FTTH 5: Goodbye, My Almost
Disclaimer: slight violence, blood, yelling, mentions of prostitutes and sex. 🔞
Langkahmu berat ketika akhirnya tiba di depan pintu rumah. Tas cucian yang menggantung di bahu kiri terasa semakin menyiksa punggungmu yang lelah. Sementara perutmu yang semakin membesar membuat gerakmu tidak lagi lincah seperti dulu. Kamu menarik napas pelan, mencoba mengumpulkan tenaga terakhir untuk membuka pintu dan masuk ke dalam rumah yang sejak tadi terasa sunyi.
Saat kamu melewati ruang tamu dan menjejakkan kaki di dapur, pandanganmu langsung tertumbuk pada sosok yang tidak asing.
Caleb.
Ia berdiri bersandar pada meja dapur, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana training abu-abu yang menggantung rendah di pinggulnya. Rambutnya berantakan, seperti baru saja bangun tidur, namun ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kantuk. Justru sebaliknya - rahangnya mengeras, pandangannya menusuk lurus ke arahmu, dan dadanya naik-turun perlahan namun berat, seolah tengah berusaha meredam sesuatu yang lebih panas dari api.
Ia sedang meneguk air dari botol besar di tangannya, namun tidak ada sapaan yang keluar dari bibirnya. Tidak ada senyuman. Tidak ada kalimat 'Are you going home?'. Hanya diam yang mengendap, dan hawa dingin yang langsung menyergap ruangan.
Kamu tahu ada yang tidak beres.
“You're up?” tanyamu pelan, mencoba mencairkan udara yang mendadak begitu tegang. Senyum kecil kamu paksa muncul di wajahmu meski rasanya kaku sekali.
Namun Caleb tidak menjawab pertanyaanmu. Ia meletakkan botolnya ke atas meja dengan suara thud yang terdengar terlalu keras untuk sekadar menaruh air.
“Where were you?” suaranya tajam. Bukan berteriak, tapi dinginnya seperti pisau yang perlahan menggores kulitmu.
Kamu mengangkat alis, sedikit bingung, sedikit tersinggung. “From the laundromat. I told you earlier, remember?”
“Oh, really?” Caleb mengangguk kecil, sinis. “Laundry… or are you lying to me just to meet Zayne?”
Kamu terdiam sejenak. Matamu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Kamu tahu Caleb pencemburu, tapi tidak seperti ini. Tidak dengan tuduhan seperti itu. Dadamu terasa nyeri, dan ada sesuatu yang membeku di tenggorokanmu.
“Oh my God…” gumammu, napasmu mulai memburu. “How much longer are you going to make Liam shadow me, Caleb? What am I to you? Some kind of criminal? Is that how little you trust me?”
Caleb tidak langsung menjawab. Tapi ia mulai berjalan ke arahmu. Langkahnya tenang, tapi ada bahaya di setiap gerakannya. Seperti singa yang mendekati mangsanya, pelan tapi mematikan. Kamu mundur selangkah secara naluriah, tubuhmu bereaksi lebih dulu daripada otakmu.
“I trust you, Pips. I really do… I'm trying to,” suaranya rendah, menggeram, namun jelas. “I'm doing my best to stay, to be the father this baby needs, for you. And yet… I see you with that homewrecker more than you're with me. You let him in. You give him your trust, your time, your comfort, things that should be mine.”
“He's not a homewrecker!” balasmu, nadamu meninggi karena amarah dan rasa sakit yang menyeruak bersamaan. “He's Zayne. He's the one who stayed when you left. He's the one who was there when I had to face the hardest days of my life, when I had to accept this pregnancy on my own. Meanwhile you… you weren't even there, Caleb.”
Wajah Caleb menegang. Matanya menyorot tajam. Tapi yang keluar dari mulutnya bukan jawaban yang kamu harapkan.
“Why do you always choose him, huh?” suaranya rendah, tapi getir. “Why is it always him? Be honest, did you sleep with him? Or is this child… not even mine?”
PLAK!
Tamparanmu mendarat keras di pipinya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, tapi ia tak membalas. Hanya tatapan itu yang masih menyala di matanya, tatapan kecewa, terluka, dan hancur.
Air matamu jatuh tanpa kamu sadari. Suaramu bergetar, namun tetap tajam. “Turns out, you're not that different from your parents, Caleb. Too busy drowning in your fears to realize you're breaking the person who still believed in you.”
Kamu berbalik. Langkahmu gemetar. Tapi kamu tidak ingin menangis di depannya. Tidak kali ini. Tidak setelah semua luka yang ia torehkan, baik dengan ucapan maupun keraguannya.
Caleb menarik tanganmu dengan kasar, menghentikan langkahmu yang baru saja ingin pergi meninggalkan ruangan. Tubuhmu sedikit tertarik ke belakang oleh gerakannya yang mendadak, dan sebelum sempat kamu menghindar, ia memaksa wajahmu menoleh ke arahnya. Matanya menyala, bukan karena cinta, tapi karena amarah yang sudah meluap sejak pagi itu.
“Where are you going?” suaranya dalam, tajam, dan penuh tekanan. Kamu menatapnya. Matamu sudah berkaca-kaca, namun tidak setetes pun air mata jatuh. Wajahmu menegang, bibirmu bergetar, namun nada bicaramu tetap jelas, walau amarah dan luka hati terasa menggumpal dalam setiap katanya.
“Going to see Zayne. And forcing him to sleep with me. Isn't that what you've been assuming all along?” suaramu dingin, penuh ironi. “Or maybe… I should just bring him here. Let's have sex right in front of you, so you can finally see for yourself what you keep accusing me of.”
”(YOUR NAME)!” bentak Caleb akhirnya. Nadanya naik satu oktaf, tidak sanggup menahan amarah yang mendidih. Sorot matanya kini semakin gelap, terpukul, marah, dan tidak percaya bahwa kamu bisa melempar kalimat setega itu.
“WHAT?!!” kamu balas membentaknya. Suaramu meninggi, walau sedikit bergetar karena luka yang terlalu dalam untuk ditutupi. “Because no matter what, I'll always be the whore in your parents' story. And you… you, Caleb. The one I trusted not to hurt me, not again… turns out you're just like them.”
Hening menggantung sesaat setelah kalimat itu meluncur dari bibirmu. Tidak ada satu pun dari kalian yang bicara. Hanya suara napas yang memburu, dada yang naik turun, dan mata yang tidak saling berpaling meski begitu penuh luka. Caleb terdiam, rahangnya mengeras, seolah tidak tahu bagaimana harus merespons. Tapi kamu tahu, di balik diamnya, ada sesuatu yang retak. Entah itu egonya, atau hatinya sendiri.
Namun kamu sudah terlalu lelah untuk peduli.
Caleb terdiam, tapi bukan karena kalah. Melainkan karena amarahnya telah melewati titik didih, dan yang tersisa kini hanyalah bara panas, senyap, dan mematikan. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam lenganmu lebih erat, hingga kamu harus sedikit berusaha menarik tanganmu agar lepas.
“Never say that again. Not in front of me,” ucapnya, pelan namun mengancam. Matanya menatapmu seolah kamu makhluk asing yang tidak pernah ia kenal. “Did you really think I stayed quiet because I didn't know? I know Zayne is still orbiting you… using every second I'm not here to pull you closer.”
“And you think I ever let him in from the start?” kamu membalas dengan nada setengah tertawa, getir dan nyaris sinis. “You actually think I wanted him here? When you left me alone with a positive test in my hand, waiting for you, choking on every ounce of pain by myself? You think I asked for that kind of hell?”
“I left you for your own good, Pips!” bentaknya. Suaranya pecah di ujung. “I did it for us, for our baby! I let my parents have their way so they'd leave you alone… and what do you do? You run straight into another man's arms?!”
“Oh, so now you're blaming me?” suara kamu akhirnya pecah, air mata pertama akhirnya jatuh. “I only did it because I couldn't handle this by myself. Every night… as my belly gets bigger, you're nowhere beside me. I was terrified… I was falling apart… But all you cared about was guarding your pride, being a hero somewhere else, while forgetting that I needed someone to save me too.”
Kamu memukul dadanya dengan lemah, bukan karena ingin menyakitinya, tapi karena kamu sendiri sudah terlalu lelah menyimpan semuanya sendirian.
“I just need you to be here, Caleb.” lanjutmu dengan suara parau. “Not the emptiness you created out of your own ego.”
Caleb memejamkan mata sejenak. Napasnya berat. Wajahnya tampak bimbang seolah ada dua sisi dalam dirinya yang sedang saling bertarung, antara pria yang terluka karena cemburu, dan pria yang bersalah karena telah mengabaikan perempuan yang ia cintai.
Tapi alih-alih mereda, ia malah tertawa kecil, sinis.
“Funny how you say you need me, yet you're the one letting him fill the emptiness I left behind.”
“It's up to you, Caleb. I'm done talking,” bisikmu sambil menepis tangannya. “If a photo and your imagination weigh more than everything I've given you… then maybe I really don't know how to stay anymore.”
Kamu pun melangkah pelan, kembali mengambil tas yang sempat terjatuh, dengan air mata yang terus mengalir di pipimu.
Langkahmu belum jauh saat tiba-tiba tangan Caleb kembali menarikmu, lebih kasar dari sebelumnya. Tubuhmu tertarik ke belakang, membentur dadanya. Jemarinya membelit pergelangan tanganmu dengan kekuatan yang membuatmu meringis, dan tatapan matanya kini benar-benar gelap, menusuk dan mengintimidasi.
“Tell me… do you love him?” tanyanya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Answer me, Pips! Are you in love with Zayne?!”
Kamu mencoba melepaskan genggamannya, tubuhmu bergerak gelisah karena cengkeramannya menyakitkan. Tapi ia tidak melepaskan. Justru menatapmu semakin dalam, seakan mencari-cari kebenaran di balik wajahmu yang penuh amarah dan air mata.
“It's not your business, Caleb” desismu akhirnya, dingin. Kamu angkat dagumu dengan mata basah yang penuh perlawanan.
“It is my business!” bentaknya. “Because I'm the father of the child you're carrying!”
Tubuhmu menegang. Kata-katanya menusuk lebih dalam daripada genggamannya. Tapi kamu tidak ingin mundur. Tidak sekarang, tidak setelah semua luka yang kamu tanggung sendiri selama ini. Kamu mengatupkan rahangmu, napasmu tercekat karena terlalu banyak emosi yang menyesakkan dada. Tapi kalimat yang akhirnya keluar dari mulutmu adalah sesuatu yang lebih menghancurkan daripada umpatan atau amarah.
“This isn't your child,” suaramu rendah, hampir berbisik, tapi penuh penekanan. “It's my child.”
Caleb mematung. Seolah dunia tiba-tiba hening. Matanya membelalak, tubuhnya sedikit mundur. Tapi cengkeramannya belum sepenuhnya terlepas.
“What… do you mean?”
“This baby doesn't need a father who can't control his words or his hands,” ujarmu sambil menarik pergelanganmu sekuat tenaga, akhirnya berhasil melepaskan diri. “If your pride matters more than me, then you have no place in this baby's life.”
Saat kamu berhasil menarik pergelangan tanganmu dari genggamannya. Tapi sebelum kamu sempat melangkah mundur, Caleb menggerakkan tangannya dengan cepat, tidak dengan niat menyakitimu, hanya ingin menahanmu. Namun sentuhannya terlalu kuat, dan kamu yang tengah berada dalam emosi tinggi kehilangan keseimbangan.
Tubuhmu terdorong ke belakang keras. Terlalu cepat. Terlalu mendadak.
BRAK!
Tubuhmu membentur lantai marmer dingin dengan suara menggelegar. Benturannya membuat seluruh udara di dadamu terhempas keluar. Tapi yang paling menghantam adalah rasa ngilu yang tiba-tiba menjalar dari perutmu. Kamu terdiam sejenak, matamu membelalak, sebelum akhirnya meringis panjang menahan rasa sakit yang menusuk tajam, dalam, dan menyebar liar ke seluruh tubuh.
“Arghh…” suara itu lolos dari bibirmu, pecah. Tubuhmu menggeliat di lantai, tanganmu terangkat ke perut yang terasa seperti diremas dari dalam.
Caleb yang masih terdiam di tempat, seketika membatu melihatmu jatuh. Wajahnya langsung memucat, matanya terbelalak penuh kepanikan. Tapi saat melihat noda darah mulai merembes dari celana bagian dalammu, napasnya tercekat.
“Pips… Pips! Damn it…” suaranya panik, gemetar. Ia berlutut cepat ke arahmu, mencoba menyentuh pipimu. “Pips, let me take you to the hospital – “
Kamu menepis tangannya dengan sisa tenaga. “Don't fucking touch me!” raungmu penuh amarah dan rasa sakit.
Tapi bahkan untuk mendorongnya pun kamu nyaris tidak sanggup. Nyeri di perutmu terlalu menyiksa. Terasa seperti ada yang koyak dari dalam tubuhmu. Kamu menjerit pelan, tanganmu refleks menekan perut.
“Ahh - !” tubuhmu melengkung, lututmu terangkat, dan napasmu mencabik dada seperti habis dikeroyok dari dalam.
Caleb langsung mengabaikan penolakanmu. Ia menyelipkan tangannya di bawah tubuhmu, mencoba mengangkatmu. Tapi kamu kembali berontak, meskipun tubuhmu jelas melemah.
“Don't touch me, Caleb!”
“DO YOU WANT OUR BABY TO DIE, HUH?!” Dan untuk pertama kalinya, suara Caleb pecah. Matanya memerah, suaranya melengking tajam dalam keputusasaan.
Kamu terdiam. Kata-katanya menghantam tepat di dadamu. Mulutmu gemetar, tapi tidak ada suara keluar selain erangan tertahan karena rasa sakit yang kini menjalar hingga ke pinggang dan punggungmu. Kamu hanya bisa memejamkan mata dengan napas tersengal, pasrah saat Caleb akhirnya mengangkatmu dalam gendongannya.
Langkahnya terburu. Terbata. Panik.
“Hang on, Pips. Please… don't leave me,” gumamnya sambil terus memelukmu erat, darah dari tubuhmu mulai menodai kausnya. Tapi ia tidak peduli.
Air matanya jatuh di atas dahimu. Kamu bisa merasakannya meski matamu kabur oleh nyeri dan isak tertahan.
Lantai tempat kalian berpijak kini berceceran merah. Caleb menggenggam erat tubuhmu yang gemetar, membawamu keluar menuju mobil sambil mengutuk dirinya sendiri.
Dan pagi itu, di tengah suasana mendung yang gelap dan hujan yang turun deras, seorang pria yang nyaris kehilangan segalanya melaju kencang membawa wanita yang ia sakiti, dan anak yang ia takutkan takkan pernah sempat ia dekap.
Suara klakson mobil menggema lemah di kejauhan, namun tidak mampu menyaingi debar jantung Caleb yang berdentum keras di dalam dadanya. Kedua tangannya mencengkeram setir dengan erat, sementara satu tangannya yang lain terus menggenggam punggung tanganmu yang dingin dan semakin lemas.
“Hey… keep your eyes open, Pips. Hear me, stay with me,” ucapnya panik, suara seraknya bergetar oleh ketakutan. “Please, Pips… hang in there. We're almost there.”
Matanya terus melirikmu setiap beberapa detik sekali, seolah takut kehilangan setiap tarikan napasmu. Ia kembali mengecup punggung tanganmu, berulang kali, seakan ciuman itu bisa menyalurkan hidup, bisa membangkitkanmu dari keadaan yang mengkhawatirkan ini.
Kamu hanya bisa menoleh lemah, matamu yang sayu berusaha menatapnya meski sudah nyaris tidak berfokus. Napasmu pendek dan berat, seolah udara tidak lagi cukup untuk paru-parumu yang mulai menyerah. Pandanganmu mengabur, tubuhmu kehilangan kekuatan sedikit demi sedikit. Wajahmu pucat pasi. Bibirmu membiru.
Caleb hampir menerobos lampu merah. Tangannya bergetar saat menggoyang tubuhmu pelan. “Hold on… please… I can't do this if you leave. Don't do this to me…”
Suasana di dalam mobil seperti perang sunyi antara ketakutan dan penyesalan. Udara yang sesak, bunyi klakson yang berlalu, dan jeritan batin Caleb yang hanya bisa terdengar oleh Tuhan.
Begitu sampai di depan IGD, Caleb menghentikan mobil secara kasar. Ia segera keluar, berlari ke sisi penumpang, mengangkat tubuhmu dengan canggung namun penuh kepanikan.
“HELP! SHE'S BLEEDING! SOMEBODY, PLEASE – !” teriaknya dengan suara yang nyaris pecah.
Beberapa perawat langsung menghampiri, mendorong ranjang darurat dan membawamu masuk. Caleb nyaris tersungkur saat mencoba mengikuti, namun pintu ruang penanganan cepat tertutup di depan matanya.
Sementara itu, di lantai dua rumah sakit, Zayne sedang duduk sendirian di ruang istirahat dokter. Sisa makanan di piringnya masih utuh, belum sempat disentuh karena pikirannya masih tertinggal di ruang operasi sebelumnya.
Tiba-tiba, suara pengumuman menggema dari pengeras suara di dinding. *“Code Red! Twenty-six-year-old female, massive active bleed. Get her to the ER, now!” “Patient name: [your name]!”
Sendok di tangannya jatuh ke lantai. Napasnya tercekat.
Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. Ia berdiri dengan terburu-buru, kursi di belakangnya sampai terjatuh karena terguling oleh gerakannya yang mendadak. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari, menyambar jas dokternya tanpa memakainya dengan benar.
Tidak. Itu tidak mungkin. Bukan kamu. Bukan namanya yang barusan disebut. Bukan kamu yang sedang pendarahan…
Namun nama itu bergema lagi dalam pikirannya. Berkali-kali. Menghantam sisi rasionalnya hingga hancur.
Zayne berlari seperti orang kesetanan. Melewati lorong-lorong rumah sakit, menerobos antrian pasien, hampir menabrak seorang suster yang membawa kereta obat. Ia tidak peduli. Dunia seolah menyempit, hanya ada satu tujuan, menemukamu. Melihatmu dengan mata kepala sendiri. Dan membuktikan bahwa ini semua hanyalah kesalahan pengumuman semata. Namun ketika ia tiba di depan ruang IGD, langkahnya terhenti. Dunianya ikut runtuh saat pandangannya menangkap sosok Caleb, berdiri kaku di depan pintu, dengan wajah kacau dan penuh kecemasan.
Tapi bukan itu yang membuat napas Zayne seketika terhenti.
Bukan itu yang membuat kakinya lemas.
Melainkan kamu.
Kamu yang terbaring lemah di atas ranjang dorong. Wajahmu pucat. Mata tertutup. Dan darah… darah memenuhi bagian bawah tubuhmu hingga ke lantai.
Zayne merasa dadanya ditusuk ribuan jarum. Pandangannya buram. Suara di sekitarnya memudar. Ia hanya bisa memandangmu - yang tampak seperti kehilangan seluruh sinar kehidupanmu. Dan tubuhnya gemetar saat pikirannya diserbu satu kenyataan paling menakutkan, ia mungkin akan kehilanganmu.
Langkahnya maju satu kali. Tapi tubuhnya tidak bergerak lagi. Jiwanya membeku. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalmu… Zayne merasa benar-benar tidak berdaya.
Koridor rumah sakit terasa begitu sunyi, meski riuh langkah para tenaga medis sesekali menggema, membawa nuansa yang lebih menyerupai medan perang daripada tempat penyembuhan. Caleb berdiri terpaku di depan pintu ruang operasi, tubuhnya seolah kehilangan daya untuk berdiri tegak. Punggungnya bersandar pada dinding dingin yang tidak mampu meredam panas rasa bersalah yang membakar dirinya dari dalam. Kedua tangannya terus-menerus mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi, dan kepalanya tertunduk, seperti ingin mengubur wajahnya dari dunia yang kini terasa terlalu berat untuk dihadapi.
Matanya terpejam, bukan karena mengantuk, melainkan karena tidak sanggup menatap kenyataan. Di dalam ruangan itu, kamu, wanita yang telah lama mengisi separuh jiwanya, sedang bertarung antara hidup dan mati karena kesalahannya sendiri. Rasa frustasi yang menyesakkan membuat dadanya bergetar, napasnya berat, dan bisikan doa terus meluncur dari bibir yang bergetar hebat.
Langkah kaki yang cepat dan mantap menggema dari ujung lorong, memecah kesunyian yang mencekam. Zayne muncul dalam balutan baju operasi berwarna hijau, wajahnya tegang, sorot matanya tajam, seperti badai yang siap melanda siapa saja yang berada di jalurnya. Ia melangkah lurus, tidak ada sedikit pun keraguan atau kebimbangan dalam geraknya, namun siapa pun yang menatap mata pria itu akan tahu, ada gelombang emosi besar yang tengah ia kendalikan sekuat tenaga.
Saat jaraknya hanya tinggal beberapa meter, Zayne menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada Caleb, tatapan tajam, dingin, namun membakar. Caleb pun mendongak perlahan, menatap Zayne dengan mata merah dan berkaca, seolah memohon agar pria itu menyelamatkanmu. Tidak ada kata yang keluar dari keduanya, hanya percakapan diam penuh tensi yang berlangsung di antara sorot mata mereka.
Zayne tidak mengatakan apa pun, karena ia tahu, tidak ada satu kalimat pun yang cukup untuk menggambarkan amarahnya saat ini. Tapi tatapannya cukup untuk menyampaikan pesan: 'Stay put. Once this is done, you're dead.'
Tanpa sepatah kata, Zayne mengalihkan pandangannya, membuka pintu ruang operasi, dan masuk dengan langkah tegas. Pintu menutup kembali di belakangnya, meninggalkan Caleb yang terkulai di tempatnya, seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah hidup.
Dan di balik pintu yang tertutup itu, suara alat-alat medis, perintah dokter, dan denting logam mulai terdengar, pertanda bahwa pertarungan baru saja dimulai. Sebuah pertarungan demi menyelamatkan dua nyawa yang kini bergantung pada ketenangan dan keahlian seorang pria yang diam-diam menyimpan luka, namun memilih untuk berjuang… demi wanita yang ia cintai.
Udara di ruang operasi terasa berat, penuh tekanan dan aroma khas antiseptik yang menyengat. Lampu sorot operasi menyinari tubuhmu yang terbaring lemah di atas meja bedah, nyaris tidak bergerak selain napas yang tersisa di ujung tipis hidupmu. Monitor di samping tempat tidur menampilkan grafik detak jantung dan tekanan darah yang mulai menunjukkan fluktuasi mencemaskan.
Zayne berdiri di sisi kiri tubuhmu, wajahnya tersembunyi di balik masker, namun sorot matanya memancarkan ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Tangan-tangannya dibalut sarung tangan steril, gemetar tipis namun tetap bergerak cepat dan terukur. Ia memimpin prosedur dengan presisi tajam, seolah berusaha membekukan segala rasa panik yang bergejolak dalam dirinya.
“Scalpel,” ucapnya tegas, dan seorang perawat segera menyodorkan alat bedah ke tangannya.
Dengan gerakan mantap, ia mulai membuat irisan di bagian bawah perutmu, membuka lapisan demi lapisan dengan kehati-hatian luar biasa. Di sekelilingnya, suara-suara instruksi terdengar, cepat, tenang, namun penuh kewaspadaan. Asisten bedah menyesuaikan lampu, perawat mengelap keringat di pelipis Zayne, dan monitor terus berdengung, mengingatkan bahwa waktu tidak berpihak pada mereka.
Zayne menarik napas panjang ketika tangannya akhirnya mencapai rahimmu. “Retractor,” pintanya.
Alat penyangga diletakkan untuk memperlebar bukaan operasi, dan dengan satu gerakan hati-hati, ia menyelipkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh mungil yang masih merah dan basah dari dalam rahimmu.
“The baby's coming out!” seru seorang dokter anak yang bersiaga, menyambut sang bayi dengan kain hangat.
Tangisan pertama bayi itu memecah udara yang sebelumnya pekat. Suara itu seperti sinar mentari yang menembus awan badai, menggetarkan seluruh ruang operasi. Zayne membeku sejenak, bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum lega, senyum yang singkat, sebab detik berikutnya, kenyataan kembali menghantam.
“Doctor Zayne!” seru dokter anestesi dengan suara mendesak. “Patient's heartbeat is fading! Blood pressure is dropping fast, we need blood, now!”
Senyum Zayne lenyap dalam sekejap. Matanya melebar, dan untuk sesaat ia hanya bisa menatap monitor yang menunjukkan angka-angka menurun secara mengkhawatirkan.
“Shit,” gumamnya lirih.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik. “Dr. Mira, take over!” perintahnya pada salah satu kolega.
Seorang dokter wanita segera melangkah maju, menggantikan posisi Zayne yang sudah melepaskan sarung tangannya dan menarik lengan baju scrubnya hingga siku. “Get the transfusion kit. Her blood type matches mine.”
“Doctor Zayne, are you sure?” tanya salah satu perawat, terkejut.
“Just do it!” sahutnya tajam, sebelum duduk di kursi transfusi yang didorongkan ke sudut ruangan.
Perawat segera menyiapkan jarum dan selang infus, menancapkannya ke lengan Zayne. Darah merah tua mulai mengalir perlahan dari tubuhnya, masuk ke kantong steril yang disiapkan khusus untukmu. Di seberang ruangan, tubuhmu masih tergeletak dengan selimut operasi menutupi separuh dada. Napasmu tampak begitu lemah, nyaris tidak ada gerakan. Dari kursinya, Zayne tidak mengalihkan pandangan darimu. Matanya menatap nanar, mengabaikan rasa nyeri di lengannya dan lelah yang mulai menggerogoti. Dalam diam, ia menggenggam kain di pangkuannya erat, seolah menggenggam harapan.
'God… Please…' bisiknya dalam hati. 'Use my blood, use everything I have, just don't take her. Don't take away the only soul who's ever kept me alive.'
Jarum masih tertancap, darahnya masih mengalir. Namun waktu seakan berhenti, sebab baginya, selama kamu belum membuka mata, dunia belum kembali berputar.
Detak waktu seakan melambat saat Zayne kembali ke sisi meja operasi, mengenakan kembali sarung tangannya yang sedikit bergetar. Dahinya masih dipenuhi keringat, namun bukan hanya karena tekanan kerja, melainkan karena ketakutan yang perlahan mencengkeram jiwanya. Ia mengalihkan pandangan sejenak pada monitor di sampingmu, berharap ada perubahan positif.
Namun harapannya buyar saat garis lurus memanjang di layar monitor vital jantungmu, sebuah pertanda bahwa jantungmu telah berhenti berdetak.
“Her blood pressure is dropping rapidly.” seru perawat di sisi kanan. “The patient is in asystole.”
Pupus sudah secercah ketenangan yang sempat hadir setelah bayimu berhasil lahir dengan selamat. Zayne sontak menghentakkan langkahnya ke monitor, menatapnya dengan mata membelalak, napasnya tercekat.
“Get me the defibrillator, hurry!” teriaknya, menggema di seluruh ruang operasi.
Dalam hitungan detik, alat kejut jantung diserahkan padanya. Zayne menggenggamnya erat, mengatupkan rahangnya dengan keras saat menatap tubuhmu yang lemah dan tidak bergerak.
“Clear!” serunya, lalu meletakkan bantalan ke dadamu dan melepaskan aliran listrik. Tubuhmu melonjak ke atas, namun monitor tetap menunjukkan garis yang menakutkan itu.
Sekali lagi. “Clear!” serunya lebih lantang. Tubuhmu kembali terangkat, namun tetap tidak ada perubahan.
“Clear!” untuk ketiga kalinya, dengan nada yang lebih putus asa. Tapi tetap… tidak ada denyut. Tidak ada kehidupan.
Zayne menatap monitor itu dengan wajah yang hancur. “No… no, no, no…” gumamnya lirih, seperti sedang memohon pada semesta.
Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan diri ke atas tubuhmu dan mulai memberikan CPR. Kedua tangannya bertumpu pada dadamu, menekan dengan ritme yang tepat meskipun tangannya sudah gemetar.
“Come on… come on, please… Breathe, love. Please, breathe…” ucapnya sambil mengatur napas, suaranya bergetar, terdengar sangat rapuh untuk seorang ahli bedah.
Isaknya mulai terdengar di sela-sela tekanan CPR yang ia berikan. Air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi masker yang kini mulai terasa sesak.
“Please, God… Please don't take her… Please…”
Tapi garis di monitor tetap lurus. Tidak bergerak. Waktu terus berlalu, dan seluruh ruangan terasa seperti membeku dalam tragedi.
“Doctor Zayne…”
Suara lirih dari Dr. Mila memanggilnya, memecah keheningan menyakitkan itu.
Zayne tidak menggubris. “No! She can still make it. She's strong. I know she's strong!”
“Doctor Zayne… it's been fifteen minutes…” suara Dr. Mila terdengar nyaris seperti bisikan maut, sunyi namun menghantam bagai palu godam.
Tangan Zayne yang terus menekan dadamu akhirnya melemah. Bahunya berguncang, dan matanya memandangi wajahmu yang pucat, bibirmu yang membiru, dan kulitmu yang telah kehilangan kehangatan. Seolah seluruh cahaya dalam dirimu telah padam.
“No…” bisiknya lirih, menahan isakan yang semakin sulit diredam. “Please, open your eyes… stay with me, love, please!”
Perawat perlahan menariknya menjauh, namun Zayne tetap berlutut di sisi ranjang operasi. Jubah medisnya sudah basah oleh darah dan keringat, namun ia tidak peduli. Tubuhnya gemetar, bukan karena kelelahan fisik, tetapi karena tubuhnya menolak menerima kenyataan. Dengan tangan gemetar, ia kembali meraih tanganmu. Jemarimu tidak lagi hangat, dan Zayne tahu… ia tahu, tapi tetap saja ia memaksakan diri menggenggamnya, seolah bisa menyalurkan kembali kehidupan ke dalam tubuhmu yang telah hampa.
Matanya tidak berkedip. Tidak sekalipun. Seperti seorang pria yang baru saja kehilangan arah dalam hidup, ia memandangi wajahmu yang damai, terlalu damai, dengan ekspresi yang tidak pernah ia harapkan untuk lihat di bawah lampu ruang operasi.
Tapi kamu tetap diam. Kamu telah pergi.
Tubuhnya bergeser. Perlahan, ia berdiri dan duduk di sisimu. Lalu, tanpa suara, ia menarik tubuhmu ke pelukannya. Lengan dan dada yang biasanya begitu mantap saat menyelamatkan nyawa kini hanya tempat bagi luka untuk menetap.
Dan saat tubuhmu mendarat di pelukannya, rasa sakit itu menyerangnya tanpa peringatan.
Bukan sakit yang bisa diredakan dengan anestesi. Bukan luka yang bisa dijahit atau dijahit kembali. Tapi jenis nyeri yang menghancurkan dari dalam, menusuk seperti ribuan pecahan kaca yang tertanam dalam dada, tajam, dingin, dan tidak tertanggungkan.
Ia memelukmu erat, lebih erat dari yang pernah ia lakukan, seolah ia bisa menahan jiwamu yang menghilang dari tubuh itu. Bahumu yang dulu hangat kini membeku, dan pada titik itulah Zayne hancur. Isakannya pecah di sana. Tangis yang tidak meledak, tetapi justru mengguncang paling dalam, sunyi, putus asa, dan menghancurkan.
Rasanya seperti seluruh isi tubuhnya dikuras paksa. Ada lubang besar yang tercipta di dadanya, menganga tanpa bentuk. Dan yang paling menyesakkan, ialah kesadaran bahwa ia, yang selalu berhasil menyelamatkan hidup orang lain, gagal… untuk pertama kalinya. Dan yang ia gagal selamatkan… adalah kamu.
Ia menggigit bibirnya, begitu keras hingga rasa besi darah memenuhi mulutnya. Tapi rasa itu tidak ada artinya dibandingkan rasa bersalah yang menusuk hingga ke tulang. Ia harusnya bisa melakukan lebih. Ia harusnya bisa… tahu lebih awal. Harusnya tidak terlalu percaya diri. Harusnya tidak telat. Harusnya… ia tidak membiarkanmu mati.
“It's my fault,” bisiknya, lirih, tak terdengar siapa pun kecuali dirinya sendiri. “It's all because of me… I should've protected you…”
Beberapa perawat menundukkan kepala, memberikan ruang untuk duka yang terlalu agung untuk diusik. Mereka tahu, di dalam ruangan ini, tidak ada dokter. Tidak ada perintah. Hanya ada seorang pria yang kehilangan cinta dalam hidupnya.
Masih memeluk tubuhmu erat, dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti gumaman pada luka yang menganga di dada, Zayne berbisik,
“At twelve forty-seven p.m… on July nineteenth… you died in my hands.”
Dan saat ia mengucapkan kalimat itu, sesuatu dalam dirinya pecah. Perlahan, ia membenamkan wajahnya ke lehermu, mencium kulitmu yang mulai kehilangan warna, seolah masih berharap keajaiban datang dari desah terakhir napasmu yang tidak pernah muncul.
Tangisnya kini tidak bisa dibendung. Napasnya patah-patah, seakan dadanya dihantam ribuan kali. Ia mengguncang tubuhmu pelan, bukan untuk membangunkan, tetapi karena ia tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani dunia tanpamu.
Dunia yang seketika menjadi hampa. Dingin. Tidak bernyawa. Sama sepertimu… yang kini hanya tinggal nama dan kenangan di dadanya. Dan di antara tangis yang pecah, luka yang menganga, dan tubuh yang lemas oleh kehilangan, Zayne sadar… tidak ada ilmu medis, tidak ada teknik penyelamatan, tidak ada mukjizat yang bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran ini.
Karena hari ini, Zayne tidak hanya kehilanganmu.
Ia kehilangan seluruh dunianya.
Pintu ruang operasi akhirnya terbuka perlahan, menimbulkan derit kecil yang nyaris tidak terdengar namun menggema begitu tajam di lorong panjang rumah sakit yang sunyi. Caleb sontak berdiri dari kursi tunggu dengan langkah cepat, tubuhnya tegang, wajahnya pucat, dan napasnya tidak beraturan. Jarinya terkepal, kukunya hampir mencakar kulit telapak tangannya sendiri. Ia telah duduk di sana selama berjam-jam, menanti kabar tentang keselamatanmu, kabar yang tidak kunjung datang.
Zayne keluar lebih dulu. Wajahnya basah oleh peluh dan air mata, jas operasinya berlumur noda darah yang belum sempat dibersihkan. Matanya merah, berkabut, dan tatapannya tajam sekaligus hampa. Caleb segera melangkah maju, hendak bertanya, namun belum sempat sepatah kata pun keluar dari mulutnya, tinju Zayne melayang lurus menghantam rahangnya dengan keras.
Caleb terhuyung, terjatuh ke lantai dengan napas tercekat. Namun belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, Zayne telah menarik kerah kausnya kasar dan mendorong tubuh kekarnya menabrak dinding. Suara benturan terdengar nyaring, mengguncang kesunyian lorong malam itu.
“What the hell did you do to her?!” bentak Zayne, matanya nyalang, penuh amarah dan luka yang tidak bisa disembuhkan.
Caleb terperanjat. Matanya membelalak, napasnya tersengal karena benturan dan tekanan emosi yang tiba-tiba. “I… I'm sorry…” jawabnya tergagap, suaranya pecah di tengah keterkejutan dan ketakutan.
“SHE'S DEAD!!!” pekiknya, keras, retak, seperti dada yang hancur karena kesedihan tidak tertahankan.
Caleb terdiam. Kata-kata itu menghantamnya jauh lebih keras dari pukulan manapun. Tubuhnya kaku. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara keluar. Hanya napasnya yang tertahan, seolah paru-parunya menolak bekerja. Ia menatap Zayne dengan mata membelalak tidak percaya.
“What…?” bisiknya, suaranya lebih seperti serpihan luka daripada kalimat utuh. “No… no, you're lying. Tell me this isn't true…”
Zayne mencengkeram kaus Caleb lebih erat, namun kali ini tangannya gemetar. Napasnya memburu, seolah habis oleh amarah dan duka yang bertabrakan di dalam dadanya.
“You're the one who killed her,” gumam Zayne lirih, hampir seperti bisikan pada nisan yang tidak kasat mata.
Caleb tidak mampu menahan dirinya lebih lama. Lututnya lemas, tubuhnya limbung. Saat Zayne akhirnya mendorongnya menjauh dengan tenaga sisa, Caleb terjatuh duduk di lantai dingin rumah sakit. Tangannya menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata. Isakannya pecah tanpa peringatan, keras, memilukan, dan seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
“No, Zayne… please, tell me she's still here…” Caleb berulang-ulang menggumam, memeluk dirinya sendiri, mengguncang tubuhnya seolah mencoba bangun dari mimpi buruk.
Zayne masih berdiri di tempatnya. Tubuhnya kaku, seolah tertambat pada lantai yang dingin, sementara pandangannya kosong menembus dinding putih di hadapannya. Tidak ada lagi air mata yang jatuh dari matanya, semuanya telah habis, terkuras saat ia memeluk tubuhmu yang tidak lagi bernyawa beberapa jam lalu. Tubuh yang dulu hangat, kini telah dingin dalam dekapnya yang sia-sia.
“I protected her. I made her feel at peace. I let her go because she chose you. I gave you that trust. And now, Caleb… she's dead. She never even got to see the child she imagined every single night.”
Keheningan menyelimuti lorong rumah sakit dengan ketegangan yang tidak terucapkan. Tidak satu pun dokter maupun perawat yang berani mendekat. Mereka memilih diam, memahami bahwa duka yang sedang bergulir di antara dua lelaki itu bukan sesuatu yang bisa mereka sentuh atau selesaikan. Ada luka yang terlalu dalam untuk diberi kata-kata, ada kehilangan yang terlalu pekat untuk dihibur.
Dua pria berdiri dalam kehancuran yang berbeda, satu terdiam dalam kemarahan dan kehilangan, satu lagi terpuruk dalam penyesalan dan rasa bersalah. Keduanya mencintaimu dengan cara yang tidak sama, dan kini keduanya sama-sama kehilanganmu, dengan cara yang juga berbeda.
Dan di antara kesunyian yang menggantung kaku di udara, hanya satu kebenaran yang tidak terbantahkan, kamu telah pergi. Dan tidak seorang pun, tidak Caleb, tidak juga Zayne, yang sungguh-sungguh siap untuk kepergianmu.
Enam tahun telah berlalu.
Langit siang itu bersih, dengan semburat awan tipis yang melayang tenang, seolah alam pun sedang tidak terburu-buru. Di dalam mobil yang melaju stabil menyusuri jalanan kota, suara musik dari radio terdengar ringan dan santai, mengiringi momen sederhana yang penuh makna.
Zayne duduk di balik kemudi dengan satu tangan di setir, satu lagi bertumpu santai di jendela yang terbuka sebagian. Udara siang menyusup masuk, membawa aroma aspal hangat yang terkena matahari. Di wajahnya tergambar ketenangan, jenis ketenangan yang tidak datang karena luka telah sembuh, tetapi karena ia telah belajar hidup berdampingan dengannya.
Ia menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sebuah sekolah dasar kecil yang dikelilingi taman hijau dan pagar putih. Mesin dimatikan, dan sejenak ia membiarkan dirinya menarik napas panjang sebelum membuka pintu dan melangkah keluar. Kemeja biru langit yang ia kenakan dibiarkan tergulung hingga siku, memberi kesan santai namun tetap rapi. Sepasang sepatu sneakers putih menemani langkahnya saat ia menyandarkan tubuh pada mobil dan menunggu.
Tidak lama kemudian, suara ceria menerobos udara siang itu.
“Uncle papaaa!”
Seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya. Rambutnya dikuncir dua, rok sekolahnya sedikit bergoyang tertiup angin. Wajahnya begitu bersinar, pantulan masa lalu yang tidak mungkin disangkal. Mata itu… senyum itu… sangat mirip dengan milikmu.
Zayne langsung menunduk, berjongkok, dan merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan kecil yang menghambur ke arahnya. Ia merengkuh tubuh mungil itu dengan kehangatan tulus, pelukan yang pernah ia berikan hanya untuk satu perempuan dalam hidupnya, kamu.
“So, how was school today, kiddo?” tanyanya lembut, sambil menyapu anak kecil itu dengan pandangan penuh kasih.
Anak kecil itu, Micah, anakmu, langsung menjawab dengan semangat. Kata-katanya belum sepenuhnya lancar, tapi antusiasmenya tidak terbendung. Ia bercerita tentang teman-temannya, guru yang lucu, dan warna crayon yang baru ia pakai untuk menggambar. Zayne mendengarkan dengan sabar dan penuh minat, bahkan sesekali tertawa kecil saat Micah mulai membelokkan cerita ke arah yang tidak terduga.
Pada akhirnya, ia mengusap kepala anak itu dengan penuh gemas, mengacak rambut halusnya hingga kuncir duanya sedikit miring. “You're getting smarter, Micah,” bisiknya bangga.
Sedikit di belakang mereka, berdiri seorang perempuan muda dengan mata teduh dan senyum lelah, Simone. Ia hanya diam, memperhatikan interaksi yang tidak pernah gagal membuat hatinya mencubit pelan. Enam tahun terakhir, ia tumbuh bersama Zayne dan Micah. Ia menjaga, menemani, dan merawat keduanya dalam keheningan yang penuh dedikasi.
Micah, yang kini telah menjadi bagian dari jiwanya juga.
Nama itu, Micah, bukan sembarang nama. Zayne yang memilihkannya. Nama yang berarti “Who is like God” - nama pendek, hangat, dan punya kekuatan emosional yang dalam. Bisa menyimbolkan keajaiban kecil yang hadir di tengah hubungan yang tidak sempurna antara kamu dan Zayne.
“Thanks, Sim…” ucap Zayne lirih, menoleh sebentar ke arah Simone. “Thanks for keeping Micah company while I was busy at the hospital”
Simone mengangguk pelan. “Your welcome …”
Ada jeda. Keheningan yang seolah menandai sesuatu yang akan berubah. Simone menarik napas perlahan sebelum akhirnya bersuara lagi.
“Zayne…”
Pria itu menoleh, masih dengan satu tangan memeluk Micah yang kini memegang ujung kerah kemejanya sambil bercerita pelan.
Simone menatapnya, lalu melanjutkan, “Can we talk for a sec?”
Suasana mendadak berubah sunyi. Udara terasa sedikit lebih berat, seakan menunggu apa yang akan terucap berikutnya. Zayne mengangguk pelan, lalu memutar tubuhnya sedikit sambil membelai punggung kecil Micah, bersiap menerima pembicaraan yang mungkin akan membuka kembali luka lama, atau justru membuka jalan menuju sesuatu yang baru.
Taman kota siang itu terasa damai, dipenuhi suara burung-burung kecil dan hembusan angin lembut yang menyentuh pucuk-pucuk pepohonan. Langit membentang biru, nyaris tanpa awan. Di sudut taman, Zayne dan Simone duduk bersebelahan di bangku kayu yang menghadap ke lapangan rumput luas. Tepat di depan mereka, Micah tampak berlari-lari kecil sambil meniup gelembung sabun yang melayang ke udara dan pecah satu per satu dalam cahaya matahari.
Tawa Micah menggema ringan, menciptakan ironi yang tidak terlihat, tawa seorang anak yang belum mengenal luka, dibayang-bayangi oleh kisah dua orang dewasa yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Simone menoleh pelan. Dari dalam tas tangannya, ia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi dan menyerahkannya kepada Zayne.
“I found this between the pages of (your name)'s diary,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh angin. “I'm sorry… I read part of it. But the rest… I believe it was written for you.”
Zayne menatap kertas itu tanpa suara. Jemarinya meraihnya dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh, yang masih menyimpan jejak terakhir seseorang yang amat ia cintai.
“Just read it later, okay?” tambah Simone cepat, nadanya sedikit cemas. “Not here… not in front of Micah.”
Zayne mengangguk pelan, lalu melipat kembali kertas itu dan menyelipkannya ke saku celananya. Ia menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepala sejenak, lalu kembali memandangi Micah yang kini tertawa saat gelembung-gelembung sabunnya mengejar angin.
“She's growing so fast,” gumam Simone, suaranya mengandung kekaguman sekaligus haru. “I still remember when she couldn't sit up by herself… now she talks, asks questions, even copies how (your name) laughs.”
Zayne tersenyum kecil, tetapi ada getir di balik senyumnya. “She's the only reason I'm still here.”
Simone mengangguk, lalu berkata perlahan, “If only she were still alive… I'm sure she'd be happy. With Micah. With you.”
Zayne menoleh ke arah Simone. Tidak ada kata yang diucapkan, tapi sorot matanya cukup menjelaskan betapa dalam luka yang masih menganga di dadanya.
“She truly loves you, Zayne,” ujar Simone, tanpa ragu. “I knew, even before she did.”
Zayne tidak langsung menjawab. Hanya diam, membiarkan ucapan Simone mengendap di dada. Angin siang menyapu rambutnya pelan, menyapu sisa-sisa kesedihan yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tetap memandangi Micah, anak itu tertawa, berlari, lalu jatuh dan bangkit lagi, seolah hidup ini tidak pernah menyakitkan.
Dan untuk sesaat, Zayne berpikir… mungkinkah kamu melihatnya dari sana? Dari tempat yang tidak bisa dijangkau oleh dunia ini?
Ia menunduk. Napasnya berat, menahan sesuatu yang terlalu tajam untuk diungkapkan. “I loved her quietly, Simone. Even when she chose someone else. Even when I had to pretend to be strong, pretend I was fine. When deep down, every time she said my name, I had to fight the urge to hold her and whisper… come home.”
Ia menggeleng pelan, menahan getir yang kembali merayap di tenggorokannya. “I was there when she cried. I was there when she was too tired to speak. But I was also the one who stepped back, because I thought… maybe she'd be happier without me.”
Zayne mengangkat pandangannya ke langit yang teduh, seolah mencari sesuatu di antara awan-awan yang melayang. “But no one was there for her when I left. And the hardest part is… I loved her enough to forgive it all, even her death.”
Ia menutup mata sejenak. Sekali lagi mengukir bayanganmu dalam pikirannya, cara kamu tertawa, cara kamu memanggil namanya, cara kamu selalu membuat segalanya terasa baik-baik saja.
Lalu dengan suara lirih, ia menambahkan, “If I could choose, I'd trade all this pain for just one more day with her. Just one day… to make sure she knows she was loved. Truly loved. Loved until the very end, even after she was gone.”
Di sampingnya, Simone tidak berkata apa-apa. Ia tahu, luka yang seperti itu tidak butuh jawaban. Hanya butuh seseorang untuk duduk bersama, dan membiarkannya tetap hidup dalam kenangan yang tak akan pernah benar-benar mati.
Beberapa detik berlalu sebelum Simone kembali bersuara, kali ini dengan nada hati-hati.
“By the way… about Caleb.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Any news from him?”
Zayne terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, “He's out tomorrow.”
Simone menoleh cepat. “Ohh… Really?”
Sehari setelah kabar kepergianmu mengudara, Caleb mendatangi kantor polisi dengan langkah yang tenang namun berat. Tanpa perlawanan, tanpa banyak kata, ia menyerahkan diri. Di hadapan para penyidik, ia mengakui telah menyebabkan kematian wanita yang paling ia cintai. Sebuah pengakuan yang tidak pernah diminta oleh siapa pun, namun ia ucapkan dengan penuh kesadaran, karena di dalam dirinya, rasa bersalah telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kejam dari hukuman manapun yang bisa dijatuhkan manusia.
Padahal semua orang tahu, bukan dia penyebabnya. Tapi terkadang, rasa kehilangan membuat manusia ingin disalahkan. Ingin dihukum. Ingin menebus sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ditebus.
Zayne tahu itu. Namun saat itu, ia terlalu hancur untuk menghentikan Caleb. Terlalu sibuk menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh. Ia hanya bisa menyaksikan dari jauh, membiarkan pria itu mengambil beban yang tidak sepenuhnya miliknya, dan membawanya pergi ke balik jeruji besi dengan kepala tertunduk, membawa luka yang tidak terucap.
Zayne masih diam. Dalam hatinya, perasaan bercampur aduk antara syukur dan kehilangan terus tumbuh tanpa kendali. Ia masih berharap Micah bisa mengenal Caleb lebih dekat, mengenal pria yang telah memberikan darah dagingnya. Namun setelah menerima kabar kematianmu, Caleb memilih menjauh, menghilangkan dirinya dari dunia ini dengan cara yang berbeda, dengan menghukum diri sendiri.
Dan sebelum pergi, Caleb hanya meninggalkan satu pesan. Bahwa Micah harus dijaga oleh Zayne. Karena hanya Zayne yang tahu cara mencintai anak itu tanpa syarat. Sama seperti dulu ia mencintai ibunya, dalam senyap, dalam keteguhan, dalam kesetiaan yang tidak pernah diminta balasan.
Angin bertiup pelan, membawa serta suara tawa Micah dan hembusan sabun yang mengilap diterpa matahari. Dunia seolah berjalan seperti biasa. Tapi di saku kemeja Zayne, ada sepucuk pesan yang menanti untuk dibaca, sebuah surat terakhir darimu. Dan dalam dada Zayne, nama dan kenanganmu akan selalu tinggal. Bersama satu tanggal dan waktu yang tidak akan pernah ia lupakan. Hari di mana hatinya kehilangan sebagian dari dirinya, selamanya.
Matahari sore menurunkan cahayanya perlahan, menumpahkan warna keemasan di atas pemakaman kecil di pinggir kota. Jalan setapak berkerikil terdengar pelan di bawah sepatu Zayne saat ia berjalan menyusuri barisan nisan marmer, sebuah buket mawar putih dan lavender tergenggam di tangannya. Angin berembus tenang, membawa aroma tanah lembap dan serpihan kelopak mawar kering yang ia taburkan setiap pekan, seolah menyiapkan selimut lembut untukmu di kedalaman sana.
Ia berhenti di hadapan sebuah batu nisan bergurat namamu. Batu itu bersih, diapit pot-pot bunga lisianthus ungu muda yang baru diganti kemarin. Di sekelilingnya, kelopak mawar merah muda bertebaran, membentuk lingkaran senyap yang seakan berkata, di sini kamu terlelap, dicintai selamanya. Zayne menekuk lutut, menaruh buket baru di atas tanah yang dirawat rapi. Ia menarik napas panjang, napas yang selalu terasa berat tiap kali datang ke sini, lalu bersuara, lirih namun jelas.
“Hey…,” ucapnya, jemarinya menelusuri pahatan namamu di marmer, bak menyapa kulit yang tak lagi bisa disentuh. “I hope the weather where you are is just as warm as it is here.”
Sunyi menjawab, tapi Zayne sudah terbiasa berbicara pada hening, ia tahu, diam pun dapat bercerita.
“I'm a bit late today,” lanjutnya pelan. “I had to pick Micah up from school. She's in first grade now, and God, she's growing so fast. Her hair, her laugh, the tiniest ways she moves… they're all echoes of you. And sometimes, when she's running, laughing, I swear I can almost see you there beside her, holding her hand, laughing with her. Almost.” Suaranya retak di ujung kata.
Ia duduk bersila di tanah rumput, menunduk sekilas untuk menenangkan gemuruh di dadanya. “Micah drew something at school today. Three people holding balloons, herself in the middle, me on one side, and you on the other. She said your balloon was the highest, because 'Mama is flying closest to the sky.'” Zayne tersenyum kecil, senyum yang bertemu air mata samar di pelupuknya. “I didn't know whether to laugh or cry. So I just did both.”
Angin sore bergeser, mengibaskan ujung kemejanya. Kelopak-kelopak mawar jatuh perlahan, seperti hujan lembut. Zayne menatapnya sebelum melanjutkan.
“I tried to be both a father and a mother to you. It's not easy, but maybe it's the only way to make up for the broken promise I failed to keep, to stand by you until you grow old.” Ia menghela napas lagi, lebih dalam. “Simone is still by my side. She reminds me that grief doesn't always need to leave, sometimes, you just have to let it walk with you.”
Hening singkat kembali turun. Zayne menunduk, jemarinya menggenggam tanah di tepi nisan seolah menggenggam tanganmu di balik bumi. Suara berikutnya nyaris berbisik.
“Sometimes, I still find myself dreaming,” katanya, lirih. “In my dreams, I hold your hand in the operating room, hear your heartbeat return, see you smile like the first time we met. Then I wake… and the room feels too big, too quiet.” Ia menutup mata, membiarkan pedih itu lewat perlahan. “But seeing Micah wake up with eyes just like yours… it feels like a part of you is still here.”
Zayne tegak kembali, duduk bersila lebih tegap. “Tomorrow, Caleb walks free,” katanya, nadanya landai tapi padat perasaan. “I'll talk to him. Micah deserves to know his true father… no matter how much it tears at my heart.”
Ia menarik napas panjang terakhir, lalu memandang nisanmu sambil tersenyum redup, senyum yang memuat rindu, cinta, dan pengampunan sekaligus.
“I'll be back to see you next week,” bisiknya, menata beberapa kelopak mawar yang tertiup angin ke posisi semula. “Until then… sleep peacefully. We're holding on, but not a day passes without missing you.”
Ia bangkit perlahan, menepuk-nepuk tanah dari lutut celananya. Sebelum berbalik, Zayne meletakkan telapak tangannya sebentar di atas nisan, sebuah pamit sunyi. Di atas bukit kecil itu, angin kembali berembus, mengangkat kelopak mawar hingga menari di udara keemasan, menjinggakan langit senja, dan mengiringi langkah Zayne menjauh, pulang bersama rindu yang akan terus ia rawat sepanjang hidup.
Mobil itu terparkir tenang di bawah langit kelabu yang mulai menangis perlahan. Hujan rintik-rintik membasahi kaca depan, menimbulkan suara halus seperti bisikan kenangan yang enggan pergi. Di dalamnya, Zayne duduk diam di balik kemudi, tubuhnya tertahan seolah dunia mendadak berhenti berputar.
Tangannya merogoh ke dalam saku kemeja, dan dari sana ia mengeluarkan secarik kertas yang telah ia simpan dengan hati-hati. Lipatannya masih rapi, meski sedikit lembap oleh kelembaban udara sore itu. Helaan napasnya dalam, matanya memejam sesaat sebelum ia membukanya. Kertas itu bergetar di jemarinya, entah karena tangan yang menggigil, atau karena hati yang sudah terlalu lama menahan luka.
Tulis tanganmu terpampang jelas di atasnya, dengan jejak pena yang tampak tergesa namun penuh perasaan. Ia mulai membaca.
For the naggy Dr. Zayne
If this letter ever reaches your hands, maybe it's just the universe's way of making a bitter joke.
I don't know how to write about something that feels this heavy. But ever since that night, the night two red lines showed up on that little stick, so small yet so full of responsibility. I knew my life would never be the same again.
My hands were shaking. Simone was the first to know, but you… you were the one I searched for. I didn't know if you'd be angry, confused, or walk away, but I still looked for you. Because only you could make me feel safe. Even before I knew my own heart, you were my safe place.
I never knew when my feelings started to change, but maybe it began when I found that old book you'd hidden in the drawer, filled with everything I'd need for this pregnancy. Healthy food lists, tips for nausea, even music for the baby. You never told me about it, but you wrote it all down. That's when I realized… you weren't just someone who cared. You were quietly becoming my definition of home.
Zayne, I can't say when these feelings began to bloom. But your unspoken care, your steady presence, and the way your eyes quietly protected me without asking for anything in return… they all made me fall in love. Quietly. Fearfully. In the fleeting time we had, and amidst the hopes we never dared to speak aloud. I loved you when you didn't know. I loved you, even when I was too afraid to name it love.
And this child… she may not be yours. But if you ever meet her, you'll understand, I just want her to grow up in the same love you once gave me. Not because of blood, not because you have to, but because your gentle heart is the best place I've ever known. I want her to know that. I want her to feel what it's like to be loved quietly, silently, yet always.
I wrote this before she was born. Because part of me fears I won't have the chance to tell you everything. To show you that I love you not because of what happened, but because your presence has saved me, time and again. If one day I can't stay by her side, look after her for me. And if there's still a place for me in your heart, don't let guilt break it. Because no matter what, you were the last home I ever had.
Thank you for staying. Even when I couldn't find the words to ask you to.
– your gremlin.
Zayne tidak mampu menahan gemuruh di dadanya. Matanya memanas, kabur oleh air mata yang sejak tadi ia tahan, seolah surat itu membuka pintu luka yang belum benar-benar sembuh. Dadanya sesak, bukan karena kalimat-kalimat itu terlalu menyakitkan, tapi karena cinta di dalamnya begitu nyata, begitu dalam, dan begitu… terlambat.
Zayne menggenggam erat kemudi, jemarinya mencengkeram seolah-olah jika ia melepaskannya, semua yang ia tahan akan runtuh bersama dunia yang tidak lagi sama. Kepalanya tertunduk, bahunya sedikit bergetar. Air mata jatuh perlahan di antara helaan napas yang berat, mengguratkan luka yang tidak bisa dijahit waktu. Tangisannya tidak nyaring, namun ada beban yang jelas di sana, seperti dada yang mendadak kosong dan hati yang tersisa setengah, karena separuh lainnya telah terkubur bersama nama yang tidak lagi bisa ia panggil.
Ia menutup matanya, membiarkan ingatan terakhir tentangmu melintas sekali lagi: senyummu yang lembut, suaramu yang penuh tawa kecil, dan tanganmu yang dulu begitu yakin menggenggam masa depan bersamanya, walau tidak kamu ucapkan.
Hujan mengguyur atap mobil, mengiringi keheningan yang tidak bisa disangkal. Namun di tengah isak langit dan remuknya jiwa, ada satu hal yang tetap tinggal di dadanya, sebuah cinta yang mungkin tidak sempat selesai, tapi tidak pernah gagal tumbuh.
Dan saat mobil itu akhirnya melaju perlahan meninggalkan tempat peristirahatanmu, Zayne tahu… tidak ada hari yang lebih hening dari hari ini. Tapi juga, tidak ada cinta yang lebih utuh dari cinta yang tetap hidup… meski kamu sudah tidak lagi di sini.
E N D. © calsavapple 🍎