jaemtigabelas

bagian dua puluh; menyatukan keluarga yang retak.

”Ngapain lo ke sini?” Tanya Joey sinis yang ditujukan pada lelaki yang kini terduduk di ruang tamu rumahnya. Bersama Malik dan Hendra yang Joey tidak tahu kapan lelaki itu pulang.

“Dek… duduk dulu. Kita bicara pake kepala dingin ya.” Tegur Malik menenangkan Joey.

“Nggak. Gue mau pergi.” Tolak Joey.

“Kemana? Cewek nggak boleh keluar malem-malem neng?” Hendra ikut bersuara.

“Pergi sama temen-temen gue lah. Mencari kesenangan hidup.” Joey sengaja mengingatkan pada Nagara. Bahwa saat mereka bersama, Joey hampir tidak pernah menghabiskan waktunya bersama teman-teman kantornya, dan teman-teman sekolahnya.

”Nggak. Lo nggak boleh pergi.” Malik mendesis.

“Kenapa? Gue cuma mau seneng-seneng sama temen-temen gue kak, nggak boleh emang? Setidaknya jalan-jalan bisa bikin gue lupa kalo gue janda yang pernah hampir punya anak.” Teriak Joey emosi. Berbinanglah kedua matanya.

Nagara masih tidak berkutik. Matanya fokus melihat ke bawah. Menatap kedua kakinya yang sedari tadi sedikit bergetar takut. Ya, lelaki bersurai hitam legam itu takut, lebih tepatnya takut pada Joey. Telinganya mendengar setiap kalimat sarkas dari mulut Joey yang sengaja ditujukan padanya. Seperti pisau yang menancap di relung hatinya.

“Dek dengerin dulu napa sih?.” Malik meninggikan suaranya.

“Nggak ada yang perlu didengerin lagi kak.” kepala Joey sedikit menggeleng.

“Selesaiin dulu masalah kalian!” Tegas Malik.

“Apa lagi? Kita udah pisah. Kita selesai!!” Tekan Joey yang ingin menjelaskan kepada semua orang yang ada disana, bahwa dirinya dan Nagara sudah selesai.

“Belum....” Malik menggeleng pelan.

”Hah? Maksud lo kak?” Dahi Joey mengernyit.

“Maaf. Tapi…” Malik menggantungkan kalimatnya. Sejenak melirik Nagara sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalian belum bercerai.”

Joey menatap Malik super bingung. Ada apa ini? Bukankah semua urusan perceraiannya dengan Nagara kakaknya yang urus?

“Lo masih sah istri Nagara. Emang gue yang ngurus, tapi Nagara menolak menandatangani berkasnya. Selama ini, Nagara masih memenuhi kewajibannya buat nanggung kehidupan lo. Maafin gue.”

Joey menatap Malik dengan tatapan tidak menyangka. “Kenapa lo lakuin ini kak?”

Gadis dengan rambut yang terikat ke atas itu mengambil napas. Berjalan menghampiri Nagara dan siap memaki lelaki itu.

“Belum cukup lo nyakitin gue?” Nagara menatap Joey. Tersirat arti memohon di dalam obsidian tersebut. Namun percuma, hati Joey sudah sangat tertutup rapat.

“Kasih saya kesempatan lagi, Joey.” Akhirnya Joey mendengar suara Nagara untuk pertama kalinya semenjak perpisahan mereka.

Suara berat dan serak yang Joey rindukan.

“Kesempatan? Udah gue kasih. Semua sikap dingin lo. Lo yang selingkuh sama Freya. Nenek lo yang maksa lo buat nikah lagi... Gue masih mau nerima lo Nagara!” Emosi Joey meledak.

“Neng…” Hendra berusaha merangkul. Akan tetapi Joey segera menepis tangannya.

“Terkecuali lo yang nyuruh gue buat gugurin bayi gue. Gue kehilangan Nagara. Gue mau semua ini selesai.” Joey memejamkan mata. Air mata turun menganak sungai di pipinya seiring hatinya yang berdarah-darah saat ini.

“Termasuk kita juga.”

Joey memandang Malik sejenak lalu melihat Nagara lagi. Lelaki itu masih diam di tempat—tentu saja dia sangat terkejut. Tercengang mendengar apa yang barusan diucapkan gadisnya. Kalau kalian menempelkan telinga kalian di dada Nagara, kalian akan tahu betapa cepat detak jantung lelaki jangkung itu berdetak. Bahkan saat ini, Nagara seperti lupa bagaimana cara berkedip.

“Lo lebih brengsek dari cowok bajingan gila na. Lo itu monster. Lo yang bunuh bayi gue. Lo lihat, binatang aja nggak mau bunuh bayinya sendiri. Lo pengecut. Iya, semua ini salah lo. Seandainya lo bertanggung jawab. Seandainya lo menginginkannya juga. Seandainya lo jagain gue. Dia nggak bakal mati!!!” Joey berteriak frustasi tepat di hadapan Nagara. Memuntahkan semua kesakitan di hatinya.

Joey lari menuju tangga dan kembali ke kamarnya. Tidak mempedulikan lelaki yang kini berusaha tegar, memangapkan hatinya yanh sudah teriris menjadi beberapa keping.

Kalimatmu membuat dunia Nagara hancur Joey.

“Biar gue yang bicara sama dia.” Hendra lalu mengejar Joey. Berusaha sebisa mungkin menyatukan keluarga ini. Meskipun terlihat sangat mustahil.

—jaemtigabelas

bagian dua puluh; menyatukan keluarga ya retak.

”Ngapain lo ke sini?” Tanya Joey sinis yang ditujukan pada lelaki yang kini terduduk di ruang tamu rumahnya. Bersama Malik dan Hendra yang Joey tidak tahu kapan lelaki itu pulang.

“Dek… duduk dulu. Kita bicara pake kepala dingin ya.” Tegur Malik menenangkan Joey.

“Nggak. Gue mau pergi.” Tolak Joey.

“Kemana? Cewek nggak boleh keluar malem-malem neng?” Hendra ikut bersuara.

“Pergi sama temen-temen gue lah. Mencari kesenangan hidup.” Joey sengaja mengingatkan pada Nagara. Bahwa saat mereka bersama, Joey hampir tidak pernah menghabiskan waktunya bersama teman-teman kantornya, dan teman-teman sekolahnya.

”Nggak. Lo nggak boleh pergi.” Malik mendesis.

“Kenapa? Gue cuma mau seneng-seneng sama temen-temen gue kak, nggak boleh emang? Setidaknya jalan-jalan bisa bikin gue lupa kalo gue janda yang pernah hampir punya anak.” Teriak Joey emosi. Berbinanglah kedua matanya.

Nagara masih tidak berkutik. Matanya fokus melihat ke bawah. Menatap kedua kakinya yang sedari tadi sedikit bergetar takut. Ya, lelaki bersurai hitam legam itu takut, lebih tepatnya takut pada Joey. Telinganya mendengar setiap kalimat sarkas dari mulut Joey yang sengaja ditujukan padanya. Seperti pisau yang menancap di relung hatinya.

“Dek dengerin dulu napa sih?.” Malik meninggikan suaranya.

“Nggak ada yang perlu didengerin lagi kak.” kepala Joey sedikit menggeleng.

“Selesaiin dulu masalah kalian!” Tegas Malik.

“Apa lagi? Kita udah pisah. Kita selesai!!” Tekan Joey yang ingin menjelaskan kepada semua orang yang ada disana, bahwa dirinya dan Nagara sudah selesai.

“Belum....” Malik menggeleng pelan.

”Hah? Maksud lo kak?” Dahi Joey mengernyit.

“Maaf. Tapi…” Malik menggantungkan kalimatnya. Sejenak melirik Nagara sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalian belum bercerai.”

Joey menatap Malik super bingung. Ada apa ini? Bukankah semua urusan perceraiannya dengan Nagara kakaknya yang urus?

“Lo masih sah istri Nagara. Emang gue yang ngurus, tapi Nagara menolak menandatangani berkasnya. Selama ini, Nagara masih memenuhi kewajibannya buat nanggung kehidupan lo. Maafin gue.”

Joey menatap Malik dengan tatapan tidak menyangka. “Kenapa lo lakuin ini kak?”

Gadis dengan rambut yang terikat ke atas itu mengambil napas. Berjalan menghampiri Nagara dan siap memaki lelaki itu.

“Belum cukup lo nyakitin gue?” Nagara menatap Joey. Tersirat arti memohon di dalam obsidian tersebut. Namun percuma, hati Joey sudah sangat tertutup rapat.

“Kasih saya kesempatan lagi, Joey.” Akhirnya Joey mendengar suara Nagara untuk pertama kalinya semenjak perpisahan mereka.

Suara berat dan serak yang Joey rindukan.

“Kesempatan? Udah gue kasih. Semua sikap dingin lo. Lo yang selingkuh sama Freya. Nenek lo yang maksa lo buat nikah lagi... Gue masih mau nerima lo Nagara!” Emosi Joey meledak.

“Neng…” Hendra berusaha merangkul. Akan tetapi Joey segera menepis tangannya.

“Terkecuali lo yang nyuruh gue buat gugurin bayi gue. Gue kehilangan Nagara. Gue mau semua ini selesai.” Joey memejamkan mata. Air mata turun menganak sungai di pipinya seiring hatinya yang berdarah-darah saat ini.

“Termasuk kita juga.”

Joey memandang Malik sejenak lalu melihat Nagara lagi. Lelaki itu masih diam di tempat—tentu saja dia sangat terkejut. Tercengang mendengar apa yang barusan diucapkan gadisnya. Kalau kalian menempelkan telinga kalian di dada Nagara, kalian akan tahu betapa cepat detak jantung lelaki jangkung itu berdetak. Bahkan saat ini, Nagara seperti lupa bagaimana cara berkedip.

“Lo lebih brengsek dari cowok bajingan gila na. Lo itu monster. Lo yang bunuh bayi gue. Lo lihat, binatang aja nggak mau bunuh bayinya sendiri. Lo pengecut. Iya, semua ini salah lo. Seandainya lo bertanggung jawab. Seandainya lo menginginkannya juga. Seandainya lo jagain gue. Dia nggak bakal mati!!!” Joey berteriak frustasi tepat di hadapan Nagara. Memuntahkan semua kesakitan di hatinya.

Joey lari menuju tangga dan kembali ke kamarnya. Tidak mempedulikan lelaki yang kini berusaha tegar, memangapkan hatinya yanh sudah teriris menjadi beberapa keping.

Kalimatmu membuat dunia Nagara hancur Joey.

“Biar gue yang bicara sama dia.” Hendra lalu mengejar Joey. Berusaha sebisa mungkin menyatukan keluarga ini. Meskipun terlihat sangat mustahil.

—jaemtigabelas

bagian sembilan belas; kepergian.

Di dalam perjalanan yang canggung. Joey hanya duduk manis. Jantungnya berdebar sangat cepat. Sungguh. Di hatinya, Joey berdoa, semoga ada keajaiban. Semoga Nagara bisa menerima bayinya.

“Jangan takut! Dokter nggak bakal makan kamu.” Nagara melihat tangan Joey yang meremas tas kecilnya.

“Gue lebih takut lo yang makan anak gue nanti.” Kalimat yang ambigu. Nagara bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa maknanya.

“Saya boleh sentuh kamu?” Nagara menoleh singkat.

“HAH?!! DISINI???” Joey berteriak, Nagara terjengat sedikit mendengar suara tinggi gadis itu.

“Bukan kamu tapi... Dia.” Nagara mengulurkan tangannya mengarah pada perut Joey.

Dengan wajah merah seperti biasa, Joey menahan napas saat tangan Nagara merambat pelan. Tangan kekar itu meraba perutnya. Masih belum terasa apapun. Dia masih 4 minggu, lebih sedikit. Tapi pertemuan tangan Nagara dengan perut Joey menggetarkan hati keduanya. Menggetarkan tangan kiri Nagara yang masih memegang kemudi.

Bayi empat minggumu ada di dalam, na.

Ponsel Nagara tiba-tiba berbunyi, memecahkan kesunyian diantara keduanya.

“Apa?” Jawab ketus Nagara saat menjawab melalui handsfree. Tentu setelah dia tahu, itu adalah orang kepercayaan neneknya.

“Kok bisa?… Dimana? …. Yaudah aku kesana sekarang!” Nagara memutus teleponnya. “Kita mampir ke rumah saya bentar.”

Nagara memutar kemudinya. Joey tidak pernah membayangkan akan datang ke rumah ini. Dua setengah tahun Joey menikah dengan Nagara, gadis itu belum pernah datang ke sini. Kediaman keluarga Nagara. Joey beberapa kali bertemu dangan ayah Nagara. Tapi tidak di rumah ini.

“Tunggu di sini!” perintah Nagara, meninggalkan Joey di ruang tamu seorang diri. Sedangkan lelaki itu naik ke lantai dua. Tapi bukan Joey kalau dia tidak keras kepala. Dia mengikuti Nagara dengan perlahan.

Nagara berjalan menuju kamar yang letaknya di ujung lorong lantai dua. Joey mengintip disela pintu yang terbuka sedikit. Di dalam sana, nenek Nagara terbaring di kasur. Di sekitarnya ada mertuanya, seorang dokter. Nagara dan seorang wanita yang Joey yakini adalah Freya.

“Jadi ini yang nenek maksud keadaan darurat?” Tanya Nagara.

”Berhenti main-main, na!” Sentak sang nenek. “Cepatlah kalian menikah!” Kalimat terkutuk itu lagi.

“Itu nggak bakal terjadi.” Nagara menggeram.

“Kenapa? Istri kamu itu melarang? Freya bahkan jauh lebih baik dalam segala hal dari istrimu itu. Freya bahkan pernah menolong nenek. Aku berhutang nyawa padanya. Lebih dari itu dia lebih pantas menjadi istrimu.”

“Nenek yang berhutang padanya. Jadi bayarlah sendiri! Jangan menggunakan aku.” Desis Nagara.

“Aku menginginkan Freya.” Nenek Nagara masih keras kepala.

“Anda akan mendapatkannya, nek.” Joey berbicara. Di depan pintu. Tubuhnya bergetar hebat. Semua orang terkejut. Terlebih Nagara.

“Anda mendapatkannya, Freya akan menjadi menantumu. Saya akan menyingkir seperti yang anda inginkan.”

“JOANNE!!” Nagara berteriak. Membentak.

“Ini semua udah cukup buat gue.” Joey berbalik. Berlari menuruni tangga.

“Sial!” Nagara mengumpat. Menyusul Joey.

“Berhenti disitu Joey!”

Tidak menghiraukan, Joey terus berlari. Sampai di halaman depan, Nagara menggenggam tangan Joey. Ya Tuhan, bayi empat minggu itu masih di dalam dan Joey berlari seperti orang kerasukan. Rahang Nagara mengeras.

“Dengerin saya dulu!” Sentak Nagara.

“Dengerin apa? Lo sama Freya? Gue udah tahu semuanya. Lo laki-laki brengsek, na. Pergi aja sama cewek lo itu. Gue sama anak gue nggak butuh lo. Gue bisa rawat sendiri. Gue benci sama lo, Nagara!” Joey berteriak di depan wajah Nagara. Lalu menangis keras.

Nagar terkejut bukan main. Dan dia lengah. Joey meringis memegang perutnya. Gadis itu menatap Nagara. Berusaha mengadu pada lelaki jangkung itu lewat matanya. Joey meremas kaos Nagara. Lelaki itu membeku. Pemandangan di depannya terlihat seperti malaikat pencabut nyawa baginya. Ini lebih dari mengerikan.

“Sakiitttt…”

“Apa? Mana yang sakit?” Nagara panik bukan main. Joey meringis lagi.

”JAWAB JOEY!!”

“Perut gue… perut gue sakiiitttt…” Joey menangis. Terisak semakin kencang.

“Ya Tuhan kamu berdarah.”

Darah mengalir deras dari sela paha Joey. Tanpa babibu lagi, dengan ketakutan yang luar biasa, Nagara membawa Joey dalam gendongannya.


Nagara masih berdiri di depan ruang bangsal. Setelah 2 jam berada dibawah tangan para dokter, Joey baru sadarkan diri ketika hari mulai malam. Istrinya di dalam sana dan Nagara masih belum menemuinya.

Nagara termenung sejenak. Perlahan, membuka pintu kamar rawat Joey. Nagara melihat malaikat maut lagi, terasa seperti akan mati. Joey duduk di kasur bangsalnya dengan pakaian rumah sakit yang kebesaran untuk badan mungilnya. Tatapannya lurus dan kosong. Wajahnya pucat. Matanya memerah dan basah. Dia pasti sudah tahu semuanya.

“Nagara...” Lirih Joey. Yang pertama menyapa, saat ia menyadari kehadiran lelaki bersurai hitam legam itu.

“Bayi gue udah mati. Hari ini, bukan dihari lain.” Joey terisak lagi. Suaranya pedih. Matanya berisi kesedihan dan kehilangan.

Nagara tercekat. Tidak bisa bernapas dengan benar. Dia ingin memeluk daksa gadis pedih itu.

“Permintaan lo udah terpenuhi. Sekarang giliran gue yang minta.” Joey bergetar dalam suaranya. Dia tidak mendengar hatinya. Dia tidak sejalan dengan logikanya. Dia menjauh dari akal sehatnya.

“Ayo, kita cerai.”

Hancur sudah dunia Nagara saat ini. Istrimu ingin berpisah denganmu, na.

”Yaudah kalo emang itu mau kamu.” Nagara hanya menjawab begitu sebelum dirinya berjalan menjauh dari seluruh kesadarannya.


Nagara keluar dari ruangan itu, setelah menyetujui permintaan sang istri. Nagara setuju? Bahkan lelaki itu sendiri tidak yakin. Apa dia memang setuju?

Nagara bersandar di pintu ruang bangsal. Pandangannya masiu kosong. Dengan gerakan pelan, Nagara merogoh saku celananya. Dia mendapatkan sesuatu dari dalam.

Selembar berwarnya hitam putih. Foto bayi tiga minggunya yang dulu sempat diambil saat pertama kali Joey mendapatkan perawatan medis.

“Maafin ayah, Sayang. Maafin ayah, Giselle.” Nagara menangis dalam diamnya.

Dalam sakitnya. Bersama Joey yang terisak dengan suara yang bisa di dengar, bahkan di tempat Nagara berdiri sekarang.

Giselle?

Iya, Nagara sudah menamai Anaknya. Giselle Joanna Nathania. Itu nama bayi empat minggunya. Bayi pertamanya. Bayi yang menemani Nagara saat Joey pergi dari apartemennya. Menemani Nagara tidur setiap malamnya. Bahkan saat lelaki itu di rumah sakit pasca dihajar Malik habis-habisan di seluruh tubuhnya.

Bayinya yang telah tiada. Giselle yang menemaninya, walau hanya berwujud selembar hitam putih.

“Kamu terlalu cepat pergi. Ayah bahkan baru sekali pegang kamu nak.”

Demi Tuhan, kan? Nagara benar-benar mencintai bayi empat minggunya.

—jaemtigabelas

bagian delapan belas; truth or dare.

Ting... Tong...

Bel apartemen Nagara berbunyi. Sang pemilik pun segera membukakan pintunya. Nagara bisa menebak pasti yang datang adalah saudata iparnya, Malik.

”Hai bro...” Sapa Malik dengan tangan yang angkat sejajar dengan daun telinganya.

Baru ingin menjawab, Nagara tertegun saat mengetahui bahwa Malik datang tidak sendiri. Gadis yang Nagara rindukan setengah mati ada disini. Joey nya.

Gadis itu sedang bersembunyi dibalik punggung Malik. Wajahnya tertunduk, sengaja agar tidak berkontak mata dengan Nagara. Tujuan Joey datang ke apartemen Nagara bukanlah karena dipaksa Malik. Melainkan karena kemauannya sendiri. Rasa kahwatir yang menyelimuti hatinya menjadi alasan terbesar kenapa Joey bisa sampai di halaman apartemen Nagara.

Tanpa menunggu lama lagi, Nagara menyuruh mereka masuk ke dalam. Sambil sesekali kedua sejoli itu mencuri pandang satu sama lain.

Dan Suasana malam ini sangat heboh. Hendra di ruang tamu sedang bermain game bersama Nagara, Malik, dan Rendy. Sedangkan Joey hanya diam mengamati keempat sahabat itu yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Entah apa yang terjadi, setiap beberapa menit berselang teriakan Hendra menggelegar mengatai Rendy bego. Bego. Dan bego.

“Lo yang bego, hen! Lo tahu Rendy buta game, masih aja nantangin. kayak main sama anak 3 tahun.” Nagara mengatai Rendy.

”Heh, orang sakit mending diem ae anying nggak usah bacot.” Rendy berteriak tidak terima. Disusul Malik yang sedari tadi hanya tertawa terbahak-bahak.

”Udah lah anjir daripada ribut mending main truth or dare aja gimana?” Tanya Hendra pada ke lima manusia yang ada dihadapannya dengan senyum miringnya.

Nagara, Malik, dan Rendy pun mengangguk setuju.

”Heh lu obat nyamuk...” Hendra sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Joey yang sedari tadi diam di balik punggung sang kakak dengan leluasa. “Lu... ikut!”*

Joey hanya bisa menyibir dan mendumel dalam hati. Tanpa sadar Nagara yang sedang duduk disampingnya itu tersenyum tipis.

Setelah mengerahkan keahlian merayunya, Hendra berhasil menyeret Joey dan Nagara kedalam permainan. Malik, Hendra, Rendy, Nagara dan Joey duduk mengelilingi sebuah meja. Dan di atasnya, sebuah botol telah di putar.

Botol berhenti.

Untuk Hendra.

“Oke. Truth or dare? Tantangannya, lo harus lepas baju atas lo.”

“JANGAN GILA WOY!” Joey akhirnya berteriak.

“Lu pada jahat banget anying sama gue!” Bentak Hendra. “Yaudah gue mau truth kalo gitu.”

Gue yang tanya.” Malik mengangkat tangannya. “Lo kan dari dulu nggak punya pacar hen. Lo punya nggak sih cewek yang lo taksir sekarang?”

“Nggak. Gue nggak punya, puas kalian?” Hendra cemberut.

“Ahhh yang bener?” Malik bertanya lagi.

“Ahhh anjir kenapa harus itu sih yang ditanyain?” Hendra mengacak rambutnya frustasi.

”Yaudah iya ada. Gue lagi suka sama cewek. Tapi gue nggak bisa sama dia gara-gara dia udah punya orang yang dicintainya.” Hendra melihat Joey, dibalas dengan tatapan iba Joey untuknya.

“Jadi cinta yang nggak terbalas. Kasihan banget dah nasib lo.” Rendy menyindir. Nagara tersenyum miring.

Botol berputar lagi. Kini giliran Nagara.

“Truth or dare?” Tanya Rendy.

“Tantangannya... lu harus cium cewek manis yang ada di samping lu.” Hendra antusias. Ini dia jebakannya. Gadis itu Joey. siapa lagi?

“Truth.” Nagara menjawab mantap. Tanpa disadari, Joey merasakan kekecewaan. Nagara tidak mau mencimnya. Oh, kamu merindukan bibir Nagara, Joey?

“Ok....” Hendra menganggukkan kepalany beberapa kali. “Neng, punya pertanyaan nggak buat suami lu ini?”

Joey diam beberapa saat. Berpikir. Sampai akhirnya Joey memberanikan diri untuk menatap Nagara. Langsung ke mata lelaki itu. Ini pertanyaan dari hati terdalamnya.

“Lo nyuruh gue buat aborsi. Seandainya bayi gue mati persis kayak apa yang lo mau, apa lo bakal bahagia?”

Nagara dialiri listrik ribuan volt. Menegang. Terkejut luar biasa. Pertanyaan Joey diluar prediksinya. Dan akhirnya Nagara lebih memilih melakukan satu hal dari pada bicara.

Cup

Cepat. Nagara menarik Joey dalam pelukannya. Menempelkan bibir tebalnya pada bibir mungil gadis itu. Menyatu. Pada akhirnya Nagara memilih dare, daripada truth. Benar–benar seorang Abimanyu Surya Nagara sekali. Tidak pandai bicara tapi sangat ahli dalam bertindak.

Tidak ada perlawanan. Nagara dan Joey memejamkan matanya. Saling melumat. Dalam. Emosi, kekecewaan, kesakitan, kerinduan, cinta dan rasa saling membutuhkan menjadi satu di dalam ciuman mereka. Dan Nagara menyelipkan satu rasa lagi di dalamnya. Kejujuran. Bukan dengan kata. Joey, semoga kamu mengerti. Aamiin.

“Okeeeyyy... I’m hungry.” Malik beranjak dari duduknya dan pergi menuju dapur.

“Astaghfirullah, gue masih belum cukup umur woy.” Hendra menggerutu sambil menutup kedua mata Rendy dengan telapak tangannya.

Dalam hatinya, dengan ketulusan dia berdoa. Pasangan sialan ini harus kembali bersama. Tidak peduli kalau mungkin di masa depan mereka akan semakin merecoki hidup Hendra dan semakin merepotkan.

6 menit itu waktu yang lama. Ciuman bibir panas Nagara baru terlepas dari bibir Joey yang sekarang sama panasnya. Selesai melepas rindu sejenak. Napas mereka memburu. Nagara menarik wajahnya menjauh.

Brengsek! Kenapa Joey nya basah? Bukan di bibir. Tapi diseluruh wajah.

Joey menangis. Terisak.

“Kalo gue memohon, apa ada kemungkinan lo bakal izinin gue buat ngelahirin bayi ini? Gue mohon, pikirin lagi. Dia anak lo juga mas.” Terisak pedih. Joey berdiri dan meninggalkan Nagara. Joey sudah tahu kalau suaminya itu tidak akan menjawab.

—jaemtigabelas

bagian tujuh belas; kekacauan (lagi).

“Kamu mau kemana?” Nagara sudah berdiri di kamar mereka.

Setelah Nagara menerima telepon dari Hendra, lelaki itu langsung meninggalkan urusan kantornya dan langsung pergi ke apartemennya.

Disinilah dia sekarang. Berdiri di belakang Joey yang kini sedang memasukkan bajunya ke dalam koper.

”Gue mau pulang.” Joey membalas tatapan Nagara.

”Kamu nggak boleh kemana-mana, Joanne.”

“Terus buat apa gue disini? Lo udah nggak butuh gue. Lo bahkan nggak mengharapkan kehadiran bayi ini, Nagara.” Joey berteriak pada Nagara. Mengeluarkan amarahnya lebih baik daripada mengeluarkan air matanya di depan lelaki brengsek ini.

Joey lalu mengambil ponselnya. “Hendra… Tolong antar gu..”

”GUE BAKAL BUNUH LO KALAU LO SAMPAI DATENG KE SINI!!!” Bentak Nagara pada Hendra setelah merebut ponsel dari tangan Joey.

”Naga...”

“DIAM!!!”

BRAAAKKK...

Nagara menghantamkan ponsel yang digenggamnya pada lemari yang ada di samping Joey dengan kekuatan maksimalnya. Ponsel tersebut pecah menjadi beberapa kepingan.

Joey terdiam. Tentu saja. Gadis lemah dan sepolos Joey, mana mungkin bisa melawan amarah Nagara. Suaminya yang dia sendiri tidak tahu benar bagaimana jalan pikirannya. Joey kemudian memalingkan pandangannya. Menyembunyikan wajah sedih itu dari pengelihatan Nagara. Dan kini Joey menyerah untuk menahan air matanya. Ia menggigit bibirnya sekuat mungkin untuk meredam suara tangisnya. Bibirnya sakit, pipinya perih, dan hatinya sangat sesak.

BUGGHHH...

Joey tersentak. Terkejut bukan main. Lelaki yang barusan memukul Nagara ini berpakaian rapi. Memakai kemeja abu-abu tua berlengan panjang yang ia gulung sampai siku. Pakaian yang sangat pas pada tubuhnya. Dia juga memakai celana Jeans belel kesayangannya sebagai bawahan.

Malik.

Secepat kilat tanpa kata, lelaki yang kartu identitasnya bertuliskan nama Malik Andeswara itu meraih tangan Joey. menyambar koper sang adik dan menariknya pergi dari pandangan Nagara.

Nagara tidak pernah memperkirakan kehadiran Malik. Kenapa lelaki itu tiba-tiba kesini? Nagara hanya bisa mematung membiarkan Malik membawa Joey pergi darinya. Kenyataan sialan kalau dia telah menyakiti Joey dan Malik mempunyai hak atas gadis itu, membuat Nagara tidak bisa berbuat apa–apa. Ya, setidaknya untuk sekarang.

Suatu hari nanti, Joey akan kembali padanya. Nagara akan mengusahakan itu. Dengan apapun. Nanti. Hibur Nagara dalam hati.

Dan Nagara melihatnya. Mata yang merah dan wajah pucat yang basah dengan air mata. Ahh, satu lagi. Tubuh yang bergetar hebat. Itu adalah bagaimana keadaan gadisnya yang tertangkap oleh ekor mata Nagara. Tanpa kata-kata, Joey hanya patuh pada kakak laki-lakinya untuk pergi dari apartemennya.

—jaemtigabelas

bagian enam belas; kekacauan.

Setelah dari supermarket hanya sekedar untuk membeli susu ibu hamil, mobil Hendra sudah terparkir manis di halaman depan. Joey mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah mobil mewah berwarna merah menyala terparkir di dekat garasi.

Mobil siapa? mobil itu mirip seperti mobil Nagara dulu. Sebelum berganti dengan yang baru, berwarna putih.

Joey ingin bertanya pada Hendra, tapi ia urungkan. Melihat Hendra yang menyipitkan mata sampai mata itu nyaris terpejam, lelaki itu pasti tidak tahu apa – apa. Joey melangkahkan kakinya menuju ke dalam apartemen.

Saat Joey sudah tiba di ruang tamu, yang gadis itu lihat adalah seorang wanita tua yang berdandan glamour. Wanita yang duduk di kursi tengah. Yang Joey yakini adalah nenek Nagara.

Mereka saling menatap satu sama lain. Pandangan Joey datar. Sampai beberapa saat wanita itu hanya melihatnya. Meneliti dari bawah sampai ke atas. Jujur saja, Joey merasa asing dengan wanita tua ini. Dia bahkan tidak hadir saat pernikahannya dengan Nagara. Joey hanya mendengar semua tentang beliau dari sang ibu atau dari kak Malik yang beberapa kali menghadiri rapat bersamanya. Dan apa ini? Nenek Nagara Menatap detail Joey seperti dirinya ini seorang yang baru saja mencuri.

“Jadi kamu yang namanya Joanne Josephine?” Suaranya yang tajam terdengar ke indra pendengaran Joey.

Ahh, sekarang Joey mengerti darimana Nagara mewarisi nada bicara seperti itu. Lembut, pelan dengan nada rendah tapi sarat akan penekanan dan menusuk. Membangunkan seluruh bulu yang ada ditubuh Joey saat ini.

“Iya” Joey membalas tatapannya.

“Bodoh sekali aku, kenapa aku bisa merestui begitu saja waktu Nagara milih gadis kayak kamu buat jadi istrinya? Nagara adalah Putra tunggal sekaligus pewaris perusahaan besar. Kamu benar-benar nggak pantes buat dia.”

Deg!

Joey terhenyak. Merestui? Apa maksudnya merestui? Jadi pernikahan mereka bukan kehendak orang tua Nagara? Jadi mereka menikah bukan karena dijodohkan? Tapi dulu orang tuanya bilang kepada Joey bahwa dirinya akan dijodohkan. Ya Tuhan, ada apa lagi ini?

“Terus, nenek mau apa dari saya?” Joey berusaha menantang.

“Izinkan Nagara menikah lagi. Aku nggak menyuruh kalian berpisah. Tapi setidaknya jangan biarkan dunia tahu kalau keluarga kami berhubungan dengan keluarga kamu. Aku punya calonku sendiri untuk cucuku.”

Joey yang mendengar kalimat sarkas itu kemudian mendecih pelan. “Apa salah keluarga saya pada keluarga anda?” Joey mulai bergetar. Berapa lama lagi ia sanggup berdiri?

“Karena kamu menjadi bagian dari keluarga saya. Itu salah besar. Seharusnya waktu Nagara melamar kamu, kalian jangan menerimanya. Kalian nggak cukup pantas buat kami. Kamu tahu, apa yang keluargamu nggak punya?” Wanita tua itu bangun dari duduknya. Berjalan pelan mendekat ke arah Joey.

“Martabat dan kehormatan!” Sentaknya di depan Joey. ”Keluargamu nggak punya itu. Pernikahanmu sama Nagara adalah penghinaan untukku.”

”Nenek!” Hendra berteriak. Joey bahkan melupakan keberadaan lelaki itu.

“Diam kamu Hendra! Kamu bahkan cuma laki-laki miskin, benalu yang menempel sama cucuku.” Bentak nenek Nagara pada Hendra.

Byurrr…! Entah ide dari mana, Joey menyiram wajah keriput itu dengan segelas air.

“Kamu!!!!”

PLAK!

Tamparan keras mengenai pipi Joey.

“Dasar cewek nggak tahu diuntung! Kamu pikir kamu siapa? Dan aku peringatkan! Kalau kamu masih nggak ngizinin Nagara buat menikah lagi, biar aku yang paksa dia. Sampai kapan pun, Nagara akan menikah dengan gadis pilihanku.”

Nenek Nagara keluar dari ruang tamu, meninggalkan apartemen yang sunyi itu. Dan tepat saat pintu tertutup, air mata Joey langsung mengalir. Gadis itu meremas baju yang ia kenakan dan berusaha menahan tangisannya. Joey berjalan pelan dengan air mata yang masih deras. Menuju kamar. Joey akan menangis disana.

Karena sudah tidak tahan lagi, Hendra merogoh sakunya. Mengambil ponsel dengan layar yang memajang gambar wajahnya. Memenuhi full screen. Mencari kontak bernama ’BOS GILA’ disana. Ini dia namanya.

”Na… tadi nenek lu datang dan membuat kekacauan.”

—jaemtigabelas

bagian lima belas; reason.

Di ruangan lain, Nagara duduk di sofa dengan bersandar. Tangan kanannya meremas rambutnya kasar. Seakan ingin mencabut sampai ke akar. Sedangkan tangan kirinya menggenggam gelas yang berisi alkohol yang sedari tadi diminumnya. Menandakan bahwa dunianya sudah hancur sekarang.

BRAAK!

Hendra datang dengan mendobrak pintu sangat keras, nyaris menghancurkannya. Tangannya terkepal. Berjalan cepat ke arah Nagara yang sedang duduk di sofa tidak berdaya. Meraih kerah kemeja biru tua lelaki setengah mabuk itu. Mengangkatnya, hingga Nagara berdiri lalu melempar lelaki itu ke lantai.

“Brengsek!” Teriak Hendra. Mengangkangi Nagara yang setengah sadar. Mencengkeram kerah kemeja Nagara kuat dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya meninju Nagara. Bertubi–tubi.

Oh! Wajah tampan itu akan hancur.

Setiap detik jam dinding di ruangan Nagara menjadi saksi betapa beringas Hendra menghajar Nagara. Hendra yang selalu patuh, Hendra yang biasa kekanakan, Hendra yang selalu setia kawan, Hendra yang selalu ada di pihaknya, dan Hendra yang sangat menyayanginya.

Hendra menghajar Nagara dengan air mata yang mengalir deras.

Nagara merasakannya. Hendra terluka bersamanya. Dengan rasa kecewa yang seakan mencekik. Bersamaan dengan air mata Hendra yang menyatu dengan darah di wajah Nagara.

Dan untuk pertama kalinya, Hendra menangis.

”Apa yang lu lakuin, bangsat?” lirih Hendra. Ikut berbaring di lantai. Di samping Nagara. Napas mereka menderu bersama.

Nagara yang tersenggal dengan darah yang memenuhi bibirnya, tak lupa pipi dan pelipis yang robek.

Good Job, Hendra!

”Gue nggak mau.” Nagara mulai bicara saat nafasnya mulai kembali. “Dia nggak bisa mengandung dengan sehat. Dokter bilang... Rahimnya lemah. Jantungnya bermasalah. Bahaya kalau sampai dia ngelahirin anak.”

Nagara bernapas sebentar. “Tubuhnya belum siap dengan bayi. Itu bahaya buat dia.”

Mereka terdiam, menatap langit-langit ruangan Nagara serius. Seperti menonton film di atas mereka. Pikiran keduanya melayang. Nagara meletakkan lengannya di mata. Menutupi pandangan dan menyembunyikan air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya.

”Gue nggak mau ngambil resiko kehilangan keduanya. Gue putusin buat merelakan bayi gue.”

Mengalir sudah. Silahkan tepuk tangan!

Seorang Abimanyu Surya Nagara yang setiap harinya mengeluarkan kata pedas, menyebalkan, ketus, dan keras kepala itu...

Dia menangis. Untuk janin berusia 3 minggu.

”Gue sayang sama bayi gue hen, Demi Tuhan. Tapi gue nggak bisa kehilangan Joey.”

Hendra bangkit. Mengelap peluh yang mampir di wajahnya. Dia menatap Nagara lama, sebelum akhirnya membersihkan bekas air mata dengan lengan kemeja yang dipakainya. Seperti bocah 6 tahun yang di marahi, lalu menangis.

“Ini pertama kali gue mukul lu, kan?” Hendra melangkahi Nagara.

Mengambil botol alkohol yang masih tersisa setengah. Kemudian meletakkan botol itu di samping kepala Nagara.

“Mati aja lah lu, brengsek.” Hendra pergi meninggalkan Nagara.

—jaemtigabelas

bagian empat belas; janin diperut Joey.

Joey terduduk di atas kasurnya, menyandarkan punggungnya pada bantal berukuran besar yang menumpuk di belakang. Matanya sedari tadi tidak bisa lepas dari perutnya. Tangannya senantiasa mengusap perut ratanya itu.

Joey tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bukankah bagus kalau dia hamil? Ada anak Nagara di dalam perutnya. Namun entah mengapa, Joey sedikit khawatir.

Pintu kamarnya terbuka, menampakkan Nagara yang rela meninggalkan urusan kantornya untuk mengecek keadaan Joey saat ini. Ia tidak sendiri, ada seorang dokter yang berdiri di belakangnya.

”Saya sewa dokter buat periksa keadaan kamu.” Ucap Nagara setelahnya.

Dokter tersebut mulai memeriksa Joey. Mengecek denyut jantung, suhu tubu, dan terakhir mengecek kandungan gadis itu. Dalam layar USG memang terlihat ada janin berusia tiga minggu di perut Joey. Janin yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Di sudut sana, Nagara mengawasi. Melihat seluruh proses pemeriksaan dengan cermat. Sesekali menatap Joey dengan raut cemas. Beberapa kali mata mereka bertemu. Mata Joey bicara pada Nagara. Tentang kekhawatiran.

”Saya sudah selesai bapak Nagara.” Ujar sang dokter.

”Jelaskan hasilnya, di ruangan saya.”

Nagara melangkah pergi dari kamarnya. Di ikuti dengan dokter di belakangnya.

Joey menunduk saat melihat kepergian Nagara. Gadis itu kembali mengusap perutnya. Benarkah di sini ada bayinya? Ini luar biasa. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.


Setelah Dokter yang disewa Nagara pergi, Nagara memasuki kamar Joey lagi. Dia melihat Joey sedang duduk di kasur. Pandangan gadis itu kosong menatap keluar jendela. Tangannya mengelus perutnya pelan. Nagara sadar, Ada bayinya di dalam perut Joey.

Joey menoleh saat Nagara mulai mendekat. Nagara dengan penampilan sedikit kacau. Kemejanya sudah keluar dari lingkar celana. Lengan yang di gulung asal sampai siku. Dan dasi yang longgar di lehernya. Berdiri di depan Joey, tangan Nagara yang hangat memegang bahu gadis itu. Meremas sesaat. Menyalurkan kekuatan.

“Joey...” Panggil Nagara dengan suara parau.

Joey yang tidak mengerti ada apa dengan suaminya itu hanya bisa memasang wajah bingung, ”Hmmm?”

Nagara menunduk, tangan pucat Joey ia genggam. Memeluknya dengan telapak tangannya yang lebih besar dari telapak tangan gadis itu. Kemudian ia menatap wajah istrinya lagi.

”Gugurin aja bayinya ya?” Bisik Nagara yang tertangkap indera pendengaran Joey.

Setelah itu Nagara berjalan menjauh. Meninggalkan Joey dalam kamar. Dalam neraka yang ia buat untuk istrinya.

Setelah semua yang manimpa Joey selama ini. Ini pertama kalinya dalam hidupnya. Ia ingin mati saja.

—jaemtigabelas

bagian tiga belas; malam itu.

BRAAAAKKKKK

Joey tersentak saat suara keras dari pintu kamarnya hampir membuat gendang telinganya pecah. Ia berbalik, mendapati Nagara yang seperti dirasuki iblis. Wajah yang memerah, tatapan yang tajam, dan kepalan tangan yang siap meninju siapa saja yang ada didepannya saat ini.

Nagara berjalan cepat menghampiri Joey yang sedang berdiri kaku. Menarik paksa tangan gadis itu dan ia hempaskan ke kasur.

SRAAAAKKKKK Nagara merubuhkan rak buku yang ada didekatnya. Bukan hanya rak buku, meja kerjanya dan lemari baju semua menjadi korban kemarahan Nagara. Seolah lelaki itu ingin merubah kamar Joey menjadi kapal pecah.

”Mas. Lo ngapain?!” Joey lalu berdiri.

”APA HUBUNGAN LO SAMA JENDRA?!!!!” Bentak Nagara. Membuat Joey takut dan bingung harus menjawab apa.

”JAWAB JOANNE!!!! BERANI-BERANINYA LO MAIN BELAKANG SAMA GUE!!!”

PRAAAANNNGGG Joey langsung menutup kedua telinganya saat Nagara menghancurkan kaca riasnya menjadi hancur berkeping-keping. Dan kini kamar itu sudah tidak berbentuk lagi.

”Berhenti mas... dengerin gue dulu!” Joey sedikit berteriak, lalu mencoba untuk meraih tangan Nagara.

”Jangan sentuh gue. Atau gue bakal pukul lo!!”

“Berhenti, gue mohon!” Isak Joey. gadis itu bahkan tidak sadar kapan ia mulai menangis.

Bukannya berhenti, Nagara justru malah melanjutkan kegiatannya menghancurkan kamar Joey. Membanting barang–barang yang terjangkau olehnya. Dia terlihat seperti setan bertanduk sekarang. Joey sudah tidak tahan. Ini tidak akan selesai kalau Nagara hanya mengamuk tanpa bicara.

GREP! Setelah mengumpulkan keberaniannya, Joey menghampiri Nagara dan memeluk belakang lelaki itu. Dengan tangan yang gemetar, Joey berusaha mempererat pelukannya.

Nagara menegang. Joey memeluknya dengan suka rela. Pelukan pertamanya.

”Berhenti, nana.” Joey masih terisak. ”Gue mohon berhenti.”

Nagara tersentak. Nana? Hati Nagara menghangat beberapa detik sebelum ia mengingat sesuatu.

”Lo juga peluk dia kayak gini Joey?” Tanya

”Peluk siapa?”

”LO PELUK DIA JOANNE!!!!”

”PELUK SIAPAA SIH??!!!”

Bukannya menjawab, Nagara justru berbalik. Menarik tangan Joey dan menangkup pipi gadis itu lalu menciumnya. Mencium bibir ranum itu dengan sedikit kasar dan menuntut. Joey yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah. Ia tahu Nagaranya sedang marah. Mungkin dengan berciuman seperti ini, semua bisa kembali seperti semula.

Selang beberapa detik, Nagara mendorong tubuh Joey untuk tidur di atas kasur, dengan masih mengecap bibir satu sama lain. Nagara masih terus melumat bibir Joey, bergelut dengan lidahnya hingga menimbulkan desahan kecil dari mulut gadis itu.

Nagara merambatkan tangannya di tengkuk Joey dan menekan kepala gadis itu. Membuat mereka berciuman secara intens. Ciuman yang dalam dan panjang.

Lelaki jangkung itu kini berpindah ke leher jenjang Joey. Menciumnya sampai menimbulkan bekas kemerahan disana. Memberikan tanda bahwa wilayah tersebut adalah miliknya.

Tangannya lalu membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Joey. Namun sebelum semua kancing terbuka, Nagara mengangkat kepalanya sejenak untuk menatap wajah berseri Joey yang tidak berdaya dibawahnya.

Gadis itu membalas tatapannya. Menatap Nagara dengan tatapan tak kalah intens dari lelaki itu. Sorot mata yang memabukkan itu seolah meminta izin. Apakah boleh Nagara menyentuh Joey malam ini? Menjadikan gadis itu miliknya?

Seolah peka dengan apa yang dimaksud Nagara, kepala Joey lalu mengangguk pelan. Tanda memberi izin lelaki itu untuk menjamahi tubuhnya malam ini.

Merasa ada lampu hijau, Nagara kembali mencium bibir Joey. Melepaskan jas, dasi, serta kemeja kerjanya secara bersamaan. Menyisakan tubuhnya yang tidak berbalut benang apapun. Joey bisa merasakan kulit Nagara bersentuhan langsung dengan kulitnya, dan keringat mereka yang menyatu.

Desahan demi desahan mulai terdengar memenuhi kamar yang masih seperti kapal pecah itu. Melupakan masalah yang harus mereka luruskan dan menikmati malam yang sangat indah ini.

—jaemtigabelas

bagian dua belas; pertemuan.

”Sebenernya gue ngajak lo ke sini buat ngomong sesuatu.” Jendra menyesak kopinya.

Nagara menyembunyikan tangannya di bawah meja. Menahan tangan kanannya yang sedari tadi gemetar tidak karuan dan berusaha untuk tetap tenang, meski jantungnya seakan ingin meledak.

”Ngomong apa?”

Kini mereka sedang berada di restoran yang terletak didekat kantor. Awalnya memang membahas tentang pekerjaan. Tapi entah, sekarang hawanya tiba-tiba berubah menjadi serius dan mencengkam.

Jendra menegakkan tubuhnya dan menatap Nagara dengan tatapan yang sedikit mengintimidasi. ”Gue tahu lo udah menikah. Dan gue sempat deket sama istri lo. Kita berdua pernah makan siang bareng kemarin.”

Dan yups, tangan Nagara terkepal kuat. Rahangnya mengeras seiring amarahnya yang semakin memuncak.

”Lo apain istri gue bangsat?” Desis Nagara geram.

Jendra mengedikkan bahu. ”Kita hampir ciuman waktu itu, tapi gagal. Dan gue akui...” Jendra mendekatkan wajahnya, ”Pelukan istri lo benar-benar hangat.”

BUUUGGHHHHH....

Satu pukulan keras menghantam wajah Jendra sampai lelaki itu terhuyung ke bawah. Nagara sudah tidak tahan lagi. Matanya sudah mulai memerah karena menahan amarah.

”GUE PERINGATIN LO... JANGAN SENTUH ISTRI GUE!!!” Teriak Nagara murka.

—jaemtigabelas