan ini.

Kamu hanya bisa menoleh lemah, matamu yang sayu berusaha menatapnya meski sudah nyaris tidak berfokus. Napasmu pendek dan berat, seolah udara tidak lagi cukup untuk paru-parumu yang mulai menyerah. Pandanganmu mengabur, tubuhmu kehilangan kekuatan sedikit demi sedikit. Wajahmu pucat pasi. Bibirmu membiru.

Caleb hampir menerobos lampu merah. Tangannya bergetar saat menggoyang tubuhmu pelan. “Hold on… please… I can't do this if you leave. Don't do this to me…”

Suasana di dalam mobil seperti perang sunyi antara ketakutan dan penyesalan. Udara yang sesak, bunyi klakson yang berlalu, dan jeritan batin Caleb yang hanya bisa terdengar oleh Tuhan.

Begitu sampai di depan IGD, Caleb menghentikan mobil secara kasar. Ia segera keluar, berlari ke sisi penumpang, mengangkat tubuhmu dengan canggung namun penuh kepanikan.

“HELP! SHE'S BLEEDING! SOMEBODY, PLEASE – !” teriaknya dengan suara yang nyaris pecah.

Beberapa perawat langsung menghampiri, mendorong ranjang darurat dan membawamu masuk. Caleb nyaris tersungkur saat mencoba mengikuti, namun pintu ruang penanganan cepat tertutup di depan matanya.

Sementara itu, di lantai dua rumah sakit, Zayne sedang duduk sendirian di ruang istirahat dokter. Sisa makanan di piringnya masih utuh, belum sempat disentuh karena pikirannya masih tertinggal di ruang operasi sebelumnya.

Tiba-tiba, suara pengumuman menggema dari pengeras suara di dinding. *“Code Red! Twenty-six-year-old female, massive active bleed. Get her to the ER, now!” “Patient name: [your name]!”

Sendok di tangannya jatuh ke lantai. Napasnya tercekat.

Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. Ia berdiri dengan terburu-buru, kursi di belakangnya sampai terjatuh karena terguling oleh gerakannya yang mendadak. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari, menyambar jas dokternya tanpa memakainya dengan benar.

Tidak. Itu tidak mungkin. Bukan kamu. Bukan namanya yang barusan disebut. Bukan kamu yang sedang pendarahan…

Namun nama itu bergema lagi dalam pikirannya. Berkali-kali. Menghantam sisi rasionalnya hingga hancur.

Zayne berlari seperti orang kesetanan. Melewati lorong-lorong rumah sakit, menerobos antrian pasien, hampir menabrak seorang suster yang membawa kereta obat. Ia tidak peduli. Dunia seolah menyempit, hanya ada satu tujuan, menemukamu. Melihatmu dengan mata kepala sendiri. Dan membuktikan bahwa ini semua hanyalah kesalahan pengumuman semata. Namun ketika ia tiba di depan ruang IGD, langkahnya terhenti. Dunianya ikut runtuh saat pandangannya menangkap sosok Caleb, berdiri kaku di depan pintu, dengan wajah kacau dan penuh kecemasan.

Tapi bukan itu yang membuat napas Zayne seketika terhenti.

Bukan itu yang membuat kakinya lemas.

Melainkan kamu.

Kamu yang terbaring lemah di atas ranjang dorong. Wajahmu pucat. Mata tertutup. Dan darah… darah memenuhi bagian bawah tubuhmu hingga ke lantai.

Zayne merasa dadanya ditusuk ribuan jarum. Pandangannya buram. Suara di sekitarnya memudar. Ia hanya bisa memandangmu - yang tampak seperti kehilangan seluruh sinar kehidupanmu. Dan tubuhnya gemetar saat pikirannya diserbu satu kenyataan paling menakutkan, ia mungkin akan kehilanganmu.

Langkahnya maju satu kali. Tapi tubuhnya tidak bergerak lagi. Jiwanya membeku. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalmu… Zayne merasa benar-benar tidak berdaya.


Koridor rumah sakit terasa begitu sunyi, meski riuh langkah para tenaga medis sesekali menggema, membawa nuansa yang lebih menyerupai medan perang daripada tempat penyembuhan. Caleb berdiri terpaku di depan pintu ruang operasi, tubuhnya seolah kehilangan daya untuk berdiri tegak. Punggungnya bersandar pada dinding dingin yang tidak mampu meredam panas rasa bersalah yang membakar dirinya dari dalam. Kedua tangannya terus-menerus mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi, dan kepalanya tertunduk, seperti ingin mengubur wajahnya dari dunia yang kini terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Matanya terpejam, bukan karena mengantuk, melainkan karena tidak sanggup menatap kenyataan. Di dalam ruangan itu, kamu, wanita yang telah lama mengisi separuh jiwanya, sedang bertarung antara hidup dan mati karena kesalahannya sendiri. Rasa frustasi yang menyesakkan membuat dadanya bergetar, napasnya berat, dan bisikan doa terus meluncur dari bibir yang bergetar hebat.

Langkah kaki yang cepat dan mantap menggema dari ujung lorong, memecah kesunyian yang mencekam. Zayne muncul dalam balutan baju operasi berwarna hijau, wajahnya tegang, sorot matanya tajam, seperti badai yang siap melanda siapa saja yang berada di jalurnya. Ia melangkah lurus, tidak ada sedikit pun keraguan atau kebimbangan dalam geraknya, namun siapa pun yang menatap mata pria itu akan tahu, ada gelombang emosi besar yang tengah ia kendalikan sekuat tenaga.

Saat jaraknya hanya tinggal beberapa meter, Zayne menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada Caleb, tatapan tajam, dingin, namun membakar. Caleb pun mendongak perlahan, menatap Zayne dengan mata merah dan berkaca, seolah memohon agar pria itu menyelamatkanmu. Tidak ada kata yang keluar dari keduanya, hanya percakapan diam penuh tensi yang berlangsung di antara sorot mata mereka.

Zayne tidak mengatakan apa pun, karena ia tahu, tidak ada satu kalimat pun yang cukup untuk menggambarkan amarahnya saat ini. Tapi tatapannya cukup untuk menyampaikan pesan: 'Stay put. Once this is done, you're dead.'

Tanpa sepatah kata, Zayne mengalihkan pandangannya, membuka pintu ruang operasi, dan masuk dengan langkah tegas. Pintu menutup kembali di belakangnya, meninggalkan Caleb yang terkulai di tempatnya, seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah hidup.

Dan di balik pintu yang tertutup itu, suara alat-alat medis, perintah dokter, dan denting logam mulai terdengar, pertanda bahwa pertarungan baru saja dimulai. Sebuah pertarungan demi menyelamatkan dua nyawa yang kini bergantung pada ketenangan dan keahlian seorang pria yang diam-diam menyimpan luka, namun memilih untuk berjuang… demi wanita yang ia cintai.

Udara di ruang operasi terasa berat, penuh tekanan dan aroma khas antiseptik yang menyengat. Lampu sorot operasi menyinari tubuhmu yang terbaring lemah di atas meja bedah, nyaris tidak bergerak selain napas yang tersisa di ujung tipis hidupmu. Monitor di samping tempat tidur menampilkan grafik detak jantung dan tekanan darah yang mulai menunjukkan fluktuasi mencemaskan.

Zayne berdiri di sisi kiri tubuhmu, wajahnya tersembunyi di balik masker, namun sorot matanya memancarkan ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Tangan-tangannya dibalut sarung tangan steril, gemetar tipis namun tetap bergerak cepat dan terukur. Ia memimpin prosedur dengan presisi tajam, seolah berusaha membekukan segala rasa panik yang bergejolak dalam dirinya.

“Scalpel,” ucapnya tegas, dan seorang perawat segera menyodorkan alat bedah ke tangannya.

Dengan gerakan mantap, ia mulai membuat irisan di bagian bawah perutmu, membuka lapisan demi lapisan dengan kehati-hatian luar biasa. Di sekelilingnya, suara-suara instruksi terdengar, cepat, tenang, namun penuh kewaspadaan. Asisten bedah menyesuaikan lampu, perawat mengelap keringat di pelipis Zayne, dan monitor terus berdengung, mengingatkan bahwa waktu tidak berpihak pada mereka.

Zayne menarik napas panjang ketika tangannya akhirnya mencapai rahimmu. “Retractor,” pintanya.

Alat penyangga diletakkan untuk memperlebar bukaan operasi, dan dengan satu gerakan hati-hati, ia menyelipkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh mungil yang masih merah dan basah dari dalam rahimmu.

“The baby's coming out!” seru seorang dokter anak yang bersiaga, menyambut sang bayi dengan kain hangat.

Tangisan pertama bayi itu memecah udara yang sebelumnya pekat. Suara itu seperti sinar mentari yang menembus awan badai, menggetarkan seluruh ruang operasi. Zayne membeku sejenak, bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum lega, senyum yang singkat, sebab detik berikutnya, kenyataan kembali menghantam.

“Doctor Zayne!” seru dokter anestesi dengan suara mendesak. “Patient's heartbeat is fading! Blood pressure is dropping fast, we need blood, now!”

Senyum Zayne lenyap dalam sekejap. Matanya melebar, dan untuk sesaat ia hanya bisa menatap monitor yang menunjukkan angka-angka menurun secara mengkhawatirkan.

“Shit,” gumamnya lirih.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik. “Dr. Mira, take over!” perintahnya pada salah satu kolega.

Seorang dokter wanita segera melangkah maju, menggantikan posisi Zayne yang sudah melepaskan sarung tangannya dan menarik lengan baju scrubnya hingga siku. “Get the transfusion kit. Her blood type matches mine.”

“Doctor Zayne, are you sure?” tanya salah satu perawat, terkejut.

“Just do it!” sahutnya tajam, sebelum duduk di kursi transfusi yang didorongkan ke sudut ruangan.

Perawat segera menyiapkan jarum dan selang infus, menancapkannya ke lengan Zayne. Darah merah tua mulai mengalir perlahan dari tubuhnya, masuk ke kantong steril yang disiapkan khusus untukmu. Di seberang ruangan, tubuhmu masih tergeletak dengan selimut operasi menutupi separuh dada. Napasmu tampak begitu lemah, nyaris tidak ada gerakan. Dari kursinya, Zayne tidak mengalihkan pandangan darimu. Matanya menatap nanar, mengabaikan rasa nyeri di lengannya dan lelah yang mulai menggerogoti. Dalam diam, ia menggenggam kain di pangkuannya erat, seolah menggenggam harapan.

'God… Please…' bisiknya dalam hati. 'Use my blood, use everything I have, just don't take her. Don't take away the only soul who's ever kept me alive.'

Jarum masih tertancap, darahnya masih mengalir. Namun waktu seakan berhenti, sebab baginya, selama kamu belum membuka mata, dunia belum kembali berputar.

Detak waktu seakan melambat saat Zayne kembali ke sisi meja operasi, mengenakan kembali sarung tangannya yang sedikit bergetar. Dahinya masih dipenuhi keringat, namun bukan hanya karena tekanan kerja, melainkan karena ketakutan yang perlahan mencengkeram jiwanya. Ia mengalihkan pandangan sejenak pada monitor di sampingmu, berharap ada perubahan positif.

Namun harapannya buyar saat garis lurus memanjang di layar monitor vital jantungmu, sebuah pertanda bahwa jantungmu telah berhenti berdetak.

“Her blood pressure is dropping rapidly.” seru perawat di sisi kanan. “The patient is in asystole.”

Pupus sudah secercah ketenangan yang sempat hadir setelah bayimu berhasil lahir dengan selamat. Zayne sontak menghentakkan langkahnya ke monitor, menatapnya dengan mata membelalak, napasnya tercekat.

“Get me the defibrillator, hurry!” teriaknya, menggema di seluruh ruang operasi.

Dalam hitungan detik, alat kejut jantung diserahkan padanya. Zayne menggenggamnya erat, mengatupkan rahangnya dengan keras saat menatap tubuhmu yang lemah dan tidak bergerak.

“Clear!” serunya, lalu meletakkan bantalan ke dadamu dan melepaskan aliran listrik. Tubuhmu melonjak ke atas, namun monitor tetap menunjukkan garis yang menakutkan itu.

Sekali lagi. “Clear!” serunya lebih lantang. Tubuhmu kembali terangkat, namun tetap tidak ada perubahan.

“Clear!” untuk ketiga kalinya, dengan nada yang lebih putus asa. Tapi tetap… tidak ada denyut. Tidak ada kehidupan.

Zayne menatap monitor itu dengan wajah yang hancur. “No… no, no, no…” gumamnya lirih, seperti sedang memohon pada semesta.

Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan diri ke atas tubuhmu dan mulai memberikan CPR. Kedua tangannya bertumpu pada dadamu, menekan dengan ritme yang tepat meskipun tangannya sudah gemetar.

“Come on… come on, please… Breathe, love. Please, breathe…” ucapnya sambil mengatur napas, suaranya bergetar, terdengar sangat rapuh untuk seorang ahli bedah.

Isaknya mulai terdengar di sela-sela tekanan CPR yang ia berikan. Air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi masker yang kini mulai terasa sesak.

“Please, God… Please don't take her… Please…”

Tapi garis di monitor tetap lurus. Tidak bergerak. Waktu terus berlalu, dan seluruh ruangan terasa seperti membeku dalam tragedi.

“Doctor Zayne…”

Suara lirih dari Dr. Mila memanggilnya, memecah keheningan menyakitkan itu.

Zayne tidak menggubris. “No! She can still make it. She's strong. I know she's strong!”

“Doctor Zayne… it's been fifteen minutes…” suara Dr. Mila terdengar nyaris seperti bisikan maut, sunyi namun menghantam bagai palu godam.

Tangan Zayne yang terus menekan dadamu akhirnya melemah. Bahunya berguncang, dan matanya memandangi wajahmu yang pucat, bibirmu yang membiru, dan kulitmu yang telah kehilangan kehangatan. Seolah seluruh cahaya dalam dirimu telah padam.

“No…” bisiknya lirih, menahan isakan yang semakin sulit diredam. “Please, open your eyes… stay with me, love, please!”

Perawat perlahan menariknya menjauh, namun Zayne tetap berlutut di sisi ranjang operasi. Jubah medisnya sudah basah oleh darah dan keringat, namun ia tidak peduli. Tubuhnya gemetar, bukan karena kelelahan fisik, tetapi karena tubuhnya menolak menerima kenyataan. Dengan tangan gemetar, ia kembali meraih tanganmu. Jemarimu tidak lagi hangat, dan Zayne tahu… ia tahu, tapi tetap saja ia memaksakan diri menggenggamnya, seolah bisa menyalurkan kembali kehidupan ke dalam tubuhmu yang telah hampa.

Matanya tidak berkedip. Tidak sekalipun. Seperti seorang pria yang baru saja kehilangan arah dalam hidup, ia memandangi wajahmu yang damai, terlalu damai, dengan ekspresi yang tidak pernah ia harapkan untuk lihat di bawah lampu ruang operasi.

Tapi kamu tetap diam. Kamu telah pergi.

Tubuhnya bergeser. Perlahan, ia berdiri dan duduk di sisimu. Lalu, tanpa suara, ia menarik tubuhmu ke pelukannya. Lengan dan dada yang biasanya begitu mantap saat menyelamatkan nyawa kini hanya tempat bagi luka untuk menetap.

Dan saat tubuhmu mendarat di pelukannya, rasa sakit itu menyerangnya tanpa peringatan.

Bukan sakit yang bisa diredakan dengan anestesi. Bukan luka yang bisa dijahit atau dijahit kembali. Tapi jenis nyeri yang menghancurkan dari dalam, menusuk seperti ribuan pecahan kaca yang tertanam dalam dada, tajam, dingin, dan tidak tertanggungkan.

Ia memelukmu erat, lebih erat dari yang pernah ia lakukan, seolah ia bisa menahan jiwamu yang menghilang dari tubuh itu. Bahumu yang dulu hangat kini membeku, dan pada titik itulah Zayne hancur. Isakannya pecah di sana. Tangis yang tidak meledak, tetapi justru mengguncang paling dalam, sunyi, putus asa, dan menghancurkan.

Rasanya seperti seluruh isi tubuhnya dikuras paksa. Ada lubang besar yang tercipta di dadanya, menganga tanpa bentuk. Dan yang paling menyesakkan, ialah kesadaran bahwa ia, yang selalu berhasil menyelamatkan hidup orang lain, gagal… untuk pertama kalinya. Dan yang ia gagal selamatkan… adalah kamu.

Ia menggigit bibirnya, begitu keras hingga rasa besi darah memenuhi mulutnya. Tapi rasa itu tidak ada artinya dibandingkan rasa bersalah yang menusuk hingga ke tulang. Ia harusnya bisa melakukan lebih. Ia harusnya bisa… tahu lebih awal. Harusnya tidak terlalu percaya diri. Harusnya tidak telat. Harusnya… ia tidak membiarkanmu mati.

“It's my fault,” bisiknya, lirih, tak terdengar siapa pun kecuali dirinya sendiri. “It's all because of me… I should've protected you…”

Beberapa perawat menundukkan kepala, memberikan ruang untuk duka yang terlalu agung untuk diusik. Mereka tahu, di dalam ruangan ini, tidak ada dokter. Tidak ada perintah. Hanya ada seorang pria yang kehilangan cinta dalam hidupnya.

Masih memeluk tubuhmu erat, dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti gumaman pada luka yang menganga di dada, Zayne berbisik,

“At twelve forty-seven p.m… on July nineteenth… you died in my hands.”

Dan saat ia mengucapkan kalimat itu, sesuatu dalam dirinya pecah. Perlahan, ia membenamkan wajahnya ke lehermu, mencium kulitmu yang mulai kehilangan warna, seolah masih berharap keajaiban datang dari desah terakhir napasmu yang tidak pernah muncul.

Tangisnya kini tidak bisa dibendung. Napasnya patah-patah, seakan dadanya dihantam ribuan kali. Ia mengguncang tubuhmu pelan, bukan untuk membangunkan, tetapi karena ia tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani dunia tanpamu.

Dunia yang seketika menjadi hampa. Dingin. Tidak bernyawa. Sama sepertimu… yang kini hanya tinggal nama dan kenangan di dadanya. Dan di antara tangis yang pecah, luka yang menganga, dan tubuh yang lemas oleh kehilangan, Zayne sadar… tidak ada ilmu medis, tidak ada teknik penyelamatan, tidak ada mukjizat yang bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran ini.

Karena hari ini, Zayne tidak hanya kehilanganmu.

Ia kehilangan seluruh dunianya.


Pintu ruang operasi akhirnya terbuka perlahan, menimbulkan derit kecil yang nyaris tidak terdengar namun menggema begitu tajam di lorong panjang rumah sakit yang sunyi. Caleb sontak berdiri dari kursi tunggu dengan langkah cepat, tubuhnya tegang, wajahnya pucat, dan napasnya tidak beraturan. Jarinya terkepal, kukunya hampir mencakar kulit telapak tangannya sendiri. Ia telah duduk di sana selama berjam-jam, menanti kabar tentang keselamatanmu, kabar yang tidak kunjung datang.

Zayne keluar lebih dulu. Wajahnya basah oleh peluh dan air mata, jas operasinya berlumur noda darah yang belum sempat dibersihkan. Matanya merah, berkabut, dan tatapannya tajam sekaligus hampa. Caleb segera melangkah maju, hendak bertanya, namun belum sempat sepatah kata pun keluar dari mulutnya, tinju Zayne melayang lurus menghantam rahangnya dengan keras.

Caleb terhuyung, terjatuh ke lantai dengan napas tercekat. Namun belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, Zayne telah menarik kerah kausnya kasar dan mendorong tubuh kekarnya menabrak dinding. Suara benturan terdengar nyaring, mengguncang kesunyian lorong malam itu.

“What the hell did you do to her?!” bentak Zayne, matanya nyalang, penuh amarah dan luka yang tidak bisa disembuhkan.

Caleb terperanjat. Matanya membelalak, napasnya tersengal karena benturan dan tekanan emosi yang tiba-tiba. “I… I'm sorry…” jawabnya tergagap, suaranya pecah di tengah keterkejutan dan ketakutan.

“SHE'S DEAD!!!” pekiknya, keras, retak, seperti dada yang hancur karena kesedihan tidak tertahankan.

Caleb terdiam. Kata-kata itu menghantamnya jauh lebih keras dari pukulan manapun. Tubuhnya kaku. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara keluar. Hanya napasnya yang tertahan, seolah paru-parunya menolak bekerja. Ia menatap Zayne dengan mata membelalak tidak percaya.

“What…?” bisiknya, suaranya lebih seperti serpihan luka daripada kalimat utuh. “No… no, you're lying. Tell me this isn't true…”

Zayne mencengkeram kaus Caleb lebih erat, namun kali ini tangannya gemetar. Napasnya memburu, seolah habis oleh amarah dan duka yang bertabrakan di dalam dadanya.

“You're the one who killed her,” gumam Zayne lirih, hampir seperti bisikan pada nisan yang tidak kasat mata.

Caleb tidak mampu menahan dirinya lebih lama. Lututnya lemas, tubuhnya limbung. Saat Zayne akhirnya mendorongnya menjauh dengan tenaga sisa, Caleb terjatuh duduk di lantai dingin rumah sakit. Tangannya menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Isakannya pecah tanpa peringatan, keras, memilukan, dan seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.

“No, Zayne… please, tell me she's still here…” Caleb berulang-ulang menggumam, memeluk dirinya sendiri, mengguncang tubuhnya seolah mencoba bangun dari mimpi buruk.

Zayne masih berdiri di tempatnya. Tubuhnya kaku, seolah tertambat pada lantai yang dingin, sementara pandangannya kosong menembus dinding putih di hadapannya. Tidak ada lagi air mata yang jatuh dari matanya, semuanya telah habis, terkuras saat ia memeluk tubuhmu yang tidak lagi bernyawa beberapa jam lalu. Tubuh yang dulu hangat, kini telah dingin dalam dekapnya yang sia-sia.

“I protected her. I made her feel at peace. I let her go because she chose you. I gave you that trust. And now, Caleb… she's dead. She never even got to see the child she imagined every single night.”

Keheningan menyelimuti lorong rumah sakit dengan ketegangan yang tidak terucapkan. Tidak satu pun dokter maupun perawat yang berani mendekat. Mereka memilih diam, memahami bahwa duka yang sedang bergulir di antara dua lelaki itu bukan sesuatu yang bisa mereka sentuh atau selesaikan. Ada luka yang terlalu dalam untuk diberi kata-kata, ada kehilangan yang terlalu pekat untuk dihibur.

Dua pria berdiri dalam kehancuran yang berbeda, satu terdiam dalam kemarahan dan kehilangan, satu lagi terpuruk dalam penyesalan dan rasa bersalah. Keduanya mencintaimu dengan cara yang tidak sama, dan kini keduanya sama-sama kehilanganmu, dengan cara yang juga berbeda.

Dan di antara kesunyian yang menggantung kaku di udara, hanya satu kebenaran yang tidak terbantahkan, kamu telah pergi. Dan tidak seorang pun, tidak Caleb, tidak juga Zayne, yang sungguh-sungguh siap untuk kepergianmu.


Enam tahun telah berlalu.

Langit siang itu bersih, dengan semburat awan tipis yang melayang tenang, seolah alam pun sedang tidak terburu-buru. Di dalam mobil yang melaju stabil menyusuri jalanan kota, suara musik dari radio terdengar ringan dan santai, mengiringi momen sederhana yang penuh makna.

Zayne duduk di balik kemudi dengan satu tangan di setir, satu lagi bertumpu santai di jendela yang terbuka sebagian. Udara siang menyusup masuk, membawa aroma aspal hangat yang terkena matahari. Di wajahnya tergambar ketenangan, jenis ketenangan yang tidak datang karena luka telah sembuh, tetapi karena ia telah belajar hidup berdampingan dengannya.

Ia menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sebuah sekolah dasar kecil yang dikelilingi taman hijau dan pagar putih. Mesin dimatikan, dan sejenak ia membiarkan dirinya menarik napas panjang sebelum membuka pintu dan melangkah keluar. Kemeja biru langit yang ia kenakan dibiarkan tergulung hingga siku, memberi kesan santai namun tetap rapi. Sepasang sepatu sneakers putih menemani langkahnya saat ia menyandarkan tubuh pada mobil dan menunggu.

Tidak lama kemudian, suara ceria menerobos udara siang itu.

“Uncle papaaa!”

Seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya. Rambutnya dikuncir dua, rok sekolahnya sedikit bergoyang tertiup angin. Wajahnya begitu bersinar, pantulan masa lalu yang tidak mungkin disangkal. Mata itu… senyum itu… sangat mirip dengan milikmu.

Zayne langsung menunduk, berjongkok, dan merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan kecil yang menghambur ke arahnya. Ia merengkuh tubuh mungil itu dengan kehangatan tulus, pelukan yang pernah ia berikan hanya untuk satu perempuan dalam hidupnya, kamu.

“So, how was school today, kiddo?” tanyanya lembut, sambil menyapu anak kecil itu dengan pandangan penuh kasih.

Anak kecil itu, Micah, anakmu, langsung menjawab dengan semangat. Kata-katanya belum sepenuhnya lancar, tapi antusiasmenya tidak terbendung. Ia bercerita tentang teman-temannya, guru yang lucu, dan warna crayon yang baru ia pakai untuk menggambar. Zayne mendengarkan dengan sabar dan penuh minat, bahkan sesekali tertawa kecil saat Micah mulai membelokkan cerita ke arah yang tidak terduga.

Pada akhirnya, ia mengusap kepala anak itu dengan penuh gemas, mengacak rambut halusnya hingga kuncir duanya sedikit miring. “You're getting smarter, Micah,” bisiknya bangga.

Sedikit di belakang mereka, berdiri seorang perempuan muda dengan mata teduh dan senyum lelah, Simone. Ia hanya diam, memperhatikan interaksi yang tidak pernah gagal membuat hatinya mencubit pelan. Enam tahun terakhir, ia tumbuh bersama Zayne dan Micah. Ia menjaga, menemani, dan merawat keduanya dalam keheningan yang penuh dedikasi.

Micah, yang kini telah menjadi bagian dari jiwanya juga.

Nama itu, Micah, bukan sembarang nama. Zayne yang memilihkannya. Nama yang berarti “Who is like God” - nama pendek, hangat, dan punya kekuatan emosional yang dalam. Bisa menyimbolkan keajaiban kecil yang hadir di tengah hubungan yang tidak sempurna antara kamu dan Zayne.

“Thanks, Sim…” ucap Zayne lirih, menoleh sebentar ke arah Simone. “Thanks for keeping Micah company while I was busy at the hospital”

Simone mengangguk pelan. “Your welcome …”

Ada jeda. Keheningan yang seolah menandai sesuatu yang akan berubah. Simone menarik napas perlahan sebelum akhirnya bersuara lagi.

“Zayne…”

Pria itu menoleh, masih dengan satu tangan memeluk Micah yang kini memegang ujung kerah kemejanya sambil bercerita pelan.

Simone menatapnya, lalu melanjutkan, “Can we talk for a sec?”

Suasana mendadak berubah sunyi. Udara terasa sedikit lebih berat, seakan menunggu apa yang akan terucap berikutnya. Zayne mengangguk pelan, lalu memutar tubuhnya sedikit sambil membelai punggung kecil Micah, bersiap menerima pembicaraan yang mungkin akan membuka kembali luka lama, atau justru membuka jalan menuju sesuatu yang baru.


Taman kota siang itu terasa damai, dipenuhi suara burung-burung kecil dan hembusan angin lembut yang menyentuh pucuk-pucuk pepohonan. Langit membentang biru, nyaris tanpa awan. Di sudut taman, Zayne dan Simone duduk bersebelahan di bangku kayu yang menghadap ke lapangan rumput luas. Tepat di depan mereka, Micah tampak berlari-lari kecil sambil meniup gelembung sabun yang melayang ke udara dan pecah satu per satu dalam cahaya matahari.

Tawa Micah menggema ringan, menciptakan ironi yang tidak terlihat, tawa seorang anak yang belum mengenal luka, dibayang-bayangi oleh kisah dua orang dewasa yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Simone menoleh pelan. Dari dalam tas tangannya, ia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi dan menyerahkannya kepada Zayne.

“I found this between the pages of (your name)'s diary,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh angin. “I'm sorry… I read part of it. But the rest… I believe it was written for you.”

Zayne menatap kertas itu tanpa suara. Jemarinya meraihnya dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh, yang masih menyimpan jejak terakhir seseorang yang amat ia cintai.

“Just read it later, okay?” tambah Simone cepat, nadanya sedikit cemas. “Not here… not in front of Micah.”

Zayne mengangguk pelan, lalu melipat kembali kertas itu dan menyelipkannya ke saku celananya. Ia menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepala sejenak, lalu kembali memandangi Micah yang kini tertawa saat gelembung-gelembung sabunnya mengejar angin.

“She's growing so fast,” gumam Simone, suaranya mengandung kekaguman sekaligus haru. “I still remember when she couldn't sit up by herself… now she talks, asks questions, even copies how (your name) laughs.”

Zayne tersenyum kecil, tetapi ada getir di balik senyumnya. “She's the only reason I'm still here.”

Simone mengangguk, lalu berkata perlahan, “If only she were still alive… I'm sure she'd be happy. With Micah. With you.”

Zayne menoleh ke arah Simone. Tidak ada kata yang diucapkan, tapi sorot matanya cukup menjelaskan betapa dalam luka yang masih menganga di dadanya.

“She truly loves you, Zayne,” ujar Simone, tanpa ragu. “I knew, even before she did.”

Zayne tidak langsung menjawab. Hanya diam, membiarkan ucapan Simone mengendap di dada. Angin siang menyapu rambutnya pelan, menyapu sisa-sisa kesedihan yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tetap memandangi Micah, anak itu tertawa, berlari, lalu jatuh dan bangkit lagi, seolah hidup ini tidak pernah menyakitkan.

Dan untuk sesaat, Zayne berpikir… mungkinkah kamu melihatnya dari sana? Dari tempat yang tidak bisa dijangkau oleh dunia ini?

Ia menunduk. Napasnya berat, menahan sesuatu yang terlalu tajam untuk diungkapkan. “I loved her quietly, Simone. Even when she chose someone else. Even when I had to pretend to be strong, pretend I was fine. When deep down, every time she said my name, I had to fight the urge to hold her and whisper… come home.”

Ia menggeleng pelan, menahan getir yang kembali merayap di tenggorokannya. “I was there when she cried. I was there when she was too tired to speak. But I was also the one who stepped back, because I thought… maybe she'd be happier without me.”

Zayne mengangkat pandangannya ke langit yang teduh, seolah mencari sesuatu di antara awan-awan yang melayang. “But no one was there for her when I left. And the hardest part is… I loved her enough to forgive it all, even her death.”

Ia menutup mata sejenak. Sekali lagi mengukir bayanganmu dalam pikirannya, cara kamu tertawa, cara kamu memanggil namanya, cara kamu selalu membuat segalanya terasa baik-baik saja.

Lalu dengan suara lirih, ia menambahkan, “If I could choose, I'd trade all this pain for just one more day with her. Just one day… to make sure she knows she was loved. Truly loved. Loved until the very end, even after she was gone.”

Di sampingnya, Simone tidak berkata apa-apa. Ia tahu, luka yang seperti itu tidak butuh jawaban. Hanya butuh seseorang untuk duduk bersama, dan membiarkannya tetap hidup dalam kenangan yang tak akan pernah benar-benar mati.

Beberapa detik berlalu sebelum Simone kembali bersuara, kali ini dengan nada hati-hati.

“By the way… about Caleb.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Any news from him?”

Zayne terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, “He's out tomorrow.”

Simone menoleh cepat. “Ohh… Really?”

Sehari setelah kabar kepergianmu mengudara, Caleb mendatangi kantor polisi dengan langkah yang tenang namun berat. Tanpa perlawanan, tanpa banyak kata, ia menyerahkan diri. Di hadapan para penyidik, ia mengakui telah menyebabkan kematian wanita yang paling ia cintai. Sebuah pengakuan yang tidak pernah diminta oleh siapa pun, namun ia ucapkan dengan penuh kesadaran, karena di dalam dirinya, rasa bersalah telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kejam dari hukuman manapun yang bisa dijatuhkan manusia.

Padahal semua orang tahu, bukan dia penyebabnya. Tapi terkadang, rasa kehilangan membuat manusia ingin disalahkan. Ingin dihukum. Ingin menebus sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ditebus.

Zayne tahu itu. Namun saat itu, ia terlalu hancur untuk menghentikan Caleb. Terlalu sibuk menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh. Ia hanya bisa menyaksikan dari jauh, membiarkan pria itu mengambil beban yang tidak sepenuhnya miliknya, dan membawanya pergi ke balik jeruji besi dengan kepala tertunduk, membawa luka yang tidak terucap.

Zayne masih diam. Dalam hatinya, perasaan bercampur aduk antara syukur dan kehilangan terus tumbuh tanpa kendali. Ia masih berharap Micah bisa mengenal Caleb lebih dekat, mengenal pria yang telah memberikan darah dagingnya. Namun setelah menerima kabar kematianmu, Caleb memilih menjauh, menghilangkan dirinya dari dunia ini dengan cara yang berbeda, dengan menghukum diri sendiri.

Dan sebelum pergi, Caleb hanya meninggalkan satu pesan. Bahwa Micah harus dijaga oleh Zayne. Karena hanya Zayne yang tahu cara mencintai anak itu tanpa syarat. Sama seperti dulu ia mencintai ibunya, dalam senyap, dalam keteguhan, dalam kesetiaan yang tidak pernah diminta balasan.

Angin bertiup pelan, membawa serta suara tawa Micah dan hembusan sabun yang mengilap diterpa matahari. Dunia seolah berjalan seperti biasa. Tapi di saku kemeja Zayne, ada sepucuk pesan yang menanti untuk dibaca, sebuah surat terakhir darimu. Dan dalam dada Zayne, nama dan kenanganmu akan selalu tinggal. Bersama satu tanggal dan waktu yang tidak akan pernah ia lupakan. Hari di mana hatinya kehilangan sebagian dari dirinya, selamanya.


Matahari sore menurunkan cahayanya perlahan, menumpahkan warna keemasan di atas pemakaman kecil di pinggir kota. Jalan setapak berkerikil terdengar pelan di bawah sepatu Zayne saat ia berjalan menyusuri barisan nisan marmer, sebuah buket mawar putih dan lavender tergenggam di tangannya. Angin berembus tenang, membawa aroma tanah lembap dan serpihan kelopak mawar kering yang ia taburkan setiap pekan, seolah menyiapkan selimut lembut untukmu di kedalaman sana.

Ia berhenti di hadapan sebuah batu nisan bergurat namamu. Batu itu bersih, diapit pot-pot bunga lisianthus ungu muda yang baru diganti kemarin. Di sekelilingnya, kelopak mawar merah muda bertebaran, membentuk lingkaran senyap yang seakan berkata, di sini kamu terlelap, dicintai selamanya. Zayne menekuk lutut, menaruh buket baru di atas tanah yang dirawat rapi. Ia menarik napas panjang, napas yang selalu terasa berat tiap kali datang ke sini, lalu bersuara, lirih namun jelas.

“Hey…,” ucapnya, jemarinya menelusuri pahatan namamu di marmer, bak menyapa kulit yang tak lagi bisa disentuh. “I hope the weather where you are is just as warm as it is here.”

Sunyi menjawab, tapi Zayne sudah terbiasa berbicara pada hening, ia tahu, diam pun dapat bercerita.

“I'm a bit late today,” lanjutnya pelan. “I had to pick Micah up from school. She's in first grade now, and God, she's growing so fast. Her hair, her laugh, the tiniest ways she moves… they're all echoes of you. And sometimes, when she's running, laughing, I swear I can almost see you there beside her, holding her hand, laughing with her. Almost.” Suaranya retak di ujung kata.

Ia duduk bersila di tanah rumput, menunduk sekilas untuk menenangkan gemuruh di dadanya. “Micah drew something at school today. Three people holding balloons, herself in the middle, me on one side, and you on the other. She said your balloon was the highest, because 'Mama is flying closest to the sky.'” Zayne tersenyum kecil, senyum yang bertemu air mata samar di pelupuknya. “I didn't know whether to laugh or cry. So I just did both.”

Angin sore bergeser, mengibaskan ujung kemejanya. Kelopak-kelopak mawar jatuh perlahan, seperti hujan lembut. Zayne menatapnya sebelum melanjutkan.

“I tried to be both a father and a mother to you. It's not easy, but maybe it's the only way to make up for the broken promise I failed to keep, to stand by you until you grow old.” Ia menghela napas lagi, lebih dalam. “Simone is still by my side. She reminds me that grief doesn't always need to leave, sometimes, you just have to let it walk with you.”

Hening singkat kembali turun. Zayne menunduk, jemarinya menggenggam tanah di tepi nisan seolah menggenggam tanganmu di balik bumi. Suara berikutnya nyaris berbisik.

“Sometimes, I still find myself dreaming,” katanya, lirih. “In my dreams, I hold your hand in the operating room, hear your heartbeat return, see you smile like the first time we met. Then I wake… and the room feels too big, too quiet.” Ia menutup mata, membiarkan pedih itu lewat perlahan. “But seeing Micah wake up with eyes just like yours… it feels like a part of you is still here.”

Zayne tegak kembali, duduk bersila lebih tegap. “Tomorrow, Caleb walks free,” katanya, nadanya landai tapi padat perasaan. “I'll talk to him. Micah deserves to know his true father… no matter how much it tears at my heart.”

Ia menarik napas panjang terakhir, lalu memandang nisanmu sambil tersenyum redup, senyum yang memuat rindu, cinta, dan pengampunan sekaligus.

“I'll be back to see you next week,” bisiknya, menata beberapa kelopak mawar yang tertiup angin ke posisi semula. “Until then… sleep peacefully. We're holding on, but not a day passes without missing you.”

Ia bangkit perlahan, menepuk-nepuk tanah dari lutut celananya. Sebelum berbalik, Zayne meletakkan telapak tangannya sebentar di atas nisan, sebuah pamit sunyi. Di atas bukit kecil itu, angin kembali berembus, mengangkat kelopak mawar hingga menari di udara keemasan, menjinggakan langit senja, dan mengiringi langkah Zayne menjauh, pulang bersama rindu yang akan terus ia rawat sepanjang hidup.


Mobil itu terparkir tenang di bawah langit kelabu yang mulai menangis perlahan. Hujan rintik-rintik membasahi kaca depan, menimbulkan suara halus seperti bisikan kenangan yang enggan pergi. Di dalamnya, Zayne duduk diam di balik kemudi, tubuhnya tertahan seolah dunia mendadak berhenti berputar.

Tangannya merogoh ke dalam saku kemeja, dan dari sana ia mengeluarkan secarik kertas yang telah ia simpan dengan hati-hati. Lipatannya masih rapi, meski sedikit lembap oleh kelembaban udara sore itu. Helaan napasnya dalam, matanya memejam sesaat sebelum ia membukanya. Kertas itu bergetar di jemarinya, entah karena tangan yang menggigil, atau karena hati yang sudah terlalu lama menahan luka.

Tulis tanganmu terpampang jelas di atasnya, dengan jejak pena yang tampak tergesa namun penuh perasaan. Ia mulai membaca.

For the naggy Dr. Zayne

If this letter ever reaches your hands, maybe it's just the universe's way of making a bitter joke.

I don't know how to write about something that feels this heavy. But ever since that night, the night two red lines showed up on that little stick, so small yet so full of responsibility. I knew my life would never be the same again.

My hands were shaking. Simone was the first to know, but you… you were the one I searched for. I didn't know if you'd be angry, confused, or walk away, but I still looked for you. Because only you could make me feel safe. Even before I knew my own heart, you were my safe place.

I never knew when my feelings started to change, but maybe it began when I found that old book you'd hidden in the drawer, filled with everything I'd need for this pregnancy. Healthy food lists, tips for nausea, even music for the baby. You never told me about it, but you wrote it all down. That's when I realized… you weren't just someone who cared. You were quietly becoming my definition of home.

Zayne, I can't say when these feelings began to bloom. But your unspoken care, your steady presence, and the way your eyes quietly protected me without asking for anything in return… they all made me fall in love. Quietly. Fearfully. In the fleeting time we had, and amidst the hopes we never dared to speak aloud. I loved you when you didn't know. I loved you, even when I was too afraid to name it love.

And this child… she may not be yours. But if you ever meet her, you'll understand, I just want her to grow up in the same love you once gave me. Not because of blood, not because you have to, but because your gentle heart is the best place I've ever known. I want her to know that. I want her to feel what it's like to be loved quietly, silently, yet always.

I wrote this before she was born. Because part of me fears I won't have the chance to tell you everything. To show you that I love you not because of what happened, but because your presence has saved me, time and again. If one day I can't stay by her side, look after her for me. And if there's still a place for me in your heart, don't let guilt break it. Because no matter what, you were the last home I ever had.

Thank you for staying. Even when I couldn't find the words to ask you to.

– your gremlin.

Zayne tidak mampu menahan gemuruh di dadanya. Matanya memanas, kabur oleh air mata yang sejak tadi ia tahan, seolah surat itu membuka pintu luka yang belum benar-benar sembuh. Dadanya sesak, bukan karena kalimat-kalimat itu terlalu menyakitkan, tapi karena cinta di dalamnya begitu nyata, begitu dalam, dan begitu… terlambat.

Zayne menggenggam erat kemudi, jemarinya mencengkeram seolah-olah jika ia melepaskannya, semua yang ia tahan akan runtuh bersama dunia yang tidak lagi sama. Kepalanya tertunduk, bahunya sedikit bergetar. Air mata jatuh perlahan di antara helaan napas yang berat, mengguratkan luka yang tidak bisa dijahit waktu. Tangisannya tidak nyaring, namun ada beban yang jelas di sana, seperti dada yang mendadak kosong dan hati yang tersisa setengah, karena separuh lainnya telah terkubur bersama nama yang tidak lagi bisa ia panggil.

Ia menutup matanya, membiarkan ingatan terakhir tentangmu melintas sekali lagi: senyummu yang lembut, suaramu yang penuh tawa kecil, dan tanganmu yang dulu begitu yakin menggenggam masa depan bersamanya, walau tidak kamu ucapkan.

Hujan mengguyur atap mobil, mengiringi keheningan yang tidak bisa disangkal. Namun di tengah isak langit dan remuknya jiwa, ada satu hal yang tetap tinggal di dadanya, sebuah cinta yang mungkin tidak sempat selesai, tapi tidak pernah gagal tumbuh.

Dan saat mobil itu akhirnya melaju perlahan meninggalkan tempat peristirahatanmu, Zayne tahu… tidak ada hari yang lebih hening dari hari ini. Tapi juga, tidak ada cinta yang lebih utuh dari cinta yang tetap hidup… meski kamu sudah tidak lagi di sini.

E N D. © calsavapple 🍎

FTTH4: He Kissed Me Like a Warning 🔞

Disclaimer: dominan vibes, aggressive kisses, Caleb's drunk & possessive here. Don't read if you're uncomfortable

Suara pintu terbuka pelan. Kamu berdiri di ambang, mendapati pemandangan yang langsung membuat dadamu mengencang. Caleb, dengan langkah gontai dan tubuh nyaris tidak sadarkan diri, tengah dituntun oleh Liam, ajudan kepercayaannya.

Dan Tanpa berkata banyak, kamu hanya melangkah mundur, mempersilahkan Liam untuk membawa tubuh Caleb ke kamar. “Bring him to the room.”

Liam mengangguk patuh, lalu menuntun tubuh Caleb masuk ke kamar dengan hati-hati. Kamu mengikuti di belakang mereka, lalu membantu membuka pintu kamar. Caleb tampak benar-benar lelah, atau mungkin terlampau mabuk hingga kesadarannya tersisa tipis.

Setelah tubuhnya dibaringkan di atas tempat tidur, kamu menoleh dan mengucap terima kasih lirih pada Liam. Ajudan itu hanya tersenyum kecil sebelum pamit, meninggalkan kalian berdua dalam keheningan yang ganjil.

Kamu menunduk, menghela napas panjang, lalu perlahan membuka sepatu dan kaus kaki Caleb. Jas kolonel nya kamu lepas dengan hati-hati, agar ia dapat beristirahat dengan lebih nyaman. Wajahnya tenang dalam tidur, namun rona merah di pipinya menunjukkan sisa efek alkohol yang kuat. Entah berapa banyak yang ia minum malam ini, dan kamu tahu, alasan utamanya hanya satu: foto itu. Foto dirimu dan Zayne yang terlihat terlalu dekat.

Padahal, kenyataannya tidak seperti yang ia lihat. Tidak ada pelukan. Tidak ada yang perlu dicurigai. Hanya sudut pengambilan gambar yang menipu, namun cukup untuk membuat semuanya terlihat berbeda. Caleb tiba-tiba bergerak gelisah. Keningnya berkerut, seperti sedang dihantui mimpi buruk.

“Please… don't… take her away…” gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Khawatir, kamu menyentuh dahinya. Namun, yang terasa justru suhu panas. Ia sedikit demam. Kamu berdiri, hendak mengambil kompres dingin dari lemari, namun tangan Caleb tiba-tiba menggenggam tanganmu erat.

Matamu terbelalak. “Caleb…”

Ia membuka matanya perlahan. Sayu, merah, dan penuh beban. “Don't go…”

“Caleb, I just came to take - ”

Belum sempat kalimatmu selesai, tubuhnya sudah bergerak. Ia bangkit duduk, lalu menarikmu dalam dekapannya, seolah tidak ingin membiarkanmu menjauh barang sedetik.

“I said don't go…” bisiknya parau. “You've done more than enough to make me feel like I'm losing everything. You claimed it was just about helping Zayne talk, but anyone could see it, like a perfect couple.” Pelukannya begitu kuat, dan kamu hanya bisa terdiam. Napasmu berat, kepalamu menunduk rendah.

“It's not what you think. I was just helping him talk to a woman. Don't let a misleading photo make you misunderstand,” ujarmu pelan, mencoba menjelaskan dengan sabar.

Namun Caleb justru semakin mendekap erat, membenamkan wajahnya di lekuk lehermu. Napasnya hangat di kulitmu, dan kehadirannya terasa berat, secara fisik dan emosional.

“I hate seeing you with him. The way you smile at him, the way you look at him… it tears me apart. Makes me feel like I'm only here to hurt you, when all I want is to be the one, the only one who makes you happy.”

Kata-katanya mengguncang. Ada luka di dalam suara seraknya, dan kamu tidak tahu harus merespons apa lagi selain diam.

“Caleb, you're drunk. You need to sleep now.”

Ia mengendurkan pelukannya perlahan, seolah sedang mencari napas yang hilang. Namun sebelum kamu sempat menjauh, matanya menatapmu lekat, dalam dan buram, tapi menyimpan sesuatu yang tidak dapat kamu tebak. Tidak ada jeda, tidak ada aba-aba. Dalam sekejap, ia mendekatkan wajahnya dan menekan bibirnya ke bibirmu. Kamu sempat terkejut. Ciuman itu berbeda. Tidak selembut biasanya, tidak menyentuh dengan kasih atau kerinduan. Yang terasa hanyalah kekalutan. Bibirnya menindih bibirmu dengan paksa, seolah ingin melampiaskan segala amarah dan ketakutannya dalam satu sentuhan yang terburu-buru.

“Caleb!” desakmu pelan, mendorong dadanya, berharap ia sadar.

Namun ia tidak bergeming. “Shut up!” bisiknya dengan suara serak yang berat dan tercekat. “This… is the price you pay for destroying my trust, Pips.”

Belum sempat kamu mengeluarkan satu kata pun, bibirmu kembali ditangkap olehnya. Kali ini lebih keras, lebih dalam, tanpa jeda dan tanpa ampun. Tidak ada kehalusan dalam gerakannya, semuanya berantakan, terburu-buru, dan sepenuhnya dikuasai emosi yang membuncah di dadanya. Bibirnya menindih bibirmu dengan paksa, seolah ingin menghapus jejak siapa pun yang pernah mendekatimu. Kamu meronta, mencoba menjauhkan wajahmu darinya, namun ia menahannya dengan satu tangan yang kokoh di tengkukmu. Sementara lengan lainnya melingkar di punggungmu, menarikmu lebih erat, membuat tubuhmu tidak punya celah untuk menghindar. Kamu seperti terperangkap dalam pelukannya yang menyesakkan, bukan karena kasih, tapi karena ketakutan yang berubah menjadi obsesi.

“Caleb, stop - ” rintihmu disela ciumannya yang mendominasi dan menusuk. Namun seolah ia tuli, ia kembali menciummu tanpa memberimu kesempatan untuk berbicara.

Sentuhannya tidak lagi seperti Caleb yang kamu kenal. Bibirnya bergerak liar, menuntut dan mendesak, bahkan ketika kamu mencoba menarik napas. Lidahnya memaksa masuk, menciptakan pertempuran yang membuatmu kehilangan arah. Kamu berusaha melawan, namun setiap kali kamu menghindar, ia akan semakin mendesak, seolah tidak ingin memberi ruang untukmu menghilang.

“Still sneaking around behind my back, huh?” Tangannya mencengkram rahangmu kencang. Memaksamu untuk menatapnya, hanya menatapnya. Tatapannya yang tajam membuat tubuhmu gemetar takut. Ini bukan Caleb yang kamu kenal. “If you weren't pregnant, I would take you in this bed until you had multiple orgasms, then make you weak and end up losing consciousness, pips. You are mine, only mine!”

Ia kembali meraup bibirmu. Sebuah gigitan yang ia tinggalkan, tajam, tergesa, dan penuh tekanan hingga kamu meringis karena perihnya. Ia tidak hanya menggigit bibirmu, ia juga menariknya, seperti itu terus sampai dirasa bibir kamu bengkak. Rasa nyeri itu seperti teguran, tapi bukan itu yang ia maksud. Ia tidak sadar, tidak benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Yang ia tahu hanyalah kamu membuatnya merasa kalah. Dan ia tidak bisa menerima itu.

Napas kalian bertabrakan di antara desahan kacau yang tidak beraturan. Napasnya berat, sementara napasmu mulai tersengal, tertahan oleh kedekatan yang terlalu memaksa. Bibirmu terasa panas, perih, nyaris bengkak oleh gesekan dan gigitan yang tertinggal. Meski tubuhmu sudah bergetar karena ketegangan dan syok, ia tetap tidak melepasmu.

Pelukannya menguat, seperti ingin memastikan kamu tidak akan pergi lagi. Ia menciummu tanpa ampun, tanpa memedulikan rengekan kecilmu yang memintanya berhenti. Dalam genggamannya, kamu bukan hanya rumahnya, kamu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras. Dan kini, ia merasa kehilangan kendali atas itu.

To be continued… © calsavapple 🍎

Chapter 1: Mantan dua tahun nya.

“Ahhh, ganggu aja lo setan,” gerutu Mahesa yang terlihat kesal saat layar ponsel nya baru saja menampakkan wajah Hisyam yang tengah tersenyum usil.

Pasal nya, lelaki berdarah Kanada itu walaupun terlihat good looking, namun ia tidak bisa menghindari takdirnya bertemu dengan lelaki sejahil Hisyam.

Sedikit cerita, Hisyam sebenarnya anak nya suka jahil, apalagi kalau bersama sahabat plus manager nya itu, hidup Mahesa pasti tidak bisa tenang. Hanya saja karena terhalang status dia sebagai aktor papan atas, dia harus bisa menjaga image di depan banyak orang yang sedang mengagumi sosok Fabian Hisyam Gazali itu. Kadang Hisyam berpikir bahwa semenjak ia memutuskan untuk menjadi aktor, Hisyam tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

“Mana tuh cewek?” Alis Hisyam sedikit berkerut saat menyadari bahwa Mahesa sedang duduk seorang diri.

“Belum dateng. Ini napa jadi lo dah yang demen ketemu nih cewek?”

“Kagak, penasaran doang gue. Salah?”

“Iya dah lo yang paling bener di dunia ini.” Pada akhirnya Mahesa mengalah. Karena berdebat dengan Hisyam pasti tidak akan bertemu jalan keluar nya. Jadi mau tidak mau harus ada yang mengalah salah satu bukan?

Dan yang paling sering mengalah adalah Mahesa. Hisyam termasuk tipe lelaki yang sedikit keras kepala.

“Kenal dimana lo sama nih cewek?” tanya Hisyam penasaran. Meskipun wajahnya mencoba untuk tidak mengekspresikan rasa penasaran nya itu.

“Dari shopee hahahahahha.” Mahesa tertawa. Deretan gigi yang rapih itu pun terpampang jelas karena kepalanya yang ia dongak kan sedikit.

Lelaki yang berada di seberang sana hanya menatap bingung. “Shopee?” gumam Hisyam yang masih berpikir.

Beberapa detik setelah, otak nya seakan langsung tersambung. “ANJG LO. JANGAN BILANG PAS GUE MINTA LO BELIIN AMEL SCARF-“

“Kagak anjir. Gue mau cod ini, ambil scarf buat adek lo tersayang,” potong Mahesa cepat dengan sedikit penekanan di kalimat terakhir

Hisyam menggeleng pelan. Bisa-bisa nya ia tertipu. Pantas saja dirinya merasa heran sejak tadi saat Mahesa bilang ingin bertemu dengan seorang gadis. Karena selama ini Hisyam berpikir kalau manager nya itu tidak tertarik dengan gadis.

Bisa dibilang homo? Hisyam tidak tahu. Karena saat lelaki itu bertanya alasan mengapa Mahesa tidak pernah ada hilal berpacaran, manager nya itu hanya menjawab kalau ia sedang tidak tertarik. Jadi jangan salahkan Hisyam kalau ia berpikir Mahesa menyukai sesama jenis.

“Emang kalo lo bilang mau ketemuan sama cewek itu mitos ya hes. Gue pikir lo udah mulai suka sama cewek.”

“Lah, emang iya gue mau ketemuan. Cuma beda situasi aja bray. Nggak bawa perasaan.”

“Halah, ntar juga gue yakin lo bakal kepincut sama nih cewek.”

“Seberapa yakin?”

“100% yakin,” jawab Hisyam penuh keyakinan.

“Kalo gue beneran kepincut, gue dikasih apa?”

“Nggak bisa gitu lah hes. Perasaan bukan taruhan. Apalagi Ini soal cewek. Lo harus tulus lah. Kalo nggak bisa tulus jangan sok sok an mau kepincut. Gue gebuk lo kalo sampe gue lihat lo mainin cewek.”

“Hahahahaha nggak lah bray. Liat aja dah nanti. Gue juga bosen jomblo terus anjir.”

Nah, akhirnya kalimat langka itu keluar dari mulut Mahesa.

Disela Mahesa bercerita soal rutinitas nya hari ini. Mata Hisyam justru terfokus pada sosok gadis yang berdiri agak jauh di belakang sana. Dari layar ponsel tersebut terlihat jelas wajah gadis yang tidak asing di mata dan otak nya. Gadis berambut panjang dengan outfit yang pas untuk pergi ke cafe pada siang hari. Hanya memakai kaos crop top berwarna putih panjang serta celana jeans berwarna hitam. Hisyam seperti hapal dengan gaya outfit tersebut. Persis seperti outfit gadis yang pernah membawa pelangi ke dalam hidup nya.

Ya, itu Zena. Hisyam yakin itu Zena. Dari tinggi nya, paras nya, dan outfit andalan nya. Zena tidak suka apabila keluar di siang hari harus memakai jaket, atau pun kaos yang panjang, intinya baju yang menutup semua tubuh nya. Karena Zena tidak kuat dengan suhu panas. Maka dari itu saat gadis itu keluar siang-siang, Zena pasti memakai outfit yang santai, dan seperti apa yang dibilang Dava sebelumnya kalau baju yang dipakai Zena selalu bisa mengundang zina mata.

Hisyam menjadi bertanya-tanya, apa tujuan Zena ke sini? Apakah ini memang takdir mereka untuk bertemu walau disituasi yang berbeda? Hisyam sontak tersenyum tipis saat Zena terlihat bingung menoleh ke kanan dan ke kiri nya.

’it's good, that she's fine.’ batin Hisyam.

“Udah gila ya lo senyum senyum sendiri.” Fokus Hisyam buyar saat mendengar ejekan dari Mahesa di layar ponsel nya.

Namun Hisyam tidak menghiraukannya. Mata nya masih memandangi Zena yang wajahnya berubah menjadi panik. Melihat itu Hisyam pun juga ikut panik meski tidak tahu alasan nya apa. Dan beberapa detik selanjutnya Zena pun pergi meninggalkan cafe plus teman nya yang Hisyam tidah tahu nama nya.

“Syam. Lo kenapa sih?” Mahesa semakin dibuat bingung. Pasal nya Hisyam sedari tadi menunjukkan gerak gerik aneh.

“Nggak papa. Tadi sampe mana?”

“Sorry, lo Mahesa bukan?” Suara gadis tiba-tiba terdengar menyapa Mahesa.

“Yes. Lo yang jual scarf itu?” jawab Mahesa dengan senyum yang lebar. Kedua matanya sontak berbinar, seolah ada cahaya bintang di sana. “Ok bray, ntar lagi ya. Gue sibuk. Bye.”

Layar pun kembali menghitam. Hisyam perlahan menurun kan ponselnya seraya detak jantung nya yang ikut menurun. Ia sudah lama tidak merasakan ini. Jantung nya berdebar, salah tingkah, dan jatuh cinta lagi. Tepat nya pada satu orang yang sama. Gadis dengan bentuk dagu sedikit lancip, mata yang seperti mata kucing, dan penyuka Justin bieber garis keras. Zena tidak berubah, masih gampang panik seperti dulu kala. Namun hal itu yang sukses membuat Hisyam ingin pulang ke Indonesia dengan cepat dan bertemu dengan Zena secara langsung.

Sumpah demi apa pun, Hisyam sangat merindukan mantan dua tahun nya itu.

Quality Time with Bapak Nagara.

Ditemani oleh dinginnya malam, sepasang suami-istri itu tengah tertidur di kasur yang sama. Saling menatap dan menelusuri arti tatapan tersebut. Lebih dari dua puluh menit mereka seperti ini. Berbicara melalui insting mata yang kuat. Hanya mereka yang mengerti.

“Saya rindu, Joey.” Suara Nagara pertama yang terdengar. Dengan tatapan yang tenang, menenangkan hati Joey.

“Sama siapa?” tanya Joey yang tujuannya hanya untuk menggoda lelaki ini.

“Kamu lah. Sama siapa lagi,” jawab Nagara dengan tegas dan sigap.

Kekehan Joey terdengar manis. “Aku juga kangen sama kamu, Mas Na.”

Nagara sepertinya sangat menyukai panggilan itu. Dibandingkan dengan Bapak Nagara, Mas Na jauh lebih membuat hatinya bergejolak tidak karuan. Sudut bibirnya tertarik ke atas.

Tangannya kemudian terangkat untuk membelai poni yang hampir menutup wajah cantik istrinya. Hatinya seketika lega. Sangat lega. Sudah tidak ada lagi badai yang harus mereka terjang. Badai itu sudah berlalu. Kini tergantikan oleh pelangi yang menghiasi langit-langit kamar mereka. Kebahagiaan menyelimuti Joey maupun Nagara.

“Sebenarnya saya mau sentuh kamu malam ini. Tapi saya takut kamu hamil lagi,” ungkap Nagara secara terang-terangan. Lelaki itu sudah tidak se-kaku seperti kemarin. Urat-urat wajahnya pun sudah tidak terlihat jelas dan menegang. Nagara benar-benar terlihat santai malam ini. Semua masalah sudah terselesaikan dengan baik dan sempurna.

Kepala Joey terangkat sedikit, membenarkan kepalanya yang semakin mendekat ke kepala Nagara. ”Mas nggak mau kehadiran seorang bayi?”

Diam. Nagara mendadak bisu. Tangannya masih setia membelai surai hitam pekat itu. ”Urusan anak, saya bisa pikir nanti. Yang penting tunggu kandungan kamu sehat dulu. Saya masih bisa menghamili kamu meskipun usia saya tua, Joey.”

Kini Joey mengerti besarnya rasa cinta Nagara padanya. Rasa cinta yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Nagara yang memperdulikan keselamatan dirinya, Joey sudah menganggap bahwa lelaki itu amat sangat mencintainya. Dan Joey kini bisa merasakan itu.

“Sini kamu!” Pinta Nagara.

Lelaki berkaos putih polos itu langsung meraih pinggang Joey. Satu tangan kanannya mampu membawa gadis itu ke pelukannya. Joey melebarkan matanya. Ada yang mengalir deras di sekujur tubuhnya saat ia bersentuhan langsung dengan Nagara. Hidungnya mencium aroma minyak telon dari lelaki yang sedang memeluknya saat ini. Dan ia menatap wajah tampan nan memukau itu dalam jarak yang sangat dekat. Cukup untuk menjadi alasan, kenapa jantungnya seperti hampir lompat dari tempatnya.

“Apa?” Tanpa rasa berdosa, Nagara bertanya sambil menyunggingkan senyumnya.

“Wangi,” jawab Joey tertahan sambil menundukkan wajahnya.

“Kamu baru tahu kalo wangi suami kamu emang kayak gini, Joey?” Joey tidak bisa menjawab pertanyaan konyol Nagara. Tentu saja ia tahu. Ia tahu benar bagaimana aroma tubuh dari lelaki yang berstatus suaminya itu. tapi Joey tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

Menyadari Joey yang masih sibuk dengan lamunannya sendiri, Nagara semakin mempererat pelukannya. Bahkan sekarang, tangan kirinya sudah ikut andil dalam mengurung tubuh mungil itu. Nagara memulai serangannya dengan meletakkan dagunya di bahu Joey. Menempelkan bibirnya untuk mengecup leher gadis itu. Tak ketinggalan hidungnya yang mancung mulai mengendus tengkuk Joey.

Joey sontak memejamkan matanya dan bibirnya mengeluarkan lenguhan kecil. Tentu saja. Itu adalah salah satu titik kelemahannya. Nagara mungkin sudah sangat ahli di bidang ini. Namun aktivitas tersebut hanya berselang lima menit. Setelah itu Nagara melepaskan tautannya dan kembali pada posisinya menghadap ke atas. Sedikit membuat istrinya kecewa, karena jujur Joey sangat ingin disentuh oleh Nagara malam ini. Ia sangat merindukan tubuh kekar itu mendekap penuh tubuh mungilnya.

“Joey,” panggil sang lelaki. Wajahnya begitu damai dengan sorot mata yang mulai berbinar.

“Iya mas?”

“Joey, istri saya.”

“Iya Mas Na?”

Bibir itu kembali mengulas senyum. Senyum yang Joey rindu-rindukan, di malam ini ia dapat melihatnya lagi. Senyum yang membutuhkan sedikit perjuangan untuk mendapatkannya. Senyum yang hanya untuknya seorang. Wanita itu semakin mempererat pelukannya pada tubuh Nagara.

“Saya penasaran. Kamu setiap sama saya pasti bawanya marah-marah terus-”

“Ya itu salah kamu nggak sih mas? Kamu tuh yang bikin aku marah-marah terus.” Joey kembali mengeluarkan jurus mengomelnya.

“Dengerin saya dulu bisa?” Nagara menatap Joey dengan penuh arti. Suara lembutnya mampu membuat gejolak hatinya menjadi tenang, Seolah dirinya berada di tengah hamparan luas yang ada banyak pepohonan rindang disana. Sejuk dan tenang.

“Iya ini aku dengerin.”

“Apa kamu pernah merasa nyaman berada di dekat saya? Saya ngerasa kalau saya selalu menyakiti perasaan kamu.”

Hati Joey sedikit mencelos saat mendengar kalimat tersebut. Nagara sadar, kalau selama mereka hidup bersama, lelaki itu hanya bisa membawa duri. Padahal jelas-jelas dari awal dirinya sudah berjanji di depan Malik dan orang tua Joey, kalau ia bisa membahagiakan Joey dengan segenap jiwa dan raganya. Namun kenyataannya, banyak lika-liku kehidupan yang harus mereka hadapi. Yang membuat hubungan mereka hampir saja kandas di tengah jalan. Akan tetapi sebelum itu terjadi, Tuhan memberi jalan untuk mereka. Mereka yang saling mencintai tapi sangat sulit untuk menyatu. Dan semenjak kejadian ini, baik Joey maupun Nagara menjadi belajar kalau hubungan tanpa keterbukaan itu akan memperburuk keadaan. Komunikasi dalam hubungan itu sangat penting, sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua.

Kini cinta mereka menyatu menjadi lautan samudera yang sangat luas.

Joey mengubah posisinya menjadi tengkurap menghadap Nagara. “Pernah. Malam ini contohnya.”

“Cuma itu?”

“Hmmmm …” Wanita berdarah padang itu tampak berpikir. “Ohhh aku inget. Kamu inget nggak mas waktu kita hadir di nikahannya Bu Sintia klien kita. Kalo nggak salah itu sebulan dari hari pernikahan kita.” Nagara berpikir sejenak. Pikirannya seketika melalang buana kemana-mana. Mencari memori yang sesuai dengan perkataan dari istrinya itu. Detik selanjutnya Nagara tiba-tiba ingat. Tepatnya bulan Februari, di malam minggu mereka diundang untuk menghadiri acara pernikahan klien terdekat mereka. Bu Sintia. Wanita berumur tiga puluh tahun yang gila kerja pada awalnya. Sampai pada akhirnya ia menemukan jodohnya sendiri. Lelaki tampan yang sepadan dengan Nagara.

Flashback

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saatnya untuk Joey dan Nagara untuk berpamitan pada sang tuan rumah dan mengucapkan terima kasih atas undangan dan makanan gratis yang sudah disiapkan untuk mereka.

Joey dan Nagara keluar dari gedung ber-cat putih itu menuju parkiran mobil. Joey berjalan gontai karena tenaganya sudah benar-benar habis. Ia tidak tahu kalau berkumpul dengan orang banyak dapat membuatnya lelah. Atau mungkin ini efek dirinya terlalu sering begadang karena pekerjaannya yang menumpuk.

Kedua sejoli itu masuk ke dalam mobil HRV milik Nagara. Joey langsung menyandarkan kepalanya di kursi penumpang.

“Arggghhhh capek banget,” gerutunya yang terdengar jelas di telinga lelaki yang duduk di sampingnya.

“Kalo capek tidur aja. Nanti saya bangunin kalo udah sampai,” jawab Nagara yang mengerti kalau istrinya itu butuh istirahat.

Pandangan wanita pemilik nama Joanne Josephine itu teralihkan pada suasana di luar mobil. Orang-orang dengan baju kondangan mereka berlalu lalang. Pikirannya berpetualang jauh ke sana.

“Pak.” Joey tiba-tiba memanggil Nagara. Waktu itu mereka masih canggung satu sama lain. Joey masih menggunakan panggilan ‘Pak’ pada Nagara.

“Hmmm?”

“Pasti enak ya kalo waktu itu kita ngundang banyak orang.”

Lelaki yang mengenakan jas warna hitam itu tidak menjawab. Joey tidak ada angin tiba-tiba membahas hari pernikahan mereka.

“Berbagi kebahagiaan sama orang-orang terdekat kita. Tadi gue sempet lihat ada band nya juga. Kalo kita juga ngundang band atau minimal penyanyi cafe, pasti kita bisa nyanyi bareng temen-temen kita. Orang tua kita joget bareng sambil ketawa-ketawa.” Joey menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. “Gue aja kadang lupa, kalo gue sekarang udah jadi istri orang.”

Sang lawan bicara masih diam. Tangannya meremas setir mobil. Nagara juga ikut merasakan kesedihan itu. Wanita mana yang tidak memimpikan hari penting yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Setidaknya pernikahan yang indah untuk dikenang. Joey pasti juga menginginkannya, walau pernikahan mereka didasari dengan perjodohan.

Baru saja Nagara membuka mulut untuk membalas kalimat Joey, istrinya itu sudah memejamkan matanya. Kepalanya masih setia mengarah ke kaca mobil. Membuat lelaki itu mengurungkan niat untuk berbicara karena tidak ingin membangunkan wanitanya.

Nagara menyalakan mobilnya, lalu membawanya keluar dari halaman parkir menuju apartemennya. Selama perjalanan ia hanya ditemani oleh kesunyian. Kalau boleh jujur matanya sudah tinggal berapa watt lagi sebenarnya. Nagara mulai merasa ngantuk. Ia segera menyalakan radio mobilnya untuk memutar lagu yang selalu ia dengarkan di dalam mobil, agar rasa kantuknya menghilang.

Music: BTS – Make It Right (feat. Lauv) ~Yeah, I was lost, I was tryna find the answer in the world around me. ~Yeah, I was going crazy, all day, all night. ~You’re the only one who understood me, and all that I was going through. ~Yeah. I just gotta tell you, oh baby, I

Lantunan musik itu membias memenuhi mobil. Dengan tinggi volume sepuluh, musik tersebut sangat pas menemani kesunyian mereka. Lagu yang akhir-akhir ini Nagara suka. Siapa yang tahu kalau lelaki yang dikenal kaku se-kaku kanebo ini sering mendengarkan musik dikala waktu senggangnya.

Wanita yang tengah tertidur itu mulai terusik. Namun ia tetap diam. Matanya perlahan terbuka. Ikut menelisik lagu yang sedang diputar Nagara saat ini. Kepalanya pun kini menoleh menghadap Nagara. Lelaki itu tidak sadar, karena terlalu sibuk menikmati lagu ini.

“You were there for me through all the time I cried. I was there for you but then I lost my mind. I know that I messed up but I promise, I. Oh oh~ I can make it right.”

Joey tiba-tiba terpaku mendengar suara Nagara bernyanyi. Suara lelaki itu tidak terlalu buruk. Deep voice yang dimilikinya mampu membuat bulu kuduk nya berdiri. Joey tidak tahu kalau Nagara memiliki suara yang bagus saat menyanyi. Seketika hatinya yang sempat gunda, terasa sangat nyaman. Baru kali ini Joey merasakan suasana nyaman pada hatinya saat berada disamping Nagara. Benar-benar nyaman layaknya seorang anak yang sedang dinyanyikan lagu tidur oleh ibunya.

Senyuman Joey tersimpul saat jari Nagara perlahan bergerak mengetuk setir mobil sesuai dengan beat lagu. Nagara sangat berbeda malam ini. Seperti bukan Nagara yang sering Joey temui. Sosok lelaki remaja yang sering nongkrong bersama teman-temannya, ada pada diri Nagara sekarang. Bukannya lelaki kaku yang terlalu serius menjalani hidup. Kali ini lelaki itu terlihat sangat santai. Kedua mata itu sontak terpejam saat sang empu menyadari sesuatu. Nagara tiba-tiba menoleh ke arah Joey yang masih terlelap, menurutnya. Entah ada bisikan dari mana, tangannya terangkat dengan sendirinya lalu mengusap puncak kepala Joey. Membelainya perlahan sambil sesekali pandangannya masih fokus pada jalanan. Joey yang masih dalam kondisi sadar itu merasakan detakan jantungnya berpacu sangat cepat. Aliran darahnya berdesir. Andai ia memiliki kemampuan menghentikan waktu, Joey akan menghentikan waktu ini, di malam ini. Karena untuk pertama kalinya, Joey mencintai Nagara yang seperti ini.

Flashback END.

“Saya pikir kamu tidur waktu itu.” Nagara sedikit terkejut saat mengetahui ternyata waktu itu Joey mendengarkannya menyanyi. Ia sedikit malu. Karena bukan hanya satu lagi saja, ada kurang lebih tiga sampai empat lagu yang terputar di malam itu. Dan hampir Nagara nyanyikan semuanya.

“Gimana bisa tidur kalo kamu nya berisik.” Ekspresi Joey terlihat kesal. Akan tetapi mampu membuat Nagara tertawa gemas. Otot-otot wajahnya tidak tegang seperti sedia kala. Memang seharusnya mereke sering mengadakan sesi deep talk dan quality time berdua seperti ini. Sungguh ampun melepas penat dan masalah yang ada di dada.

“Mas. Habis ini kita mulai kehidupan baru ya. Nggak ada lagi kata gengsi, nggak ada lagi rahasia-rahasiaan, dan nggak ada lagi kesalahpahaman. Itu yang bikin kita sering berantem mas kalo kamu sadar. Jadi sebisa mungkin kita mulai terbuka satu sama lain ya. Apapun itu. Sekecil masalah, harus kita selesaikan pake kepala dingin, okay. Disini bukan kamu aja kok yang berjuang, tapi aku juga. Kita berjuang bareng-bareng. Janji?” Joey mengarahkan jari kelingkingnya di depan sang suami.

Tidak perlu menunggu lama, Nagara langsung membalas kelingking Joey. “Janji. Saya juga janji akan berusaha bahagiain kamu. Itu tujuan utama saya.”

Joey tersipu malu. Kepalanya menunduk sambil tersenyum sangat manis. Ia marasa, kalau mereka seperti ini layaknya ABG yang lagi menikmati masa cinta monyet mereka. Dunia terasa milik berdua yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bahkan cicak yang menempel di dinding sekalipun.

“Saya boleh cium kamu?” tanya Nagara kemudian. Meminta izin pada istrinya untuk menjamahi bibir ranum yang Nagara sudah idamkan sejak tadi.

Tanpa menjawab, Joey segera memejamkan kedua matanya. Memberi izin pada suaminya untuk menjamahi bibirnya malam ini. Karena sudah diberi lampu hijau, Nagara kemudian menangkup rahang Joey dan mengecup bibir rasa cherry itu. Mengecupnya, menikmatinya dengan lumatan-lumatan yang diciptakan oleh lelaki yang rambutnya sudah mulai memanjang itu. Meskipun Nagara adalah lelaki yang hampir tidak pernah berciuman, namun ia ternyata lihai dalam urusan seperti ini.

Akhir cerita.

Dari dulu Luna dibuat penasaran oleh pertanyaan bagaimana rasanya bisa disambut ibu setiap pulang sekolah? Bagaimana rasanya dibuatkan bekal oleh ibu menggunakan tempat yang super lucu dan bisa pamer ke teman-teman sekolah? Bagaimana rasanya dicium keningnya oleh ibu sebelum tidur? Luna tidak bisa mendekripsikan nya.

Selama sepuluh tahun ini, Luna hidup bersama dengan kakek nya. Ayah dari sang bunda yang sangat menyayangi nya. Setiap Luna pulang sekolah, sang kakek selalu menyambutnya dengan pelukan hangatnya. Dan kakek nya lah yang menyiapkan bekal sebelum gadis tujuh belas tahun itu berangkat sekolah.

Ada rasa iri ketika teman-teman nya dengan terang-terangan menceritakan kisah ibu mereka di depan Luna. Alhasil gadis remaja itu hanya bisa menyembunyikan kesedihan nya. Tidak ada yang tahu soal sang bunda yang sudah lama mendekam di rumah sakit jiwa.

“Kakek tunggu disini ya.” Ujar Pak Josh yang walau sudah beruban dan kulitnya mulai menunjukkan keriput, tapi masih terlihat gagah dan tampan.

“Loh katanya mau ketemu bunda. Kok Luna malah masuk sendiri.” Gerutu Luna dengan raut wajah kesal namun masih terlihat menggemaskan di mata sang kakek.

“Gantian. Nanti kakek masuk kalo kamu udah selesai.”

Kakek nya itu kadang susah ditebak. Yang dari awal ngajak jenguk siapa, tapi justru dirinya yang disuruh masuk sendiri. “Yaudah.”

Luna kemudian menggeser pintu bangsal yang ada di depannya itu. Menampakkan wanita dengan baju rumah sakit jiwa pada umumnya, duduk di atas kasur menghadap jendela. Sudah sebulan Luna tidak menjenguk sang bunda. Bukan apa-apa, hanya saja peraturan rumah sakit jiwa yang mewajibkan hanya bisa menjenguk sebulan sekali.

“Bunda. Luna datang.” Sapa Luna pada Anne-bundanya-.

Wanita itu tidak menyahut. Hanya menatap kosong ke depan dengan tatapan nya yang sayu. Tubuhnya semakin kurus tidak terawat. Rambutnya yang sudah mulai memutih itu sangat berantakan. Luna seketika melirik gelas beriisi susu yang pecah di lantai, bisa dipastikan kalau bundanya habis meraung tidak jelas. Kedua tangan Anne dipasang rantai yang dikaitkan di tiang kasur supaya wanita itu tidak melakukan hal buruk yang mengancam nyawanya sendiri.

Luna menengadahkan kepalanya sejenak. Sebisa mungkin air matanya tidak jatuh. Melihat kondisi bundanya yang tidak ada kemajuan, hati Luna seakan ditusuk pedang seratus kali.

“Luna kangen bun. Bunda gimana kabarnya?” Bodohnya Luna. Sudah jelas-jelas bundanya tidak baik-baik saja.

Gadis berparas cantik seperti bundanya itu seolah berbicara seorang diri. Pasalnya, sampai sekarang Anne masih membisu. Seakan bibirnya dijahit sangat rapat. Tapi Luna tidak menyerah untuk mendapatkan perhatian Anne, gadis itu lalu menggenggam tangan sang bunda.

“Inget nggak bun, dulu bunda selalu marah-marah tiap Luna telat bangun buat sekolah? Sekarang Luna udah nggak telat bangun lagi bun. Ayahnya bunda itu galak banget. Lebih galak dari bunda. Kalo Luna ketahuan begadang terus bangun siang nih, siap-siap sapu melayang ke badan Luna. Nggak kayak bunda yang bangunin Luna pake cium. Jadi kangen deh.” Luna tersenyum kecut. Ini bukan pertama kami ia mengatakannya pada sang bunda. Setiap kali berkunjung, Luna pasti akan membuka percakapan menggunakan template kalimat seperti ini. Niatnya berusaha agar bundanya bisa menjadi seperti dulu. Bunda yang selalu menjaganya.

“Bun. Luna nggak nuntut bunda buat sembuh sekarang juga. Luna bakal tetap disini sampai bunda sembuh. Ayah ... pasti juga merindukan bunda di atas sana persis seperti Luna merindukan bunda.”

Anne tetap tidak berkutik. Ingin rasanya Luna menyerah, berkali-kali Luna dibohongi oleh harapannya sendiri. Namun, setiap malam pasti gadis itu akan merindukan orang tuanya. Bunda Anne, Ayah Jeffry, Luna masih mengingat semua momen kebersamaan mereka waktu mereka masih menjadi keluarga yang utuh. Dan Luna sangat ingin kembali ke momen itu.

“Cepet sembuh ya bun. Biar kita bisa ketemu ayah bareng. Ayah sedih banget loh tiap Luna dateng sendiri ke makam nya.” Gadis itu tersenyum lirih menatap sang bunda dengan nanar. Begitu hebatnya Luna sampai sekarang ia tidak mengeluarkan air matanya sedikitpun. Padahal di dalam hatinya ia ingin menjerit.

Beginilah kehidupan Luna yang terbilang jauh dari kebahagiaan. Ayah kandungnya di penjara, ayah angkatnya sudah tiada, dan bunda angkatnya yang berakhir menjadi gila. Tidak ada yang lebih hancur dari perasaan gadis yang beberapa hari yang lalu baru menginjak tujuh belas tahun itu. Disaat teman-temannya sibuk mengatur waktu untuk berlibur bersama ibu serta ayah mereka, tapi tidak dengan Luna. Disaat libur musim panas, Luna pasti menyempatkan diri untuk pergi ke penjara, makam, dan rumah sakit jiwa. Tempat yang tidak disukai oleh semua orang.

“Yaudah Luna mau pulang dulu ya bun. Bulan depan Luna ke sini lagi. Pokoknya waktu Luna ke sini nanti, bunda harus udah gendut ya.” Ancam Luna yang terdengar seperti anak kecil yang kesal karena tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.

Tangan mungil itu terangkat untuk membawa surai sang bunda ke belakang daun telinganya, supaya dirinya bisa jelas melihat kecantikan bundanya yang tidak sirna sedikitpun. Bundanya akan selalu cantik seperti bidadari tanpa sayap.

Cup .... Luna mengecup pipi sang bunda dengan sayang, begitu lama, seolah ini adalah saat terakhir ia bertemu dengan Anne. Air matanya terjatuh bebas menyentuh permukaan kulit Anne. Merasa kedua matanya mulai basah, Luna menjauhkan bibirnya dari pipi sang bunda.

“I Love you, bunda.” Bisik Luna parau.

Gadis itu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Dadanya terasa semakin sesak. Padahal sudah sering Luna berkunjung menemui Anne, tapi hatinya masih merasakan sakit yang teramat dalam.

Saat ia keluar dari ruangan gelap itu, tangisan Luna tidak terbendung lagi. Tepat di depan sang kakek yang tengah berdiri di hadapannya itu, Luna menangis sejadi-jadinya. Pak Josh langsung memeluk daksa cucu kesayangannya lalu menepuk pelan punggung gadis itu. Luna meluapkan semua yang mengganjal di dadanya melalui tangisan itu. Di pelukan sang kakek, Luna berubah menjadi rapuh.

“Udah berhenti nangis nya?” Tanya Pak Josh ketika tangisan Luna mulai mereda.

Gadis cantik itu melepaskan pelukan kakeknya. Ia hanya mengangguk pelan sambil menghapus jejak air matanya.

“Yaudah, kamu sekarang ke mobil dulu ya. Nanti kakek nyusul.”

“Kakek mau kemana?” Tanya Luna dengan sedikit sesegukan.

“Kakek mau ketemu bunda kamu dulu.”

Luna setengah berbalik menatap sang bunda yang masih setia pada posisinya itu, lalu kembali menatap sang kakek. “Kakek yakin mau ketemu bunda?”

“Tadi yang ngomelin kakek gara-gara nggak mau masuk siapa?”

“Ya Luna sih. Tapi pas terakhir kali Kakek jenguk bunda, Luna masih inget, bunda kayak orang kesurupan kek.”

Pak Josh seketika tersenyum lebar. Kalimat tersebut bukanlah lelucon belaka, cucunya itu berkata jujur. “Udah setahun kakek nggak jenguk bunda kamu. Kakek nggak mau dicap jadi ayah durhaka, nak.” Jawab beliau diiringi tangannya yang mengusap surai halus sang cucu.

Pada akhirnya Luna hanya menurut. Gadis itu berjalan meninggalkan kakeknya seorang diri dan menuju parkiran mobil. Setelah kepergian Luna, Pak Josh meraih kenop pintu. Lelaki gagah itu menghela napas sejenak, menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Kalau kalian ingin tahu, ketika Pak Josh membuka pintu ini, seakan dirinya membuka gerbang menuju neraka.

Pak Josh mulai masuk ke dalam. Ruangan tersebut sepi dan sedikit gelap. Hanya ada satu lemari, satu meja, dan satu kasur di dalam ruangan satu petak itu. Jika dulu kamar sang anak didominasi oleh warna pink dan di dekor dengan begitu cantik, kini kamar yang harus Anne singgahi justru berbanding terbalik.

“Ann ....” Panggil Pak Josh sedikit ragu. Beliau tidak yakin, jika setelah ini putrinya akan memeluknya sambil menunjukkan senyum sumringahnya.

Kali ini, Anne merespon. Wanita itu hanya melirik tajam ke arah sang ayah, seperti melirik musuhnya sendiri. Raut wajah yang awalnya datar, perlahan berubah menjadi amarah yang menggebu-gebu.

“PERGI!!!!” Jerit Anne mendorong keras tubuh ayahnya.

Beberapa pukulan Pak Josh dapatkan dari Anne, bukan pukulan sayang, melainkan pukulan kebencian. Sakit, tapi lelaki berusia lima puluh itu tidak goyah. Beliau masih tetap berdiri tegak dengan menahan tangisannya.

“NGAPAIN KALIAN KE SINI, HAH? DIMANA JEFFRY?!!!” Dengan racauan tidak jelas itu, Anne berdiri dan langsung mencengkram kerah baju Pak Josh. Seperti menantang ayahnya sendiri. “JAWAABBBB!!! DIMANA SUAMI SAYAAAAA???!!!”

Jeritan itu mampu membuat perasaan Pak Josh hancur. Tidak bisa didefinisikan, tapi kalian bisa bayangkan seorang ayah dibentak putrinya seperti orang yang tidak saling kenal.

“Anne-” Pak Josh mencoba untuk memeluk Anne, namun wanita itu menolak mentah-mentah.

“KALIAN ITU SETAN TAHU NGGAK?!! KALIAN ITU ANJING! POLISI SAMPAH!! PERGI DARI SINI!!!” Anne semakin menjadi-jadi. Ia meninju dada Pak Josh berkali-kali dan ritmenya sangat cepat. Sungguh, Anne tidak sadar kalau yang dipukulnya ini adalah ayah kandungnya sendiri.

Tugas seorang ayah adalah selamanya ada disisi anaknya sampai ajal memisahkan, walau situasinya seberat apapun. Melihat Anne yang amat sangat membencinya, Pak Josh ingin menangis. Ia merindukan putrinya yang manja kepadanya, yang merengek meminta dibelikan ice cream, yang menangis saat terjatuh. Pak Josh merindukan sosok Anne yang dulu.

Semenjak Jeffry ditembak mati oleh para polisi, membuat mental Anne menjadi sangat terganggu. Awalnya hanya berhalusinasi kalau Jeffry masih hidup, tapi semakin lama, ia tiba-tiba menjerit sendiri, menangis sendiri, dan tertawa sendiri. Parahnya lagi, setiap Anne bertemu dengan polisi, ia tidak segan-segan mengambil benda tajam yang ada di dekatnya lalu melukai polisi tersebut. Termasuk ayahnya sendiri.

Dan inilah alasan Pak Josh mau tidak mau harus memasukkan Anne ke rumah sakit jiwa.

Dikala Anne yang masih memukuli dadanya, Pak Josh memaksakan diri untuk memeluk sang putri. Walau wanita itu meronta habis-habisan karena tidak mau dipeluk, Pak Josh masih tetap memeluk Anne dengan sangat erat.

Mendengar suara jeritan yang sangat keras, para suster yang berjaga disana datang untuk menenangkan Anne. Namun saat suster tersebut baru masuk, Pak Josh mengangkat tangannya, menandakan jangan mendekat dulu. Beliau bisa atasi ini semua.

“Sayang, ini ayah ... Ini ayah, sayang.” Ucap Pak Josh seraya mengusap kepala sang anak. “Ini ayah, nak.”

Sepertinya kalimat tersebut sangat ampuh, dilihat Anne yang perlahan mulai tenang. Sebenci apapun seorang anak, dan se enggak kenalnya seorang anak, ia pasti memiliki ikatan batin dengan orang tuanya. Anne merasakan itu. Ada gejolak yang menyuruhnya untuk tenang. Suara ayahnya yang parau itu, Anne tidak akan bisa lupa.

Kedua bahu Pak Josh bergerak naik turun. Ya, lelaki tua itu menangis. Persetan dengan harga dirinya sebagai lelaki. Karena tidak ada yang mengerti betapa hancurnya ia sebagai seorang ayah. Tidak ada yang bisa Pak Josh lakukan selain menangis untuk saat ini.

“Ayah ....”

Pak Josh terpaku seketika. Beliau tidak berhalusinasi, Anne benar-benar memanggilnya ayah untuk pertama kalinya.

“Ayah, itu ada Jeffry di belakang ayah. Coba deh ayah balik. Anne malu, masa kita peluk-pelukan gini di depan suami Anne.”

Pak Josh semakin mempererat pelukannya. Putrinya mulai berbicara yang tidak jelas lagi.

“Jeff ... sini deketan, mau peluk. Aku kangen.” Ujar Anne sambil merentangkan kedua tangannya.

Pak Josh sangat yakin kalau dibelakangnya kini tidak ada siapa-siapa. Namun beliau bingung harus menjawab apa. Sudah sering Anne seperti ini, berbicara sendiri seolah ada Jeffry disampingnya. Padahal kenyataannya, di samping Anne hanya ada tempat kosong yang tidak pernah disinggahi oleh siapa pun. Wanita itu selalu sendiri.

“Ayah sayang sama kamu, nak. Maafin ayah, udah bikin hidup kamu menderita.” Hanya sepatah kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Pak Josh.

Tidak ada jawaban, Anne masih tersenyum dan tertawa dengan dunianya sendiri. Pak Josh hanya bisa memaklumi itu.

Dan inilah akhir dari sebuah cerita yang begitu menyedihkan. Soal harapan yang gagal untuk tercapai. Dan masa depan yang dihancurkan oleh takdir. Kadang Anne bertanya-tanya, kalau misal dirinya tidak mimpi buruk, apakah hidupnya tidak akan berakhir seperti ini?

SELESAI

Jawaban yang tidak diharapkan.

Anne baru saja bertemu dengan Jeffry asli di dalam mimpinya. Lelaki itu nampak sangat bahagia, amat sangat bahagia daripada kemarin. Sambil mengucapkan kata-kata terima kasih pada wanita cantik itu. Terima kasih karena berkat Anne, kini Jeffry yang asli bisa pergi dengan tenang. Akan tetapi, justru Anne yang menjadi sangat khawatir akan kedepannya seperti apa nantinya? Karena sekarang, identitas Jeffry sudah terkuak. Membuat posisi suaminya itu terancam.

Di tengah tidur lelapnya, Anne tiba-tiba terbangun saat mendengar suara gedoran begitu keras pada pintu rumahnya. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa yang datang ke rumahnya selarut ini? Apakah mungkin itu Jeffry yang sudah memutuskan untuk pulang? Tanpa basa-basi lagi, Anne langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan untuk membuka pintu rumahnya.

Saat Anne membuka pintunya, alangkah terkejut dan terharunya ia mendapati sosok Jeffry sedang berdiri di depan rumah. Namun, kondisi lelaki itu membuat hati Anne teriris-iris. Bagaimana tidak, wajahnya yang sangat pucat serta keringat yang memenuhi wajah tampan itu dan tangannya sedang memegang perut sebelah kanan yang bercucuran darah, bisa dipastikan itu luka tusukan Tio saat Jeffry datang untuk menyelamatkan Anne waktu itu.

“Astaga Jeff.” Anne langsung memeluk leher Jeffry dengan sangat erat. Mendekap tubuh kekar itu dengan tangisan yang seketika pecah. Sekian lamanya Anne menunggu, akhirnya Jeffry mau menampakkan dirinya di depannya lagi.

Pelukan mereka terlepas, “Kamu kemana aja sih? Aku nggak bisa tenang gara-gara mikirin kamu.” Racau Anne pada suaminya itu.

Hanya senyuman tipis yang tersungging di bibir lelakinya yang Anne dapatkan. Senyuman yang akan selamanya Anne rindukan. “Syukurlah kamu nggak papa.”

Melihat Jeffry yang semakin kesakitan akibat luka pada perutnya itu, membuat Anne mengerutkan dahinya khawatir, “Iya aku nggak papa. Tapi kamu yang kenapa-napa, Jeff. Masuk yuk, aku obatin luka kamu.” Anne menarik tangan Jeffry, menyuruh lelaki itu untuk masuk ke dalam. Namun Jeffry justru menahannya.

Anne berbalik, menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Perlahan Jeffry melepaskan tautan tangan Anne pada tangannya. Bibirnya masih terlukis sebuah senyuman. Walau ekspresinya tidak bisa bohong, kalau lelaki jangkung itu sedang menahan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya.

“Semua udah berakhir, Ann.” Ucap Jeffry sambil menatap Anne begitu dalam. Kedua matanya berbinar.

“Maksud kamu? Apanya yang berakhir, Jeff?”

Dikala kebingungan Anne, di depan rumahnya tiba-tiba beberapa mobil polisi, dengan lampu sirine mulai berdatangan untuk mengepung rumah Anne dan Jeffry.

“Jeff, kenapa mereka kesini?” Anne semakin bingung dibuatnya.

“ANGKAT TANGAN!!!” Teriak para polisi tersebut sambil menodong pistol yang mereka genggam.

Jeffry mengangkat kedua tangannya setinggi daun telinganya. Matanya masih menatap nanar Anne yang terlihat syok dengan situasi saat ini. Wanita itu butuh penjelasan.

“Aku menyerahkan diri, Ann.”

“Nggak. Nggak ....” Potong Anne cepat dan langsung mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya itu, tangannya menyentuh tengkuk tegas Jeffry. “Ini belum berakhir, Jeff. Aku punya rencana. Aku sembuhin luka kamu, kita kabur ke luar negeri, dan mulai kehidupan baru. Kehidupan untuk kita bertiga, ya. Aku, kamu, sama Luna.” Bisik Anne sambil mencoba untuk tersenyum. Padahal kalau boleh jujur, dadanya sudah mulai sesak. Sangat takut apabila ketakutannya selama ini akan terjadi.

Namun Jeffry menggeleng pelan, menyadarkan Anne yang sebentar lagi akan dihancurkan oleh ekspektasinya sendiri. “Nggak bisa, Ann. Aku harus lakuin ini. Demi kebahagiaan kamu.”

“Kamu kebahagiaan aku, Jeff ... Kamu kebahagiaan aku. Please don't leave me!” Tangisan Anne pecah. Ia kembali memeluk Jeffry sangat erat. Seolah tidak mengizinkan suaminya itu pergi barang sejengkal pun.

Disisi lain, Pak Josh berjalan cepat lalu berdiri di tengah-tengah kerumunan polisi, “TURUNIN PISTOL KALIAN SEKARANG!”

Tidak ada yang menggubris. Semua masih menodongkan pistol ke arah Jeffry yang kini dipeluk oleh Anne. Pak Josh berbalik menatap anak dan menantunya itu dengan perasaan campur aduk. Tidak tega jika harus menembak mati menantunya di depan sang putri.

Kepala polisi yang kebetulan juga ikut dalam penyergapan pun turun dari mobil lalu menghampiri Pak Josh dengan wajah sombongnya itu. Pak Josh membalas tatapan lelaki tua itu tak kalah tajam.

“Minggir Josh. Ini urusan saya. Kamu nggak berhak ikut campur!” Usir kepala polisi tersebut, namanya Pak Yudis.

“Ini bisa dibicarakn dengan baik-baik, pak. Ok, emang kita harus menghukum berat psikopat itu. Tapi jangan ditembak mati di depan anak saya juga.” Pinta Pak Josh yang sepertinya tidak didengar. Hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Pak Yudis masih bertahan pada keputusannya.

Lelaki tua itu maju selangkah, semakin mendekat ke arah bawahannya yang tidak tahu diri menghalangi pekerjaannya. “Saya tidak peduli, Josh. Mau di depan presiden pun, saya tetap akan menembak mati menantu kamu sekarang juga. Dia psikopat yang sudah menghantui kota ini bertahun-tahun, Pembunuh keji yang tidak kenal ampun. Dia pantas ditembak mati.”

Pak Josh menggeleng cepat dengan raut wajah yang memelas, “Pak saya mohon. Kali ini saja, saya akan urus semuanya. Saya pastikan dia dapat hukuman yang berat seperti apa yang orang-orang mau-”

“Orang-orang mau?” Potong Pak Yudis cepat, lelaki itu tertawa dengan nada seraknya, “Josh, Josh. Kamu itu terlalu naif atau gimana, hah? Orang-orang mau dia ditembak mati sekarang juga. Ngerti kamu?”

Pak Josh masih mematung disana. Menatap Pak Yudis sangat memohon. Berharap atasannya itu mau mendengarkannya sekali saja.

“Jadi sekarang kamu minggir, atau saya pecat kamu, Josh.”

Sekali lagi Pak Josh menggelengkan kepalanya pelan. Sebisa mungkin ia membujuk Pak Yudis untuk tidak menembak mati Jeffry. Sebenarnya Pak Josh setuju apabila Jeffry akan dihukum berat atas perbuatan kejinya. Akan tetapi, tidak ditembak mati sekarang juga. Itu akan melukai perasaan sang putri. “Pak, saya mohon.”

Karena Pak Josh yang tak kunjung berpindah tempat, membuat Pak Yudis geram. Lelaki beruban itu berbalik untuk merebut pistol salah satu polisi yang berdiri di belakangnya, dan langsung menembak punggung Jeffry begitu saja.

“JANGAAANNN!!!!”

“DORRR!!!”

“DORRR!!!”

“DORRR!!!”

Tiga peluru berhasil mengenai Jeffry. Semua orang langsung tertegun saat itu juga. Termasuk Anne yang posisinya masih memeluk Jeffry. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat tubuh Jeffry ambruk di pelukannya.

“Jefff ....”

Waktu seolah berhenti sejenak. Wanita berpiyama itu nampak menahan tangis. Tangan mulusnya menyentuh pipi Jeffry, mengusapnya dengan diiringi air mata yang entah sejak kapan jatuh ke permukaan.

“Ann ....” Rintih Jeffry yang masih menatap Anne lekat, walau saat ini ia sedang sekarat. Lelaki itu mulai terbatuk-batuk, mengeluarkan cairan darah dari mulutnya. Tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata sang istri. “Jangan nangis.”

“Jangan pergi. Aku mohon jangan pergiiiii!!” Jerit Anne frustasi.

“Terima kasih ya, Ann. Udah cinta sama aku. Kemarin, selama aku pergi, aku mulai sadar, kalau aku juga cinta sama kamu. Kamu berarti buat aku. Hanya keselamatan kamu yang aku pentingin ... Terima kasih, udah kasih warna dihidup aku, dan udah mau terima apa adanya aku. Kamu harus bahagia ya.”

“Nggak! aku nggak bisa bahagia kalo nggak ada kamu. Sebentar aku panggilin ambulan dulu ya buat kamu. Bertahan, Jeff.”

Jeffry menggeleng. Napasnya terdengar parau. Sedikit demi sedikit lelaki itu kehilangan kesadarannya. Namun, Jeffry masih berusaha untuk tersenyum supaya Anne bisa tenang dan berhenti menangis. “Tuhan benar-benar nggak ngizinin kita bersatu, Ann. Aku ini terlalu jahat buat kamu. Tuhan sayang sama kamu, makanya dia ambil aku biar kamu bisa hidup bahagia.”

“Jangan bilang gitu, Jeff. Aku mohon ... Demi aku sama Luna, ya.”

“Anne ....” Suara Jeffry memelan. Napasnya semakin hilang. “I love you.”

Detik selanjutnya, Jeffry menghembuskan napas terakhirnya. Dia pergi di dekapan sang istri. Anne yang melihat itu seketika menjerit.

“JEEEFFFF!! JANGAN PERGIIII!!” Teriak Anne sambil mendekap erat daksa tak bernyawa suaminya. Tangisan nya semakin menajadi-jadi. Semua rencananya akan memulai kehidupan baru bersama Jeffry hancur seketika.

Para polisi datang menghampiri kemudian mengangkat paksa mayat Jeffry dari pelukan Anne. Wanita itu semakin menjerit. Tangisannya terdengar pilu dan menyakitkan. Tangisan seseorang yang sangat kehilangan.

Pak Josh yang tak kuasa melihat sang putri menangis, langsung memeluknya.

“Kenapa kalian ambil Jeffry dari Anne? Anne cuma mau keluarga Anne utuh, yah. Anne cuma mau hidup bahagia bersama orang yang Anne cintai seperti dulu. Apa itu salah?” Tanya Anne melepaskan tautan sang ayah dan menatapnya sambil sesegukan. Layaknya balita yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya.

Karena tak sanggup untuk menjawab, Pak Josh memilih untuk memeluk Anne. Namun nampaknya sang putri menolak pelukan hangatnya. Wanita itu meronta dan menangis sejadi-jadinya.

“AKU MAU JEFFRY. JEFFRY JANGAN PERGIIIII!!! ARRGHHHHH!!!” Anne menjerit seperti kesetanan.

Sosok Jeffry seolah adalah peran utama dalam dunianya. Tidak ada yang bisa merebut Jeffry dari tempat itu. Karena apabila peran utamanya diambil, maka dunia Anne tidak ada apa-apanya. Kosong dan tandus. Dunia Anne hancur. Setelah perjuangannya untuk mengembalikan keluarganya utuh, apakah ini jawabannya? Jawaban yang sangat tidak Anne harapkan. Semua terasa sia-sia.

Lalu, untuk siapa Anne harus hidup, kalau tujuan hidupnya saja sudah tiada?

To be continued

Buku dan Flashdisk

Suara berisik dari orang yang sedang memukul dinding itu tidak mampu membuyarkan saripati Anne pada rumah mewah ini. Ia menatap sekeliling, sambil berkutat dengan pikirannya sendiri. Mengapa lelaki yang mengaku Jeffry memaksa Anne untuk merenovasi rumah ini?

Ngomong-ngomong soal mimpi, bagaimana Anne bisa tahu bahwa yang ada di mimpinya itu bukan Jeffry suaminya? Awalnya Anne berpikir, selama ini ia memimpikan Jeffry karena efek kerinduan nya yang semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Ia membutuhkan Jeffry, ia menginginkan Jeffry, ia merindukan Jeffry, sampai-sampai terbawa mimpi. Akan tetapi, semakin lama Anne semakin sadar, kalau ia memimpikan orang asing. Bukan orang asing lebih tepatnya, tetapi Anne memimpikan Jeffry yang asli.

Dimimpi Anne, Jeffry selalu mengenakan setelan serba putih, dengan wajah yang sayu dan pucat, serta rambut yang berantakan. Perawakannya persis seperti Jeffry suaminya. Akan tetapi ada yang membedakan mereka kedua.

Tanda lahir pada pelipis sebelah kanan, suaminya tidak memiliki itu.

Anne semakin yakin bahwa dirinya memimpikan Jeffry asli, saat dirinya tidak sengaja melihat foto keluarga Pak Adhi di foto album yang disita sang ayah. Foto Pak Adhi dengan mengenakan seragam kepala polisi nya, tengah duduk di tengah-tengah istri dan anaknya. Terlihat seperti keluarga bahagia. Dan saat itu Anne menyadari sesuatu, bahwa Jeffry yang asli, memiliki tanda lahir yang kecil di pelipis kanannya.

Tapi apa tujuan lelaki itu datang ke mimpi Anne dan memaksnya untuk merenovasi rumah ini? Dan dimana makam Jeffry berada? Bodohnya Anne baru sadar sekarang.

“Mbak ....”

Anne menoleh ke belakang saat seseorang memanggilnya, “Iya pak?”

“Ini, saya temuin buku di bawah lantai kamar Pak Adhi.”

“Di bawah lantai?” Anne nampak bingung.

“Iya mbak. Kan kamar Pak Adhi lantainya terbuat dari kayu, tadi saya sempat kesandung, terus lantai kayunya kayak kebuka sedikit. Waktu saya benerin, saya malah temuin buku ini.” Ungkap orang yang Anne sewa untuk merenovasi rumah ini, sembari menyodorkan buku berwarna hitam padanya.

“Ohhh, terima kasih ya pak.” Anne yang masih bingung kenapa orang itu memberikannya buka pribadi yang entah milik siapa itu. Mau tidak mau Anne menerimanya. Dan orang itu berlalu pergi.

Sebenarnya Anne selalu menjaga privasi orang. Jika Anne dititipkan barang oleh orang lain, Anne tidak akan lancang untuk membuka atau menggunakan barang orang tersebut, termasuk orang terdekatnya. Karena Anne pikir bahwa ia tidak memiliki hak untuk itu. Tapi entah mengapa, buku ini seolah menghipnotis Anne untuk membukanya. Hanya melihat covernya yang berwarna hitam polos itu, membuat Anne penasaran dengan isi buku ini.

Karena ia paling benci dibuat penasaran, Anne membuka buku tersebut. Toh, orangnya juga udah tidak ada kan?

Halaman pertama, memperlihatkan coretan tulisan Pak Adhi yang penuh dengan huruf latin. Sepertinya ini adalah buku diary lelaki tua itu. Karena mayoritas bukunya berisi aktivitas sehari-hari Pak Adhi. Anne membuka lembaran demi lembaran, sampai pada lembaran tengah buku itu, terdapat sebuah flashdisk berukuran kecil berwarna abu-abu. Alis Anne berkerut, flashdisk apa ini?

Kembali lagi, karena Anne paling benci dengan rasa penasaran, Anne melangkah keluar dari rumah itu menuju mobilnya. Kebetulan ia membawa laptop yang ia simpan di kursi belakang mobilnya.

Saat sampai di dalam mobil, Anne mengambil laptopnya, menyalakan benda ramping itu, lalu menancapkan flashdisk yang ia pegang pada laptop miliknya.

Tidak ada apa-apa, hanya ada satu video berjudul 'malam itu'. Sejenak Anne menggigit ibu jarinya. Apakah perbuatannya ini benar? Atau justru salah dan jadi boomerang buatnya nanti? Akan tetapi, rasa penasarannya sudah memuncak.

Setelah satu menit ia habiskan untuk berpikir, Anne memutuskan untuk membuka video tersebut. Video berdurasi lima menit yang direkam dengan kamera handphone. Ditengah ruangan yang sedikit gelap karena minimnya lampu pencahayaan, terdapat dua orang yang sedang bercekcok. Anne sedikit memicingkan matanya, sangat serius menonton video tersebut. Dan Anne baru sadar kalau dua orang yang sedang bercekcok itu adalah Pak Adhi dan Jeffry. Entah mereka sedang mempermasalahkan apa? Tapi samar-samar Anne mendengar kalau Pak Adhi sangat menentang tujuan hidup putranya itu.

Yang awalnya ekspresi Anne nampak biasa, semakin lama ekspresi itu berubah menjadi sangat serius. Atensi Anne sudah terpaku pada video tersebut. Sampai pada akhirnya Anne dibuat terkejut bukan main. Ia menutup mulutnya dan kedua mata yang hampir keluar dari tempatnya. Terdengar suara pukulan berkali-kali pada video itu, membuat wanita pemilik nama Elaine Khalida itu merasa kalau tidak seharusnya ia membuka video ini.

Dan video itu berakhir. Anne masih terduduk kaku di dalam mobilnya. tangannya perlahan turun dari mulutnya, kini menuju jantungnya yang berdetak sangat kencang. Dengan masih sedikit syok, Anne kembali membuka buku tersebut. membuka lembaran-lembaran kusam itu, siapa tahu Pak Adhi menuliskan sesuatu soal kejadian di dalam video tersebut.

Benar saja, pada halaman terakhir, Pak Adhi menulis,

'Aku menyayangi putra ku. Hanya dia satu-satunya putra yang aku punya. Aku memintanya untuk sekolah polisi, supaya dia bisa menjadi penerus ku nantinya. Tapi aku sangat marah, waktu dia dengan bersikeras tidak mau menjadi polisi seperti ayahnya. Dia bilang 'Polisi itu sampah, bisanya malakin duit orang aja tapi nggak bisa menegakkan keadilan.' Dia malah mau jadi anak band yang aku tahu sekali pasti suatu saat nanti, masa depan anak ku pasti tidak jelas. Tapi dia masih memaksa aku untuk mendukung tujuan hidupnya, membuat aku sangat marah dan mau menghukumnya. Ditengah aku menendang perutnya, aku tidak sadar kalau tangan ini tiba-tiba mengambil asbak yang ada di meja kerja ku, lalu aku memukul kepala anak ku berkali-kali sampai dia tidak bernapas lagi. Aku bingung harus bagaimana? Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ku karena dicap sebagai pembunuh anak ku sendiri. Istri ku yang melihatnya, menyarankan aku untuk menyembunyikan mayat anak ku. Aku menurutinya.

Nak, bukannya ayah jahat sama kamu. Maafkan ayah, ayah cuma mau yang terbaik buat kamu. Tapi karena kamu menentangnya, jangan salahkan ayah atas perbuatan ini. Semoga kamu tenang disana.'

Anne menutup buku tersebut. Air matanya terjatuh. Sangat sakit waktu membaca deretan kalimat yang ditulis oleh Pak Adhi. Ayah paling kejam yang pernah ada di dunia ini. Ayah mana yang tega membunuh anaknya, dan menyembunyikan anak biologisnya sendiri?

Setelah menonton video tadi, Anne semakin yakin akan alasan mengapa Pak Rudy dijadikan kambing hitam oleh Pak Adhi. Karena Pak Rudy memegang bukti kuat saat Pak Adhi membunuh Jeffry, lalu menyembunyikan mayat Jeffry di balik dinding rumahnya sendiri.

To be continued...

Balas Dendam

“Anne!”

“Bangun, Ann.”

“Kamu harus bangun.”

“Kamu udah janji mau renov rumah itu, kan?”

“Jangan mati dulu.”

“ANNE!!!”

Anne mengerjapkan kedua matanya perlahan saat mendengar bisikan yang datang entah dari mana. Kepalanya terasa sangat berat. Berat sekali. Sampai mengangkat kepalanya dari meja pun ia tidak sanggup.

Tunggu? Dimana ini?

Anne seketika menegakkan kepalanya, walau kepalanya masih terasa sangat pusing tujuh keliling. Ia masih di meja makan rumah Tio. Di tempat yang sama, namun ada yang berbeda.

Dimana Luna?

Gadis kecil itu sudah tidak ada di tempat duduknya. Terakhir Anne melihat Luna sedang bercanda gurau dengan Tio. Menunjukkan senyum paling bahagia yang pernah ada. Seakan melupakan ayah kandungnya yang sudah lama tidak pulang. Tapi sekarang ia menghilang.

Perasaan Anne seketika tidak enak. Wanita itu mencoba untuk beranjak dari duduknya. Akan tetapi kepalanya sangat pusing. Sekuat tenaga Anne mencoba untuk berdiri. Kenapa dirinya tiba-tiba seperti ini? Apa ini efek teh yang ia minum tadi?

Tunggu, teh?

Anne tersadar sesuatu. Tidak, tidak mungkin. Wanita itu menggeleng cepat. Berusaha menghilangkan pikiran negatif yang mengerubungi otaknya saat ini.

Tio lelaki yang baik.

Ya, Tio baik.

Dengan tertatih-tatih, Anne melangkahkan kakinya keluar dari ruang tersebut. Samar-samar terdengar suara Tio yang sedang menelepon seseorang. Dan ya, lelaki itu kini berada di dapur, berdiri membelakangi Anne.

“Thanks kak, udah pinjemin rumah buat gue.” Ucap Tio pada seseorang di seberang sana.

Anne bersandar pada pintu, diam-diam menguping pembicaraan Tio. Entah mengapa dirinya harus bertindak sangat hati-hati seperti ini. Bukankah menurut Anne kalau Tio itu adalah lelaki yang baik?

“Iya, tenang. Gue pasti bakal bunuh dia. Sekarang dia lagi masuk ke dalam perangkap gue.”

Anne semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan dua orang tersebut. Bunuh siapa?

“Kak. Lo tau sendiri kan dia yang bikin istri gue, sekaligus adik kandung lo mati? Anak gue juga diculik sama dia, kak. Sekarang Luna udah gue amanin. Tinggal gue bunuh cewek bajingan ini.”

“Iya ya, gue bakal hilangin jejak kalo udah bunuh dia. Rumah lo bakal aman kok.”

Tidak ada yang lebih hancur dari perasaan Anne saat ini. Jadi sedari tadi Tio membicarakan dirinya. Membicarakan kalau lelaki yang selama ini Anne percayai, akan membunuhnya. Pasalnya, tidak aa orang lain yang berkunjung selain Anne hari ini. Dan Luna sudah di bawa Tio entah kemana.

'Laki-laki brengsek!!' Batin Anne.

Tidak ada waktu lagi. Anne harus pergi dari rumah Tio, bukan, tepatnya rumah kakak ipar Tio. Entah apa tujuan lelaki munafik itu ingin membunuh Anne. Yang jelas, Anne masih belum mau mati. Belum saatnya ia mati. Anne masih belum membereskan masalah keluarganya. Anne tidak mau mati dengan sia-sia.

PRAANGGGG!!!

Karena kepalanya yang masih terasa pusing, Anne tidak sengaja menjatuhkan vas bunga saat dirinya hendak melangkah mundur. Hal tersebut membuat atensi Tio saat ini fokus pada suara itu.

“Kak, nanti gue telepon lagi.” Pungkas Tio dan langsung mematikan telepon dari kakak iparnya itu.

Detak jantung Anne semakin berpacu dengan cepat. Sebisa mungkin dirinya berusaha untuk fokus walau matanya masih terasa berat. Ini efek obat tidur dari teh pemberian Tio yang tadi Anne minum. Persis seperti Jeffry dulu. Tidak seharusnya Anne meminum teh itu.

Dan tidak seharusnya Anne percaya pada lelaki bermuka dua ini.

Tidak ada waktu yang tersisa lagi. Derap langkahan Tio terdengar semakin mendekat. Anne menoleh ke kanan dan ke kiri. Setidaknya ada tempat yang bisa dirinya tempati untuk bersembunyi. Wanita bersurai hitam legam itu diam-diam keluar dari ruang makan dan naik ke lantai dua. Dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya itu, Anne masih berjalan dengan sempoyongan. Sekali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan lelaki keji itu tidak berada dibelakangnya.

Setelah sampai di lantai dua, Anne menemukan suatu ruangan-seperti kamar pribadi yang cukup luas-. Tanpa basa-basi lagi, Anne langsung masuk ke dalam ruangan tersebut menuju lemari yang berukuran setinggi badan manusia. Dan Anne langsung masuk ke dalam sana. Bersembunyi di balik beberapa baju yang tergantung bebas di atasnya.

Semuanya sunyi seketika. Tidak ada suara yang terdengar selain deru napas Anne yang terdengar cepat dan memburu. Jantungnya semakin berdetak cepat, seakan sebentar lagi mau lepas dari tempatnya. Disini begitu gelap dan pengap. Anne hanya mendapatkan udara dan cahaya lewat sela-sela lemari yang terbuka sedikit. Sungguh tidak ada ruang lagi.

Tubuh Anne mulai bergetar. Sudah berapa kali Anne menggigit kukunya untuk menghilangkan rasa takut yang luar biasa pada dirinya, namun tidak berhasil. Bolehkah Anne berharap kalau Jeffry tiba-tiba datang ke sini, membuka pintu lemari itu lalu memeluknya dengan erat? Walaupun lelaki itu sudah pergi meninggalkannya, namun Anne masih tetap membutuhkan kehadiranJeffry. Hanya nama lelaki itu yang sedari tadi memenuhi otaknya disaat Anne sedang dalam bahaya.

“Jeff ... takut ....” Bisik Anne dengan nada lirih. Sepertinya Anne akan ambruk sebentar lagi.

BRUUAAKKK!!!

Bunyi dobrakan keras itu membuat Anne terjengat. Dadanya terasa semakin sesak, saat lelaki yang mengincarnya kini masuk ke dalam kamar tempat dimana Anne sedang bersembunyi. Dibalik sela lemari, Anne melihat Tio berjalan dengan angkuh, jauh berbeda dari Tio yang kemarin Anne kenal. Atensi Anne kini berpindah pada pisau dapur yang digenggam Tio. Pisau yang terlihat masih baru.

“GUE TAHU LO DISINI, ANN. KELUAR NGGAK!!!” Teriak Tio dengan lantang. Nampak begitu yakin jika mangsanya sedang bersembunyi disini.

Anne semakin meringkuk. Sekuat tenaga menenangkan deru napasnya yang memburu. Bisa-bisa Tio bisa mendengar suara napasnya, saking sepinya tempat ini. Seperti bom waktu, yang bisa meledak kapan saja. Sekalinya Anne bersuara, nyawanya bisa dipastikan akan melayang.

Tio masih sibuk mencari keberadaan Anne. Lelaki berkaos oblong hitam itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mengelilingi ruang putih ini dengan sangat teliti. Anne masih berusaha untuk tenang. Ia hanya butuh berdiam diri saja sampai Tio benar-benar pergi dari sini, kemudian dirinya akan kabur melalui jendela kaca yang berada di seberangnya.

“Kalo lo ketangkep basah sama gue, lo bakal mati di tangan gue, Ann.” Ancam Tio kemudian. Lelaki itu benar-benar murka. Karena ia pikir rencananya akan berjalan dengan lancar. Hanya dengan memberi obat tidur di minuman Anne dan Luna. Menculik Luna dan membawanya ke rumah asli Tio, lalu membunuh wanita yang membuat dirinya kehilangan segalanya. Akan tetapi, entah karena Anne yang terlalu cerdik, atau Tuhan benar-benar berpihak pada wanita itu, semuanya menjadi gagal. Dan saat ini, Tio ingin membereskan semuanya. Sehingga ia bisa hidup bahagia bersama putri semata wayangnya itu.

Anne langsung menutup mulut dengan tangannya rapat-rapat, saat posisi Tio tepat berada di depan lemari ini. Berdiri tegak dan tidak bergerak sama sekali. Jangan sampai lelaki itu tahu kalau mangsanya ada disini. Hanya selang 2 menit, akhirnya Tio beranjak dari tempatnya berdiri. Terlihat Tio ingin meninggalkan kamar tersebut, membuat Anne bisa bernapas dengan lega.

Akan tetapi, baru sampai di ambang pintu langkahan Tio terhenti. Merasa seperti ada yang janggal dengan lemari putih itu. Ia lalu berbalik. Dan benar saja, dirinya melihat sehelai gaun yang dipakai Anne tadi terjepit di sela-sela pintu lemari. Tio seketika tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa menemukan wanita itu.

Detik kemudian Tio duduk di atas kasur yang terletak tak jauh dari sana. Duduk menghadap lemari dengan kedua tangan yang sedikit melebar kebelakang untuk menumpukan tubuhnya.

“Anne ... Anne ....” Tio menggeleng pelan. Ia memajukan tubuhnya sedikit. “Mau mendengarkan sebuah cerita?”

Tentu saja Anne tidak menjawab. Anne hanya diam di balik lemari tersebut. Diam seperti patung yang bernapas.

“Istri gue ... lo pasti penasarankan apa yang terjadi sama istri gue sampai dia mati secara mengenaskan?” Tio bermonolog.

Lelaki itu memainkan pisau nya, memutar benda tajam itu berkali-kali dengan ke lima jarinya. “Oh ya, lo belum tahu ya namanya siapa? Tapi kalo gue sebutin, lo pasti langsung inget dosa-dosa lo di masa lalu.”

Anne mulai merasa bingung. Dosa apa? ia tidak paham dengan perkataan Tio yang terdengar ngelantur itu.

“Denada Parmadita Gantari. Lo pasti nggak asing sama nama itu, bukan?” Tio mulai menunjukkan smirk jahatnya.

Anne terkejut bukan main. Begitu akurat dugaan Tio, Anne sangat mengenali nama itu. Nada, wanita yang sempat dekat dengannya dulu. Teman seperjuangan yang sering berbagi keluh kesah bersama, walau hanya sementara. Pertemuan pertama mereka di rumah sakit. Tepatnya saat Anne ingin berkonsultasi soal kehamilannya yang tak kunjung terjadi. Ia tidak sengaja bertemu dengan Nada dalam kondisi hamil tua saat itu. Membuat Anne iri padanya. Tapi tak disangka, bahwa Nada adalah istri yang diceritakan Tio.

Bisa dibilang, Luna adalah anak biologis dari Tio dan Nada.

“Dulu, waktu gue masih jalanin masa tahanan gue, ekonomi keluarga gue lagi terpuruk. Gue nggak bisa nafkahin istri gue, istri gue nggak bisa cek kehamilan, nggak bisa beli susu hamil, padahal posisi dia lagi hamil tua. Dia udah capek-capek keliling buat jualan kue, tapi tetep aja penghasilannya cuma cukup buat dia makan doang. Suami macam apa gue? cuma bisa diem di penjara, sedangkan istri gue berjuang sendiri di luar sana. Orang tua nggak ada yang bisa bantu. Lo bisa bayangin jadi gue pusingnya gimana, Ann.”

“Sampai suatu hari, Nada mampir ngunjungin gue. Dia cerita, kalo dia baru aja ketemu lo di rumah sakit. Dan gue dengerin cerita dia tentang lo yang nggak bisa hamil. Tapi lo pernah mikir nggak sih, betapa bejadnya lo malah nawarin dia buat ambil anak gue dan ganti pake duit yang lo sebut ratusan juta itu?” Tio tertawa remeh. Merasa dirinya berada di puncak komedi.

“Gue marah, Ann. Gue sampe mikir nih cewek titisan iblis atau apa? Tapi, gue makin marah waktu Nada bilang buat mempertimbangkan tawaran lo. Nada tiba-tiba nyalahin gue, dia bilang ini semua karena gue. Gara-gara gue, dia hidupnya sengsara. Dijauhi sama semua orang karena gue. Gue hampir gila rasanya. Begitu begonya, dengan rasa bersalah gue, gue malah nge iyain apa mau dia. Gue cuma mau Nada bahagia, dapet apa yang dia mau. Gue udah nggak mikirin nasib anak gue gimana nantinya. Toh, dia bakal hidup bahagia sama keluarga barunya.”

Tio bangun dari duduknya. Dengan amarah yang sudah memuncak, ia berjalan menuju lemari yang berada di depannya itu. Ia begitu yakin bahwa Anne pasti ada di dalam sana.

“TAPI KENAPA LO MALAH BUNUH DIA BANGSAT!!!”

Tio membuka paksa lemari tersebut dan langsung menjambak rambut Anne. Menarik tubuh mungil itu untuk keluar dari dalam lemari.

“TIOO!!” Pekik Anne kesakitan.

Tio menghempaskan tubuh Anne dengan kasar. Layaknya membuang sampah. Anne yang tidak memiliki tenaga yang kuat, terhuyung ke lantai.

“Kenapa lo bunuh istri gue? Biar lo bisa ambil anak gue dengan seutuhnya tanpa gangguan istri gue, IYYAA?!!!!” Tio mulai geram. Tidak ada rasa ampun di raut wajah itu. Tidak terlalu peduli dengan ekpresi kesakitan Anne. Yang ada dipikirannya kini hanya ingin menghabiskan atasannya ini.

“Padahal Nada cuma mau liat anaknya, Ann. Anak yang dia kandung 9 bulan, anak yang dia lahirkan dengan penuh perjuangan, sendirian. Lo tuh iblis, lo pembunuh!!!” Tuduh Tio dengan penuh penekanan. Melihat Tio yang mulai mendekatinya, Anne mundur perlahan dengan tertatih.

“Dan sekarang, lo harus bayar semuanya. Nyawa ... diganti sama nyawa!” Tio semakin mendekat sambil sedikit mengangkat tangannya. Seperti sudah siap untuk menghujami dada Anne dengan pisau ini. Persis seperti yang ia lakukan pada ayah mertuanya itu.

“Tio ... tunggu. Aku bisa jelasin-”

“Udah terlambat, Ann. Gue nggak butuh penjelasan lo. Penjelasan lo nggak bisa bikin Nada hidup lagi!” Lelaki jangkung itu mulai menangis. Menangis dengan diiringi isakan yang pedih. Merasa kehilangan yang amat terdalam. Bertahun-tahun Tio hidup seorang diri. Ditemani oleh bayangan sang istri, dan hanya bisa memantau sang anak dari jauh. Hanya itu aktivitas Tio selama bebas dari penjara. Waktu itu dirinya belum memiliki keberanian dan kekuasaan untuk merebut Luna begitu saja. Maka dari itu, Tio memilih untuk mendekam di rumahnya, sedikit demi sedikit ia mengatur rencana yang licik supaya Luna bisa kembali ke pelukannya.

“Lo yang bikin keluarga gue hancur berantakan. Gue kehilangan istri gue, anak gue, kebahagiaan gue. Lo renggut semuanya!”

Amarah menguasai tubuh Tio saat ini. Amarah yang tidak dapat terbendung lagi. Melihat Anne yang tidak ada inisiatif untuk meminta maaf apalagi mengingat kesalahannya, membuat Tio semakin marah. Kini, niatnya untuk membunuh Anne sudah memuncak.

“Sekarang lo harus ganti, Ann. Gue nggak mau tahu, lo harus ganti nyawa istri gue!”

Kali ini Anne sudah pasrah. Ia memejamkan kedua matanya sambil mengucapkan selamat tinggal untuk sang suami dan anaknya yang entah dimana.

Sudah kurang lebih 15 detik Anne memejamkan matanya, tapi Tio tak kunjung menusuknya. Saat Anne membuka matanya, ia terkejut saat ada punggung seorang lelaki yang berdiri membelakangi nya. Lelaki itu memakai hoodie hitamnya, dengan kepala yang tertutup dengan topi hoodie. Punggungnya kekar dan lebar. Mengingatkan Anne akan punggung milik ....

“Jeff ....” Panggil Anne dengan ragu. Berharap besar bahwa itu memang lelakinya.

Tidak ada jawaban. Anne melirik tangan lelaki itu, tangan itu sedang memegang pisau yang mengarah tepat di depan dadanya. Menggenggam bilah pisau itu dengan kedua tangannya, seolah menahan pisau itu untuk melukai Anne.

“Ann ....” Dan benar saja, suara berat ala Jeffry terdengar kemudian. Anne semakin yakin bahwa yang sedang menghalanginya saat ini adalah suaminya. “Kamu lari sekarang. Biar aku yang urus semua ini.”

Jeffry terdengar kesakitan. Bagaimana tidak, bilah pisau itu masih sangat tajam. Dan ia berusaha keras menggenggam nya dan menghalangi Tio untuk menjalankan rencana licik nya. Kedua lelaki itu saling menatap sangat tajam, melebihi tajam nya pisau yang sedang mereka genggam.

“Ann, jangan bengong. Lari!!”

“Tapi. Aku nggak bisa tinggalin kamu.”

“Luna ada di luar.” Potong Jeffry dengan cepat.

“Luna?”

“Dia nunggu kamu. Dia cari kamu, Ann. Temui dia. Biar aku yang habisin laki-laki gila ini.” Suara Jeffry terdengar ngos-ngosan.

Anne semakin bingung. Disisi lain ia tidak bisa meninggalkan Jeffry yang menantang maut sendirian. Tapi disisi lain juga, Luna ada di luar, Anne sangat ingin mengecek keadaan putiri semata wayang nya itu. Melihat Tio yang seperti dirasuki oleh iblis, membuat Anne semakin overthingking. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalau Tio bekerja sama dengan kakak iparnya untuk menculik Luna lagi.

Anne lalu melirik tangan Jeffry yang mulai meneteskan darah. Darah segarnya jatuh ke permukaan. Menandakan kalau pisau itu memang sangatlah tajam.

“Ann ....” Sekali lagi Jeffry memanggil nama Anne, namun dengan tatapan lekatnya tertuju pada istrinya, “Aku mohon, pergi dari sini sekarang. Aku nggak papa, hm.” Ucap Jeffry menenangkan Anne, tak lupa diiringi senyum yang menenangkan itu. Pertama kali Jeffry tersenyum seperti ini setelah pertikaian yang terjadi diantara mereka berdua.

Mau tidak mau, Anne hanya mengangguk menurut. Tangisannya seketika pecah. Sejahat apapun Jeffry padanya, akan tetapi lelaki itu sebenarnya masih peduli. Tidak memikirkan rasa benci yang masih tersisa di relung hatinya sampai saat ini, tapi kalau bersama Anne, entah kenapa Jeffry tidak bisa sedikitpun menyakiti wanita itu.

Karena tidak ingin darah Jeffry mengalir lebih deras, Anne akhirnya pergi dari sana. Meninggalkan kedua lelaki itu untuk bertarung. Lari secepat mungkin, walau dengan kondisi masih sempoyongan. Dalam hati Anne berdo'a untuk keselamatan suami tercintanya.

Saat sampai di pintu utama, Anne sibuk mencari kunci. Jangan bilang kuncinya dibawa sama Tio. Setelah Anne mencari mulai dari di atas meja dekat pintu, rak sepatu, beberapa pot tanaman, hasilnya nihil. Anne tidak menemukan kunci itu.

Anne akhirnya menuju ruang tamu. mencari benda yang setidaknya bisa membuka pintu rumah ini. Dan matanya menemukan pemukul baseball yang terletak di ujung ruangan. Tanpa berbasa-basi lagi, Anne langsung mengambil tongkat tersebut lalu memukul ganggang pintu dengan sangat kencang. Memukulnya berkali-kali sampai ada tanda-tanda pintu tersebut terbuka.

Dengan menggunakan tenaga yang tersisa, Anne akhirnya berhasil membuka pintu. Ia langsung keluar dan berlari. Mencari keberadaan Luna yang tak kunjung ia temukan. Rumah kakak ipar Tio ini halamannya sangat luas. Anne harus berjalan 3 meter lagi untuk menuju gerbang. Dengan kaki yang telanjang, Anne masih ingin melangkah. Yang ada diotaknyas aat ini hanyalah keselamatan keluarganya. Jeffry dan Luna, semoga mereka tidak kenapa-napa.

Terderngar suara gerbang terbuka. Terlihat banyak polisi yang berjaga di luar gerbang tersebut, serta ayahnya, Pak Josh yang entah keluar dari rumah sakit dari kapan, kini sedang menggendong Luna. Kondisi anak itu sama lemasnya seperti Anne.

“Bundaaaa ....” Teriak lirih sang putri di gendongan sang ayah. Tangisan Anne seketika pecah. Begitu takutnya Anne kalau tidak bisa bertemu dengan Luna lagi. Dan begitu traumanya dirinya saat ini. Entah, untuk percaya pada siapapun Anne sudah sangat takut.

Anne menghampiri Luna dan Pak Josh, disaat para polisi berlari menuju dalam rumah. Menggerebek rumah minimalis nan modern itu. Anne lalu mengusap rambut sang anak, kemudian menempelkan dahinya ke dahi Luna. Mereka menangis bersama. Hatinya kini lega, tapi belum sangat lega karena Jeffry masih ada di dalam. Hatinya tidak bisa tenang kalau Jeffry belum keluar dalam kondisi selamat.

“Jeffry ada di dalam yah. Selamatin dia.” Ucap Anne memohon pada ayahnya.

“Yaudah kamu gendong Luna dulu. Ayah ke dalam, ya.” Jawab Pak Josh sambil memindahkan gendongannya ke Anne.

Sudah 15 menit berlalu, Beberapa polisi masih berkutat di dalam rumah, dan polisi lainnya sedang berada di luar. Anne dan Luna saat ini sedang diamankan. Duduk di dekat ambulan dengan selimut yang membalut bahu mereka sambil memegang segelas teh hangat pemberian petugas ambulan tersebut. Anne hanya memegangnya, tidak meminumnya. Setelah susu, kini Anne takut untuk meminum teh.

Beberapa detik selanjutnya, Pak Josh menghampiri Anne. Di belakangnya terlihat Tio yang sudah dibekuk oleh dua polisi dan digiring menuju mobil yang sudah terparkir di depan gerbang.

“Dimana Jeffry yah?” Tanya Anne dengan raut wajah tidak tenang.

“Ayah tidak menemukan Jeffry, Ann. Suami kamu hilang.”

“Apa? hilang?” Tanya Anne tidak percaya. “Jelas-jelas tadi Jeffry datang buat nyelametin Anne yah. Nggak mungkin dia hilang.”

“Iya ayah tahu. Tapi ayah cuma temuin banyak bercak darah di lantai. Dilihat kondisi kamu sama Tio yang nggak terluka sama sekali, bisa dipastikan itu darah suami kamu.”

Tubuh Anne langsung melemas. Pikirannya semakin kacau. Kemana Jeffry? Lelaki itu pasti terluka. Mungkin saat ini, Anne tidak diizinkan untuk hidup tenang sedikitpun.

To Be Continued

Balas Dendam

“Anne!”

“Bangun, Ann.”

“Kamu harus bangun.”

“Kamu udah janji mau renov rumah itu, kan?”

“Jangan mati dulu.”

“ANNE!!!”

Anne mengerjapkan kedua matanya perlahan saat mendengar bisikan yang datang entah dari mana. Kepalanya terasa sangat berat. Berat sekali. Sampai mengangkat kepalanya dari meja pun ia tidak sanggup.

Tunggu? Dimana ini?

Anne seketika menegakkan kepalanya, walau kepalanya masih terasa sangat pusing tujuh keliling. Ia masih di meja makan rumah Tio. Di tempat yang sama, namun ada yang berbeda.

Dimana Luna?

Gadis kecil itu sudah tidak ada di tempat duduknya. Terakhir Anne melihat Luna sedang bercanda gurau dengan Tio. Menunjukkan senyum paling bahagia yang pernah ada. Seakan melupakan ayah kandungnya yang sudah lama tidak pulang. Tapi sekarang ia menghilang.

Perasaan Anne seketika tidak enak. Wanita itu mencoba untuk beranjak dari duduknya. Akan tetapi kepalanya sangat pusing. Sekuat tenaga Anne mencoba untuk berdiri. Kenapa dirinya tiba-tiba seperti ini? Apa ini efek teh yang ia minum tadi?

Tunggu, teh?

Anne tersadar sesuatu. Tidak, tidak mungkin. Wanita itu menggeleng cepat. Berusaha menghilangkan pikiran negatif yang mengerubungi otaknya saat ini.

Tio lelaki yang baik.

Ya, Tio baik.

Dengan tertatih-tatih, Anne melangkahkan kakinya keluar dari ruang tersebut. Samar-samar terdengar suara Tio yang sedang menelepon seseorang. Dan ya, lelaki itu kini berada di dapur, berdiri membelakangi Anne.

“Thanks kak, udah pinjemin rumah buat gue.” Ucap Tio pada seseorang di seberang sana.

Anne bersandar pada pintu, diam-diam menguping pembicaraan Tio. Entah mengapa dirinya harus bertindak sangat hati-hati seperti ini. Bukankah menurut Anne kalau Tio itu adalah lelaki yang baik?

“Iya, tenang. Gue pasti bakal bunuh dia. Sekarang dia lagi masuk ke dalam perangkap gue.”

Anne semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan dua orang tersebut. Bunuh siapa?

“Kak. Lo tau sendiri kan dia yang bikin istri gue, sekaligus adik kandung lo mati? Anak gue juga diculik sama dia, kak. Sekarang Luna udah gue amanin. Tinggal gue bunuh cewek bajingan ini.”

“Iya ya, gue bakal hilangin jejak kalo udah bunuh dia. Rumah lo bakal aman kok.”

Tidak ada yang lebih hancur dari perasaan Anne saat ini. Jadi sedari tadi Tio membicarakan dirinya. Membicarakan kalau lelaki yang selama ini Anne percayai, akan membunuhnya. Pasalnya, tidak aa orang lain yang berkunjung selain Anne hari ini. Dan Luna sudah di bawa Tio entah kemana.

'Laki-laki brengsek!!' Batin Anne.

Tidak ada waktu lagi. Anne harus pergi dari rumah Tio, bukan, tepatnya rumah kakak ipar Tio. Entah apa tujuan lelaki munafik itu ingin membunuh Anne. Yang jelas, Anne masih belum mau mati. Belum saatnya ia mati. Anne masih belum membereskan masalah keluarganya. Anne tidak mau mati dengan sia-sia.

PRAANGGGG!!!

Karena kepalanya yang masih terasa pusing, Anne tidak sengaja menjatuhkan vas bunga saat dirinya hendak melangkah mundur. Hal tersebut membuat atensi Tio saat ini fokus pada suara itu.

“Kak, nanti gue telepon lagi.” Pungkas Tio dan langsung mematikan telepon dari kakak iparnya itu.

Detak jantung Anne semakin berpacu dengan cepat. Sebisa mungkin dirinya berusaha untuk fokus walau matanya masih terasa berat. Ini efek obat tidur dari teh pemberian Tio yang tadi Anne minum. Persis seperti Jeffry dulu. Tidak seharusnya Anne meminum teh itu.

Dan tidak seharusnya Anne percaya pada lelaki bermuka dua ini.

Tidak ada waktu yang tersisa lagi. Derap langkahan Tio terdengar semakin mendekat. Anne menoleh ke kanan dan ke kiri. Setidaknya ada tempat yang bisa dirinya tempati untuk bersembunyi. Wanita bersurai hitam legam itu diam-diam keluar dari ruang makan dan naik ke lantai dua. Dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya itu, Anne masih berjalan dengan sempoyongan. Sekali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan lelaki keji itu tidak berada dibelakangnya.

Setelah sampai di lantai dua, Anne menemukan suatu ruangan-seperti kamar pribadi yang cukup luas-. Tanpa basa-basi lagi, Anne langsung masuk ke dalam ruangan tersebut menuju lemari yang berukuran setinggi badan manusia. Dan Anne langsung masuk ke dalam sana. Bersembunyi di balik beberapa baju yang tergantung bebas di atasnya.

Semuanya sunyi seketika. Tidak ada suara yang terdengar selain deru napas Anne yang terdengar cepat dan memburu. Jantungnya semakin berdetak cepat, seakan sebentar lagi mau lepas dari tempatnya. Disini begitu gelap dan pengap. Anne hanya mendapatkan udara dan cahaya lewat sela-sela lemari yang terbuka sedikit. Sungguh tidak ada ruang lagi.

Tubuh Anne mulai bergetar. Sudah berapa kali Anne menggigit kukunya untuk menghilangkan rasa takut yang luar biasa pada dirinya, namun tidak berhasil. Bolehkah Anne berharap kalau Jeffry tiba-tiba datang ke sini, membuka pintu lemari itu lalu memeluknya dengan erat? Walaupun lelaki itu sudah pergi meninggalkannya, namun Anne masih tetap membutuhkan kehadiranJeffry. Hanya nama lelaki itu yang sedari tadi memenuhi otaknya disaat Anne sedang dalam bahaya.

“Jeff ... takut ....” Bisik Anne dengan nada lirih. Sepertinya Anne akan ambruk sebentar lagi.

BRUUAAKKK!!!

Bunyi dobrakan keras itu membuat Anne terjengat. Dadanya terasa semakin sesak, saat lelaki yang mengincarnya kini masuk ke dalam kamar tempat dimana Anne sedang bersembunyi. Dibalik sela lemari, Anne melihat Tio berjalan dengan angkuh, jauh berbeda dari Tio yang kemarin Anne kenal. Atensi Anne kini berpindah pada pisau dapur yang digenggam Tio. Pisau yang terlihat masih baru.

“GUE TAHU LO DISINI, ANN. KELUAR NGGAK!!!” Teriak Tio dengan lantang. Nampak begitu yakin jika mangsanya sedang bersembunyi disini.

Anne semakin meringkuk. Sekuat tenaga menenangkan deru napasnya yang memburu. Bisa-bisa Tio bisa mendengar suara napasnya, saking sepinya tempat ini. Seperti bom waktu, yang bisa meledak kapan saja. Sekalinya Anne bersuara, nyawanya bisa dipastikan akan melayang.

Tio masih sibuk mencari keberadaan Anne. Lelaki berkaos oblong hitam itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mengelilingi ruang putih ini dengan sangat teliti. Anne masih berusaha untuk tenang. Ia hanya butuh berdiam diri saja sampai Tio benar-benar pergi dari sini, kemudian dirinya akan kabur melalui jendela kaca yang berada di seberangnya.

“Kalo lo ketangkep basah sama gue, lo bakal mati di tangan gue, Ann.” Ancam Tio kemudian. Lelaki itu benar-benar murka. Karena ia pikir rencananya akan berjalan dengan lancar. Hanya dengan memberi obat tidur di minuman Anne dan Luna. Menculik Luna dan membawanya ke rumah asli Tio, lalu membunuh wanita yang membuat dirinya kehilangan segalanya. Akan tetapi, entah karena Anne yang terlalu cerdik, atau Tuhan benar-benar berpihak pada wanita itu, semuanya menjadi gagal. Dan saat ini, Tio ingin membereskan semuanya. Sehingga ia bisa hidup bahagia bersama putri semata wayangnya itu.

Anne langsung menutup mulut dengan tangannya rapat-rapat, saat posisi Tio tepat berada di depan lemari ini. Berdiri tegak dan tidak bergerak sama sekali. Jangan sampai lelaki itu tahu kalau mangsanya ada disini. Hanya selang 2 menit, akhirnya Tio beranjak dari tempatnya berdiri. Terlihat Tio ingin meninggalkan kamar tersebut, membuat Anne bisa bernapas dengan lega.

Akan tetapi, baru sampai di ambang pintu langkahan Tio terhenti. Merasa seperti ada yang janggal dengan lemari putih itu. Ia lalu berbalik. Dan benar saja, dirinya melihat sehelai gaun yang dipakai Anne tadi terjepit di sela-sela pintu lemari. Tio seketika tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa menemukan wanita itu.

Detik kemudian Tio duduk di atas kasur yang terletak tak jauh dari sana. Duduk menghadap lemari dengan kedua tangan yang sedikit melebar kebelakang untuk menumpukan tubuhnya.

“Anne ... Anne ....” Tio menggeleng pelan. Ia memajukan tubuhnya sedikit. “Mau mendengarkan sebuah cerita?”

Tentu saja Anne tidak menjawab. Anne hanya diam di balik lemari tersebut. Diam seperti patung yang bernapas.

“Istri gue ... lo pasti penasarankan apa yang terjadi sama istri gue sampai dia mati secara mengenaskan?” Tio bermonolog.

Lelaki itu memainkan pisau nya, memutar benda tajam itu berkali-kali dengan ke lima jarinya. “Oh ya, lo belum tahu ya namanya siapa? Tapi kalo gue sebutin, lo pasti langsung inget dosa-dosa lo di masa lalu.”

Anne mulai merasa bingung. Dosa apa? ia tidak paham dengan perkataan Tio yang terdengar ngelantur itu.

“Denada Parmadita Gantari. Lo pasti nggak asing sama nama itu, bukan?” Tio mulai menunjukkan smirk jahatnya.

Anne terkejut bukan main. Begitu akurat dugaan Tio, Anne sangat mengenali nama itu. Nada, wanita yang sempat dekat dengannya dulu. Teman seperjuangan yang sering berbagi keluh kesah bersama, walau hanya sementara. Pertemuan pertama mereka di rumah sakit. Tepatnya saat Anne ingin berkonsultasi soal kehamilannya yang tak kunjung terjadi. Ia tidak sengaja bertemu dengan Nada dalam kondisi hamil tua saat itu. Membuat Anne iri padanya. Tapi tak disangka, bahwa Nada adalah istri yang diceritakan Tio.

Bisa dibilang, Luna adalah anak biologis dari Tio dan Nada.

“Dulu, waktu gue masih jalanin masa tahanan gue, ekonomi keluarga gue lagi terpuruk. Gue nggak bisa nafkahin istri gue, istri gue nggak bisa cek kehamilan, nggak bisa beli susu hamil, padahal posisi dia lagi hamil tua. Dia udah capek-capek keliling buat jualan kue, tapi tetep aja penghasilannya cuma cukup buat dia makan doang. Suami macam apa gue? cuma bisa diem di penjara, sedangkan istri gue berjuang sendiri di luar sana. Orang tua nggak ada yang bisa bantu. Lo bisa bayangin jadi gue pusingnya gimana, Ann.”

“Sampai suatu hari, Nada mampir ngunjungin gue. Dia cerita, kalo dia baru aja ketemu lo di rumah sakit. Dan gue dengerin cerita dia tentang lo yang nggak bisa hamil. Tapi lo pernah mikir nggak sih, betapa bejadnya lo malah nawarin dia buat ambil anak gue dan ganti pake duit yang lo sebut ratusan juta itu?” Tio tertawa remeh. Merasa dirinya berada di puncak komedi.

“Gue marah, Ann. Gue sampe mikir nih cewek titisan iblis atau apa? Tapi, gue makin marah waktu Nada bilang buat mempertimbangkan tawaran lo. Nada tiba-tiba nyalahin gue, dia bilang ini semua karena gue. Gara-gara gue, dia hidupnya sengsara. Dijauhi sama semua orang karena gue. Gue hampir gila rasanya. Begitu begonya, dengan rasa bersalah gue, gue malah nge iyain apa mau dia. Gue cuma mau Nada bahagia, dapet apa yang dia mau. Gue udah nggak mikirin nasib anak gue gimana nantinya. Toh, dia bakal hidup bahagia sama keluarga barunya.”

Tio bangun dari duduknya. Dengan amarah yang sudah memuncak, ia berjalan menuju lemari yang berada di depannya itu. Ia begitu yakin bahwa Anne pasti ada di dalam sana.

“TAPI KENAPA LO MALAH BUNUH DIA BANGSAT!!!”

Tio membuka paksa lemari tersebut dan langsung menjambak rambut Anne. Menarik tubuh mungil itu untuk keluar dari dalam lemari.

“TIOO!!” Pekik Anne kesakitan.

Tio menghempaskan tubuh Anne dengan kasar. Layaknya membuang sampah. Anne yang tidak memiliki tenaga yang kuat, terhuyung ke lantai.

“Kenapa lo bunuh istri gue? Biar lo bisa ambil anak gue dengan seutuhnya tanpa gangguan istri gue, IYYAA?!!!!” Tio mulai geram. Tidak ada rasa ampun di raut wajah itu. Tidak terlalu peduli dengan ekpresi kesakitan Anne. Yang ada dipikirannya kini hanya ingin menghabiskan atasannya ini.

“Padahal Nada cuma mau liat anaknya, Ann. Anak yang dia kandung 9 bulan, anak yang dia lahirkan dengan penuh perjuangan, sendirian. Lo tuh iblis, lo pembunuh!!!” Tuduh Tio dengan penuh penekanan. Melihat Tio yang mulai mendekatinya, Anne mundur perlahan dengan tertatih.

“Dan sekarang, lo harus bayar semuanya. Nyawa ... diganti sama nyawa!” Tio semakin mendekat sambil sedikit mengangkat tangannya. Seperti sudah siap untuk menghujami dada Anne dengan pisau ini. Persis seperti yang ia lakukan pada ayah mertuanya itu.

“Tio ... tunggu. Aku bisa jelasin-”

“Udah terlambat, Ann. Gue nggak butuh penjelasan lo. Penjelasan lo nggak bisa bikin Nada hidup lagi!” Lelaki jangkung itu mulai menangis. Menangis dengan diiringi isakan yang pedih. Merasa kehilangan yang amat terdalam. Bertahun-tahun Tio hidup seorang diri. Ditemani oleh bayangan sang istri, dan hanya bisa memantau sang anak dari jauh. Hanya itu aktivitas Tio selama bebas dari penjara. Waktu itu dirinya belum memiliki keberanian dan kekuasaan untuk merebut Luna begitu saja. Maka dari itu, Tio memilih untuk mendekam di rumahnya, sedikit demi sedikit ia mengatur rencana yang licik supaya Luna bisa kembali ke pelukannya.

“Lo yang bikin keluarga gue hancur berantakan. Gue kehilangan istri gue, anak gue, kebahagiaan gue. Lo renggut semuanya!”

Amarah menguasai tubuh Tio saat ini. Amarah yang tidak dapat terbendung lagi. Melihat Anne yang tidak ada inisiatif untuk meminta maaf apalagi mengingat kesalahannya, membuat Tio semakin marah. Kini, niatnya untuk membunuh Anne sudah memuncak.

“Sekarang lo harus ganti, Ann. Gue nggak mau tahu, lo harus ganti nyawa istri gue!”

Kali ini Anne sudah pasrah. Ia memejamkan kedua matanya sambil mengucapkan selamat tinggal untuk sang suami dan anaknya yang entah dimana.

Sudah kurang lebih 15 detik Anne memejamkan matanya, tapi Tio tak kunjung menusuknya. Saat Anne membuka matanya, ia terkejut saat ada punggung seorang lelaki yang berdiri membelakangi nya. Lelaki itu memakai hoodie hitamnya, dengan kepala yang tertutup dengan topi hoodie. Punggungnya kekar dan lebar. Mengingatkan Anne akan punggung milik ....

“Jeff ....” Panggil Anne dengan ragu. Berharap besar bahwa itu memang lelakinya.

Tidak ada jawaban. Anne melirik tangan lelaki itu, tangan itu sedang memegang pisau yang mengarah tepat di depan dadanya. Menggenggam bilah pisau itu dengan kedua tangannya, seolah menahan pisau itu untuk melukai Anne.

“Ann ....” Dan benar saja, suara berat ala Jeffry terdengar kemudian. Anne semakin yakin bahwa yang sedang menghalanginya saat ini adalah suaminya. “Kamu lari sekarang. Biar aku yang urus semua ini.”

Jeffry terdengar kesakitan. Bagaimana tidak, bilah pisau itu masih sangat tajam. Dan ia berusaha keras menggenggam nya dan menghalangi Tio untuk menjalankan rencana licik nya. Kedua lelaki itu saling menatap sangat tajam, melebihi tajam nya pisau yang sedang mereka genggam.

“Ann, jangan bengong. Lari!!”

“Tapi. Aku nggak bisa tinggalin kamu.”

“Luna ada di luar.” Potong Jeffry dengan cepat.

“Luna?”

“Dia nunggu kamu. Dia cari kamu, Ann. Temui dia. Biar aku yang habisin laki-laki gila ini.” Suara Jeffry terdengar ngos-ngosan.

Anne semakin bingung. Disisi lain ia tidak bisa meninggalkan Jeffry yang menantang maut sendirian. Tapi disisi lain juga, Luna ada di luar, Anne sangat ingin mengecek keadaan putiri semata wayang nya itu. Melihat Tio yang seperti dirasuki oleh iblis, membuat Anne semakin overthingking. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalau Tio bekerja sama dengan kakak iparnya untuk menculik Luna lagi.

Anne lalu melirik tangan Jeffry yang mulai meneteskan darah. Darah segarnya jatuh ke permukaan. Menandakan kalau pisau itu memang sangatlah tajam.

“Ann ....” Sekali lagi Jeffry memanggil nama Anne, namun dengan tatapan lekatnya tertuju pada istrinya, “Aku mohon, pergi dari sini sekarang. Aku nggak papa, hm.” Ucap Jeffry menenangkan Anne, tak lupa diiringi senyum yang menenangkan itu. Pertama kali Jeffry tersenyum seperti ini setelah pertikaian yang terjadi diantara mereka berdua.

Mau tidak mau, Anne hanya mengangguk menurut. Tangisannya seketika pecah. Sejahat apapun Jeffry padanya, akan tetapi lelaki itu sebenarnya masih peduli. Tidak memikirkan rasa benci yang masih tersisa di relung hatinya sampai saat ini, tapi kalau bersama Anne, entah kenapa Jeffry tidak bisa sedikitpun menyakiti wanita itu.

Karena tidak ingin darah Jeffry mengalir lebih deras, Anne akhirnya pergi dari sana. Meninggalkan kedua lelaki itu untuk bertarung. Lari secepat mungkin, walau dengan kondisi masih sempoyongan. Dalam hati Anne berdo'a untuk keselamatan suami tercintanya.

Saat sampai di pintu utama, Anne sibuk mencari kunci. Jangan bilang kuncinya dibawa sama Tio. Setelah Anne mencari mulai dari di atas meja dekat pintu, rak sepatu, beberapa pot tanaman, hasilnya nihil. Anne tidak menemukan kunci itu.

Anne akhirnya menuju ruang tamu. mencari benda yang setidaknya bisa membuka pintu rumah ini. Dan matanya menemukan pemukul baseball yang terletak di ujung ruangan. Tanpa berbasa-basi lagi, Anne langsung mengambil tongkat tersebut lalu memukul ganggang pintu dengan sangat kencang. Memukulnya berkali-kali sampai ada tanda-tanda pintu tersebut terbuka.

Dengan menggunakan tenaga yang tersisa, Anne akhirnya berhasil membuka pintu. Ia langsung keluar dan berlari. Mencari keberadaan Luna yang tak kunjung ia temukan. Rumah kakak ipar Tio ini halamannya sangat luas. Anne harus berjalan 3 meter lagi untuk menuju gerbang. Dengan kaki yang telanjang, Anne masih ingin melangkah. Yang ada diotaknyas aat ini hanyalah keselamatan keluarganya. Jeffry dan Luna, semoga mereka tidak kenapa-napa.

Terderngar suara gerbang terbuka. Terlihat banyak polisi yang berjaga di luar gerbang tersebut, serta ayahnya, Pak Josh yang entah keluar dari rumah sakit dari kapan, kini sedang menggendong Luna. Kondisi anak itu sama lemasnya seperti Anne.

“Bundaaaa ....” Teriak lirih sang putri di gendongan sang ayah. Tangisan Anne seketika pecah. Begitu takutnya Anne kalau tidak bisa bertemu dengan Luna lagi. Dan begitu traumanya dirinya saat ini. Entah, untuk percaya pada siapapun Anne sudah sangat takut.

Anne menghampiri Luna dan Pak Josh, disaat para polisi berlari menuju dalam rumah. Menggerebek rumah minimalis nan modern itu. Anne lalu mengusap rambut sang anak, kemudian menempelkan dahinya ke dahi Luna. Mereka menangis bersama. Hatinya kini lega, tapi belum sangat lega karena Jeffry masih ada di dalam. Hatinya tidak bisa tenang kalau Jeffry belum keluar dalam kondisi selamat.

“Jeffry ada di dalam yah. Selamatin dia.” Ucap Anne memohon pada ayahnya.

“Yaudah kamu gendong Luna dulu. Ayah ke dalam, ya.” Jawab Pak Josh sambil memindahkan gendongannya ke Anne.

Sudah 15 menit berlalu, Beberapa polisi masih berkutat di dalam rumah, dan polisi lainnya sedang berada di luar. Anne dan Luna saat ini sedang diamankan. Duduk di dekat ambulan dengan selimut yang membalut bahu mereka sambil memegang segelas teh hangat pemberian petugas ambulan tersebut. Anne hanya memegangnya, tidak meminumnya. Setelah susu, kini Anne takut untuk meminum teh.

Beberapa detik selanjutnya, Pak Josh menghampiri Anne. Di belakangnya terlihat Tio yang sudah dibekuk oleh dua polisi dan digiring menuju mobil yang sudah terparkir di depan gerbang.

“Dimana Jeffry yah?” Tanya Anne dengan raut wajah tidak tenang.

“Ayah tidak menemukan Jeffry, Ann. Suami kamu hilang.”

“Apa? hilang?” Tanya Anne tidak percaya. “Jelas-jelas tadi Jeffry datang buat nyelametin Anne yah. Nggak mungkin dia hilang.”

“Iya ayah tahu. Tapi ayah cuma temuin banyak bercak darah di lantai. Dilihat kondisi kamu sama Tio yang nggak terluka sama sekali, bisa dipastikan itu darah suami kamu.”

Tubuh Anne langsung melemas. Pikirannya semakin kacau. Kemana Jeffry? Lelaki itu pasti terluka. Mungkin saat ini, Anne tidak diizinkan untuk hidup tenang sedikitpun.

To Be Continued

##

Derap langkah kaki yang besar namun santai seorang lelaki itu mulai masuk ke dalam rumah kecil yang terletak di perkampungan sempit. Rumah yang gelap dan remang-remang, dinding yang mulai kusam tertutupi oleh jamur, hal itu tidak menghentikan Tio untuk masuk ke dalam rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 2 tahun silam ini, semenjak dirinya dinyatakan bebas dari penjara.

Lelaki pemilik wajah bak pangeran di negeri dongeng itu kemudian membuang bando spiderman yang ia beli tadi siang ke dalam tong sampah. Merasa jijik dengan bando tersebut. Tanpa peduli akan memori yang baru terlukis hari ini, Tio memasuki ruangan yang terletak di dekat ruang tamu. Sebelum itu, ia mengambil satu buah rokok di dalam sakunya. Satu-satunya rokok yang ia punya. Tio lalu menyalakan korek api lalu menyulutnya ke ujung batang nikotin itu, kemudian masuk ke dalam ruangan gelap yang baginya itu adalah ruangan rahasinya.

Bukan kamar atau dapur, melainkan ...

Ruangan yang penuh dengan layar cctv yang kini tengah merekam aktivitas rumah Anne. Semua yang Anne lakukan di dalam rumah, terekam disini. Sehingga Tio tahu semua gerak-gerik Anne selama ini. Bahkan saat wanita itu tengah bertengkar hebat dengan Jeffry, suaminya, Tio melihat itu dengan penuh tawa. Seolah pertengkaran Anne dan Jeffry adalah film komedi baginya.

Lelaki tampan itu lalu duduk di kursi single yang terletak di depan layar cctv. Menonton Anne yang kini sedang menidurkan Luna, sambil masih menghisap rokoknya. Tio kemudian mengambil sebuah foto. Foto dua orang yang sedang menggendong anak berumur delapan tahun, memakai bando lucu dimasing-masing kepalanya, dan dengan background komidi putar yang tengah berputar.

Tio menatap foto tersebut sedikit lama. Senyuman yang terukir di bibirnya itu adalah sebuah kebohongan. Selama ini ia hanya pintar memasang topeng. Topeng lelaki polos dan baik, tapi nyatanya ada sebuah dendam dibalik topeng polosnya itu. Dendam yang tidak bisa diganggu gugat. Dendam pribadi yang hanya Tio dan Tuhan yang tahu. Dendam kepada wanita yang sudah merebut kebahagiaannya.

Tangannya lalu mengambil sebuah gunting, Tio menggunting foto tersebut. Lebih tepatnya menggunting foto Anne seorang diri, dan hanya menyisakan foto dirinya dengan anak gadis yang sedang ia gendong. Kemudian ia menempelkan foto tersebut ke dinding yang penuh dengan foto Anne. Mungkin ada ratusan foto yang tertempel disana. Dari foto Anne saat berangkat kerja, menjemput Luna ke sekolah, makan siang bersama Pak Josh, dan lain sebagainya.

Bisa dibilang selama ini Tio adalah penguntit setia Anne. Dengan sengaja ia menabrakkan diri ke arah mobil Anne yang sedang melaju cepat saat itu, membuat Anne merasa bersalah karena sudah menabraknya dan memilih untuk bertanggung jawab. Sehingga dirinya memiliki kesempatan untuk menyelam dunia Anne samakin dalam, meskipun dengan sedikit perjuangan untuk bisa membuat wanita itu percaya padanya. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena sekarang Anne sudah benar-benar percaya padanya. Sehingga Tio bisa melancarkan aksinya untuk membalaskan dendam yang selama ini ia pendam.

“Sabar ya nak, ayah pasti bisa rebut kamu dari perempuan licik yang udah bunuh ibu kamu.” Ucap Tio dengan penuh penekanan.