jaemtigabelas

Bagian tujuh ; Pergi dan Kembali.

Suasana yang menyelimuti sore itu amat sangat mencengkam. Siap untuk membunuh jiwa Nagara saatt itu juga. Nagara langsung terbang dari Singapura menuju Jakarta saat membaca pesan dari Hendra. Bahkan pesan tersebut belum terbalaskan. Nagara hanya membaca beberapa kalimat dan langsung memesan tiket pesawat untuk segera pulang.

Joey akan melahirkan hari ini. Itu inti dari pesan Hendra. Tapi, bukankah usia kehamilannya baru menginjak tujuh bulan?

Persetan dengan usia kehamilan. Yang Nagara pikirkan hanyalah Joey, Joey, dan Joey. Kondisi istrinya adalah alasan utama Nagara pulang, setelah hampir dua minggu ia bersembunyi.

Sial, mengapa koridor Rumah Sakit ini sangat panjang? Nagara tidak sabar untuk segera bertemu dengan istri tercintanya, dan berjuang bersama untuk melahirkan buah hati mereka.

Satu menit berlalu, akhirnya Nagara bertemu Hendra. Lelaki itu sedang berdiri di depan ruangan. Menundukkan kepalanya karena panik dengan kondisi wanita yang ada didalam ruangan tersebut.

“Dimana Joey?” Nagara langsung menanyakan keberadaan Joey pada Hendra.

“Akhirnya lu dateng juga, brengsek. Dia di dalam.” Jawab Hendra yang masih tersulut emosi.

Tidak mempedulikan emosi Hendra. Nagara segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Saat masuk, keadaan semakin mencengkam. Ada Dokter Fransiska dan beberapa perawat disana. Serta Joey. Wanita itu sedang merintih kesakitan. Istri mu sekarat, Nagara.

“Bapak nagara... Akhirnya anda datang juga.” Dokter Fransiska berjalan menghampiri Nagara.

Nagara tidak bergeming. Matanya masih tertuju pada sang istri yang sudah memakai baju rumah sakit, dan tidur terlentang di atas kasur bangsal sambil menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.

“Ada yang mau saya bicarakan, pak.” Imbuh Dokter Fransiska, membuat obsidian Nagara kini teralihkan pada wanita berpakaian medis itu.

“Sorry... Mau bicara apa dok?” Nagara mencoba untuk fokus, meskipun pikirannya sedang kacau saat ini.

“Benar seperti apa yang saya bilang kemarin. Jantung ibu Joey, mulai lemah kembali. Saya sarankan untuk melakukan operasi caesar, pak. Demi keselamatan ibu Joey, dan juga bayinya. Tapi...” Dokter Fransiska menggantungkan kalimatnya. Tersirat raut wajah ragu disana. Membuat hati Nagara semakin tidak tenang.

“Tapi apa dok?”

“Ibu Joey... tetap ingin melahirkan secara normal, pak.”

Nagara seketika menatap Joey dengan tatapan tidak menyangka. Istrinya itu masih saja keras kepala. Ini menyangkut keselamatan Joey dan juga bayinya. Nagara tidak bisa diam saja. Lelaki jangkung itu kemudian berjalan menghampiri Joey. Berdiri di samping istrinya yang susah payah mengatur deru napasnya.

“Joey...” Panggil Nagara dengan lembut. Namun tidak digubris oleh sang pemilik nama. Tangannya lalu mengusap peluh yang mengalir di sekujur wajah cantik itu. “Ini bahaya sayang. Operasi caesar saja, ya?”

Joey menggelang pelan. Ia masih tetap pada pendiriannya untuk melahirkan secara normal. Bukan apa-apa. Hanya saja, Joey merasa ia sanggup untuk melahirkan buah hatinya secara normal.

“Joey... dengerin saya....”

“Nggak mau!” Kini, wajah pucat itu menatap Nagara dengan sorot mata yang begitu tajam. “Aku bisa, mas!”

Tatapan mereka bertemu. Posisi wajah mereka sangat dekat. Nagara sampai bisa merasakan deru napas istrinya yang sedang memburu. Sakit. Itu yang dirasakan Nagara saat ini. Melihat Joey yang merintih kesakitan, Nagara seperti ingin mati saja sekarang.

“Aku yang mengandung, aku yang merasakan sakit, aku mual, aku pusing. Dan sekarang, aku yang melahirkan dia. Jadi aku berhak buat ambil keputusan!” Ujar Joey penuh dengan penekanan. Berharap suaminya itu menuruti apa yang ia mau.

Nagara tidak bisa barkata-kata lagi. Hati Joey seketika menjadi sekeras batu yang tidak bisa ditembus oleh setetes air pun. Mau tidak mau, Nagara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

'Tidak apa-apa Nagara, Pasti ada pelangi setalah hujan, bukan?'

Nagara lalu menoleh ke arah Dokter Fransiska. Kepalanya mengangguk pelan. Menyuruh dokter cantik itu untuk melanjutkan persalinan istrinya.

Dan disinilah Nagara sekarang, menjadi orang yang paling panik sedunia. Menggenggam tangan sang istri yang sudah basah karena keringat. Hatinya bergetar mendengar teriakan kesakitan itu. Kedua kakinya seketika lemas saat itu juga.

Sudah ribuan kali Nagara memanjatkan do'a. Berharap Tuhan benar-benar mendengarkan do'anya kali ini. Dahi jenjang itu ia kecup dengan sayang. Nagara ketakutan setengah mati. Takut jika kekhawatirannya selama ini menjadi kenyataan. Ia hanya ingin anak dan istrinya selamat. Tidak lebih dari itu.

Sampai semuanya berlalu, pikiran Nagara masih kosong. Ia bahkan tidak dapat menangkap ucapan selamat dari dokter Fransiska dan para perawat disana. Teriakan istrinya yang tidak lagi terdengar. Membuat napas Nagara yang awalnya menggebu, berangsur normal seperti semula.

“Selamat. Anaknya perempuan.”

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari keduanya, baik Joey maupun Nagara. Suara tangisan pertama yang keluar dari mulut bayi mereka, membuat mata Nagara mulai berlinang air mata.

Nagara lalu mengambil bayinya yang sudah terbalut kain putih itu dari gendongan perawat. Memeluk bayi mungil tersebut dengan penuh cinta dan sayang. Tangisan yang nyaring tidak membuat Nagara risih, melainkan membuat Nagara merasa amat sangat bahagia. Kini, ia sudah menjadi seorang ayah.

“Dok... pasien kritis.”

Sampai suara suster yang ada di ujung sana, membuyarkan lamunan Nagara. Nyawanya seolah baru saja dicabut oleh malaikat. Saat Nagara mengalihkan atensinya pada sang istri. Sosok itu memejamkan matanya.

“Ada apa?” Dokter Fransiska kembali menghampiri Joey yang sudah tidak berdaya di atas kasur bangsal.

“Jantung pasien tidak terdeteksi dok.”

Deg... Tubuh Nagara seketika lemas. Pandangannya langsung kosong. Tidak... istrinya tidak boleh pergi.

“Bapak Nagara... kami akan mengurus pasien terlebih dahulu. Bapak bisa menunggu di luar.” Ujar sang perawat kemudian mengambil bayi perempuan itu dari gendongan Nagara.

Nagara masih blank. Apa yang baru saja terjadi? Ia tidak ingin keluar dari ruangan ini. Nagara hanya ingin menemani Joey. Istrinya sedang melawan maut sekarang.

“Siapkan alat kejut jantung.” Suara dokter Fransiska membuat Nagara semakin panik.

Lelaki pemilik nama asli Abimanyu Surya Nagara itu memejamkan matanya. Kedua tangannya mulai menjambak rambutnya. Super panik dan dan super takut. Itu yang mewakilkan perasaanya saat ini.

Dokter Fransiska mulai menempel alat kejut jantung itu tepat di dada Joey.

Percobaan pertama... tidak berhasil.

Percobaan kedua... tetap tidak berhasil.

Dan percobaan ketiga...

Harapan Nagara langsung pupus, saat melihat mesin EKG tersebut masih memperlihat garis lurus. Tidak ada perubahan. Ya Tuhan, selamatkan istrinya.

“Pak. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan istri anda.” Dokter Fransiska menghampiri Nagara dengan raut wajah menyesalnya.

Satu kalimat yang berhasil meruntuhkan Nagara saat itu. Kalimat yang terngiang dan begitu berdengung di telinganya. Kalimat yang menghancurkannya luar dan dalam.

Nagara masih berharap ini hanyalah mimpi. Joey tidak pergi. Joeynya tidak boleh pergi. Tangisan Nagara langsung pecah. Perlahan, langkahannya mendekati tubuh kaku istrinya. Selang pernapasan tidak lagi tertancap di hidungnya. Wajah yang selalu terlihat cantik itu berubah menjadi pucat. Dan bibir manis itu tidak lagi berwarna merah, melainkan berwarna abu-abu gelap.


“Mas... kamu mau bayinya perempuan atau laki-laki?”

“Apa saja. Yang penting kamu selamat, Joey.”

“Mas... aku pasti selamat. Tuhan pasti punya rencana yang baik buat kita, mas.”

“Joey... kalau misal Tuhan benar-benar mengambil kalian dari saya. Tenang saja, saya pasti akan mencari seribu cara untuk menyusul kalian.”


“J... Joey....” Nagara berusaha memanggil nama istri tercintanya, sambil terisak.

Tangan kekarnya memeluk punggung tangan Joey. Menggenggamnya erat, menciumnya, dan menempelkan tangan dingin itu ke tengkuknya. Membiarkan buliran air matanya mengenai kulit mulus Joey. Dunia Nagara semakin hancur. Setelah kehilangan seorang sahabat, kini Nagara juga harus merasakan kehilangan orang yang paling ia cintai.

“Jangan pergi... Jangan pergi sayang... Maafin aku.” Kalimat menyakitkan itu terdengar lirih.

Ini karma untuknya. Karma karena sudah meninggalkan Joey yang sedang berjuang mempertahankan buah hati mereka sendirian. Nagara, ini karma yang pantas untukmu.

“Maaf... sudah jadi suami yang nggak berguna buat kamu.”

Setelah kalimat maaf terucap dari mulutnya. Nagara merasa ada pergerakan sedikit di jari telunjuk Joey. Lelaki itu terkejut bukan main. Ini bukanlah halusinasinya saja. Nagara benar-benar merasa kalau telunjuk Joey sedikit bergerak.

“Dok... jantung pasien kembali berdetak.” Ujar salah satu perawat, membuat Nagara menangis bahagia.

Bagian enam ; Memaklumi

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan seorang sahabat yang sudah menemani mu selama dua tahun lebih lamanya. Dunia Nagara seakan hancur berkeping-keping. Seolah dirinya baru saja kehilangan separuh jiwanya. Senyuman Jendra yang khas, suara tawanya, tingkah lakunya yang membuat Nagara tertawa. Kini, Nagara tidak bisa melihat itu semua pada diri sahabatnya. Hanya wajah pucat, mata yang terpejam, serta tubuh yang terbujur kaku di dalam peti. Ya, Nagara melihat itu semua dengan mata telanjangnya. Hatinya semakin perih dan perih. Tidak bisa didefinisikan lagi.

Dikala Nagara sibuk dengan kesedihannya tersebut, sebuah tangan mungil tiba-tiba menggenggam tangannya. Diusapnya punggung tangan itu lembut. Sangat lembut. Nagara lalu mengangkat kepalanya. Joey, kini sedang berusaha untuk menguatkan suaminya yang tengah rapuh. Mencoba untuk tersenyum penuh arti. Senyuman yang berarti menguatkan. Bermaksud menyuruh Nagara untuk tersenyum juga, walaupun keadaan tidak mendukung saat ini.

“Mas... nggak papa ya. Jendra pasti sudah bahagia kok disana.” Suara lembut Joey terdengar jelas di telinga Nagara. Joey berusaha menenangkan suaminya. Walapun ia tahu, kalau kalimatnya tidak bisa membuat Jendra kembali hidup, dan membuat Nagara kembali bahagia seperti sedia kala.

Nagara tidak bergeming. Pandangannya kosong. Namun senyumannya tetap merekah sempurna. Sudah cukup meyakinkan Joey, bahwa suaminya itu masih terlihat kuat.

Joey kemudian menatap sekeliling. Kepalanya mulai pusing saat melihat banyak orang yang mulai berdatangan ke kediaman Jendra. Joey tidak tahu persis siapa mereka. Namun, melihat semakin banyak orang yang berdatangan, membuat dadanya mulai terasa sesak.

“Mas... kepala ku pusing. Aku keluar dulu ya.” Bisik Joey sambil mengernyitkan dahinya.

“Kamu pusing? Saya antar kamu pulang.” Ujar Nagara sambil menangkup pipi sang istri. Raut wajahnya terlihat sangat panik dengan kondisi Joey yang tengah hamil besar saat ini.

Joey menggeleng. “Nggak usah mas. Kamu disini aja. Kasihan, wali Jendra cuma kamu, mas. Aku cuma butuh udara segar kok. Nanti kalau sudah baikan, aku ke sini lagi.”

Wanita bersurai kecoklatan itu lalu berdiri dengan hati-hati. Efek kehamilannya yang sudah menginjak umur 7 bulan. Membuat Joey sangat kesulitan hanya untuk beranjak dari duduknya. Bahkan waktu berdiri pun, beban tubuhnya seakan bertambah menjadi dua kali lipat dari biasanya.

Dan detik selanjutnya, Joey pergi dari pandangan Nagara untuk mencari udara segar di halaman belakang rumah Jendra.


Sudah lebih dari tiga puluh menit Nagara menanti. Menunggu Joey yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Nagara mengambil ponsel dari saku jas nya, mencoba untuk menghubungi sang istri.

Tidak ada jawaban. Hanya suara operator yang terdengar disana.

Nagara mulai panik. Rasa takutnya mulai melanda. Bagaimana jika Joey tiba-tiba pingsan di tengah jalan? Bagaimana jika perutnya tiba-tiba berkontraksi tanpa sepengetahuan Nagara? Ya Tuhan, jangan sampai pikiran negatifnya itu menjadi kenyataan.

Namun, saat lelaki ber jas rapih itu memasuki halaman belakang rumah Jendra. Hatinya tiba-tiba mencelos. Ada sedikit rasa lega, saat melihat Joey sedang terduduk manis disamping Hendra. Bercanda gurau layaknya pasangan yang paling bahagia di alam Semesta ini.

Nagara sangat membenci situasi seperti ini. Tangannya terkepal kemudian. Ia marah, Ia murka. Akan tetapi, Nagara tidak bisa berbuat apa-apa. Jika lelaki yang sedang duduk disamping Joey adalah lelaki yang tidak ia kenal. Tanpa menunggu lama, Nagara pasti langsung menonjok wajah tidak bersalah itu. Tidak peduli dengan situasi disana yang sedang berduka. Jika mengenai istri tercintanya, Nagara tidak bisa diam saja.

Akan tetapi, jika lelaki itu Hendra... Nagara hanya diam. Melihat dari jauh kebahagiaan mereka yang begitu menyakiti perasaannya saat ini. Entah mengapa, jika itu Hendra... Nagara memaklumi. sekali pun lelaki itu tahu, bahwa Hendra memiliki perasaan lebih kepada istrinya.

—jaemtigabelas

bagian empat; Mencintai seseorang

Di balkon. Nampak Hendra yang sedang meminum teh hangatnya. Memandangi cahaya rembulan di malam yang indah itu. Joey berjalan menghampirinya.

“Woyyy...” Joey menyenggol lengan Hendra. membuat lelaki itu menoleh padanya.

“Apaan? Ganggu aja nih putri duyung.”

Sorot mata Joey berubah sinis. Padahal ia hanya ingin menyapa Hendra dengan sok akrab. Tapi lelaki itu malah membalas dengan kalimat ketusnya.

“Kemana sih tadi? Chat gue nggak dibales.” Tanya Joey penasaran.

“Abis keluar, ketemu sama orang.”

“Siapa? Cewek?”

Hendra mengangguk. “Mantan gebetan gue.”

Mata Joey membulat sempurna. Hendra? dengan gadis?

“Wehhh siapa? Kenalin dong?” Gadis mungil itu kembali menyenggol lengan Hendra. Ia sangat penasar tentang gadis yang pernah singgah di hati lelaki bernama Hendra ini.

“Kepo lu neng. Rahasia negara ini mah.”

“Dihhh... Rahasia negara. Presiden bukan, sok-sok an banget sih jadi orang.” Joey mulai kesal. Kesal karena Hendra membuatnya mati penasaran. “Cantik?”

“Iya lah. Lebih cantik dari istri cerewet punya Bapak Nagara.”

Gadis yang surainya diterpa angin itu memutar bola matanya. Benar-benar, berbicara dengan Hendra harus diiringi dengan kesabaran hati yang sangat tinggi.

“Lo masih tertarik sama dia?”

“Dikit.”

“Lo nggak coba menjalin hubungan gitu sama dia?”

“Nggak tahu.”

“Kenapa?”

“Dia tadi ngajak ketemu, buat bahas pernikahan dia sama cowok lain neng.” Jawab Hendra dengan raut wajah yang datar.

Joey langsung diam seketika. Merasa bersalah karena mungkin saat ini Hendra sedang berusaha untuk menutup lukanya. Namun yang Joey lakukan justru membuka luka lelaki tidak bersalah itu.

“Maaf, gue nggak tahu.” Joey menyesal.

Hendra terkekeh pelan. Seolah mengerti kebiasaan Joey yang asal berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. “Iya gue maafin. Lamborgini dulu tapi.”

BUGHHH... Joey memukul pelan lengan Hendra, “Sialan lo.”

Nagara tiba-tiba berdiri dibelakang mereka. Oh, sejak kapan suaminya itu pulang? Nagara lalu memeluk Joey dari belakang. Joey merasa deja vu. Kenapa harus di balkon ini lagi? Rahasia apalagi yang akan ia tahu kali ini?

“Gue mau ngomong sesuatu sama lu.” Hendra melirik Nagara.

“Ngomong apa?” Nagara menjawab sambil mengecup puncak kepala Joey.

“Gue harap lu nggak bakal patah hati ye pak... Gue lagi suka sama cewek.”

Nah kan.

Nagara dan juga Joey tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka berdua sama-sama menatap Hendra dengan tatapan yang tidak menyangka. Jadi, Hendra berhasil menyukai seorang gadis?

“Akhirnya. Suka sama siapa lo?” Tanya Nagara penasaran.

Hendra mengangkat bahunya sambil tersenyum lebar. Tangannya terangkat hanya untuk mengacak-acak rambut Joey, membuat gadis itu kembali mendengus kesal. Hendra gemas sekali pada wajah Joey dengan mata yang membulat karena terkejut.

‘Istri lu.’ Ucap Hendra, dalam hati.

—jaemtigabelas

bagian tiga; menuruti kemauan sang istri.

Setelah membaca pesan dari Dokter fransiska, Nagara berjalan menuju kamarnya dengan jantung yang berpacu sangat cepat. Hanya Joey yang bisa membuatnya seperti ini. Mengapa gadis itu harus meminta yang aneh-aneh? Mengapa bukan meminta mangga yang dipetik dari pohon tetangga? Nagara bisa menyuruh Hendra nanti.

Nagara membuka pintunya. Menampakkan Joey yang tengah tertidur dengan posisi memunggunginya saati ini. Mata gadis itu nampak terpejam. Namun, Nagara yakin kalau istrinya yang banyak mau itu hanya berpura-pura tidur.

Dengan perlahan, Nagara duduk di tepi kasur. Memandangi sejenak wajah basah itu. Joeynya menangis. Apakah ini efek dari kehamilannya juga?

“Saya tahu kamu belum tidur, Joanne.”

Mendengar suara berat itu, Joey akhirnya membuka mata. Menatap malas ke arah Nagara lalu terduduk dihadapan lelaki itu.

“Ngapain ke sini?” Ketus Joey. Bukan hanya nada bicaranya. Melainkan sorot matanya juga yang ingin membunuh Nagara saat ini.

Tangan Nagara mulai mengusap pelan pipi Joey. Lembut dan halus. Ia tahu, cara menghadapi istri yang sedang hamil muda begini, harus dengan lembut. Jangan sampai ada bentakan sedikitpun. Apalagi jika kamu harus berhadapan dengan gadis bernama lengkap Joanne Josephine.

“Kamu tahu kan, ini bahaya banget buat kamu sama bayinya. Kamu yakin masih mau melakukannya?”

Walaupun masih ragu, Joey menganggukkan kepalanya. Dasar.

Nagara memejamkan matanya sejenak. Berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Sehingga ia sudah terbangun tanpa harus melakukan hal yang akan membahayakan nyawa kedua orang yang sangat dicintainya.

“Ya sudah. Lakuin pelan-pelan ya. Berhenti kalau kamu udah ngerasa capek. Paham?”

Joey mengangguk antusias. Matanya berbinar seperti anak kecil yang dikasih es krim oleh orang tuanya. Gadis itu langsung mencium bibir Nagara sekilas. Dengan senyum yang mengembang nakal, Joey berlutut didepan Nagara. Tangannya yang lentik dengan terampil membuka kancing celana hitam itu. Dan sampai sejauh ini, Nagara masih bertanya dalam hati. Apa yang terjadi pada Joeynya?


Benar seperti dugaan Nagara. Ia tidak merasa cukup dengan mulut Joey. Percuma untuk menahan, karena kali ini Joey juga merengek ingin lebih. Pertahanan Nagara runtuh, ia menyerah. Nagara hanya bisa menuruti nafsunya dan istri nakalnya malam ini.

Nagara membaringkan Joey di tempat tidur. Lelaki itu melihat lagi pemandangan favoritnya. Terasa lama sekali tidak menikmati ini. Dia sudah membuat istrinya bulat. Dan tugas terakhirnya adalah mempersiapkan dirinya sendiri.

“Kalau saya kelepasan, teriak. Ada Hendra di luar.” Bisik Nagara. Dan Joey mengangguk.

Ya Tuhan, tolong lindungilah mereka bertiga.

bagian dua; mempertahankan.

Mobil HRV merah itu telah berhenti di parkiran apartemen. Lima hari telah berlalu, akhirnya Nagara bisa bertemu dengan gadis yang sangat ia rindukan. Joey. Gadis itu kini sedang duduk manis di kursi samping Nagara. Tersenyum penuh rindu yang hanya ditujukan pada sang suami tercintanya.

Sedangkan Hendra... Nagara melirik dari kaca mobil. Memperlihatkan lelaki OB itu tengah tertidur pulas. Mendengkur sangat keras dengan mulut yang sudah menganga lebar. Sungguh pulas sekali tidurnya.

TIIIINNNNN

”TELOR MATA ANJING!!!!” Hendra terjengat langsung saat Nagara dengan sengaja menekan bel mobil dengan sangat keras.

”Bangun. Udah sampai.” Ujar Nagara dengan santainya.

”Lu bangunin orang apa mau bangunin Fir’aun hah?” Cibir Hendra yang sangat kesal dengan perilaku atasan sekaligus sahabat—sekaligus gebetan—nya itu.

Joey yang melihat itu hanya tergelak tanpa suara.

Sepeninggalan Hendra pergi—walaupun dengan perasaan kesal dan ingin membakar mobil merah itu—, Nagara beralih memandangi Joey. Tangannya terangkat untuk membelai surai kecokelatan itu. Lembut dan wangi. Memberi aksen sangat cantik dimata Nagara saat ini.

Nagara kendekatkan wajahnya. Memberikan sebuah ciuman yang sudah lama tidak mereka rasakan setelah lima hari tidak bertemu. Tangannya sedikit menekan tengkuk Joey, membawa gadis itu untuk larut dalam ciuman yang diciptakan oleh Nagara.

10 menit berlalu. Nagara melepaskan tautan bibirnya dari bibir manis Joey. Tangan itu kini mengusap lipstik Joey yang sedikit berantakan akibat ulah Nagara tadi.

”Maaf... terlalu merindukanmu.” Bisik Nagara didepan Joey. Lelaki jangkung itu lalu kembali ke tempat asalnya.

Merindukan Joey? Tumben sekali.

Tangan mereka bertaut. Nagara menggenggam tangan mungil itu dengan sangat erat, sambil sesekali mengusapnya lembut. Sebenarnya mereka bisa langsung turun dari mobil itu dan masuk ke apartemen untuk beristirahat. Namun, baik Nagara maupun Joey, mereka berdua enggan beranjak dari sana. Mereka perlu berbicara dengan empat mata seperti ini. Mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah turun dari mobil nanti. Mungkin... akan bertengkar lagi?

”Gimana bali?” Tanya Nagara memecahkan keheningan.

”Nggak ada yang spesial. Tidur nggak bisa, kepala pusing, mual terus-terusan. Tersiksa banget.” Joey memejamkan matanya. Kepalanya ia senderkan pada kepala kursi. Bahkan pusing dan mual yang ada pada dirinya masih terasa sampai sekarang.

”Resiko ibu hamil.” Jawab Nagara. Tangannya berpindah mengelus pipi mulus itu. Berniat untuk membuat Joey lebih relax.

”Besok kita ke Dokter Fransiska.” Lanjut Nagara, membuat Joey menoleh ke arahnya.

”Ngapain?”

”Periksa kandungan. Kamu bilang, kita harus berjuang bareng-bareng. Saya dan kamu punya tujuan yang sama kan? Berjuang untuk mempertahankan anak kita.” Suara lembut dari Nagara membuat hati Joey menjadi hangat.

Gadis itu lalu tersenyum. Ada perasaan lega disaat ia menyadari bahwa Nagara sudah mulai berbuah sedikit demi sedikit. Lelaki itu berusaha lebih terbuka tentang perasaannya pada Joey. Sehingga tidak ada kesalah pahaman lagi diantara mereka. Belajar seperti kejadian yang lalu. Mereka harus kehilangan sang buah hati yang sudah diharapkan karena keegoisan mereka masing-masing.

Dan kali ini. Joey dan Nagara sudah memutuskan untuk mempertahankan bayi mereka, bagaimanapun caranya.

—jaemtigabelas

bagian satu; kangen.

Kurang lebih dua puluh menit, Nagara masih setia pada posisi yang sama. Sejak tadi ia hanya berdiri, memandangi punggung istrinya yang sedang sibuk memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Nagara tidak mengucapkan sepatah katapun, namun sorot matanya seakan berbicara.

”Emang harus banget sama Hendra ke sananya?” Akhirnya Nagara bersuara.

Joey memutar bola matanya sejenak. Kemudian berbalik menghadap Nagara yang tengah menatapnya tajam. ”Kan mas sendiri yang suruh gue ke bali sama Hendra. Gimana sih?”

”Ya kenapa harus dia yang bisa nemenin kamu ke bali?”

”Ya coba aja lo suruh Rendy buat batalin acaranya.”

”Hendra aja saya masih ragu apalagi Rendy.”

Joey menghela napasnya. Memang ambigu, pikirnya. Mengepak bajunya ke dalam koper dan pergi ke Bali bersama lelaki lain. Seolah terlihat seperti momen bulan madu. Pantas saja Nagara menjadi aneh malam ini.

”Apa saya batalin aja acara makan malamnya?”

Gadis berpiyama biru laut itu pun menutup kopernya. Mendongakkan kepalanya sejenak sebelum berjalan menghampiri suaminya yang tengah diladang api cemburu itu.

”Mas.” Joey menggenggam tangan kekar itu. ”Cemburu boleh, tapi ini kan masalah pekerjaan mas. Emang mas mau proyeknya batal gara-gara nggak segera ditanda tanganin? Lagian makan malamnya kan dari klien penting, masa mas batalin gitu aja sih. Udah janji juga kan?”

Mendengar kalimat panjang lebar dari istrinya, sorot mata Nagara yang awalnya tajam berubah menjadi sayu. Nagara kemudian merutuki dirinya sendiri, mengapa semakin hari ia semakin bersikap kekanakan setiap didepan Joey? Sedangkan Joey, gadis itu semakin hari malah semakin bersikap dewasa dan selalu mencari jalan keluar dengan kepala dingin.

”Lagian Hendra kan sukanya sama lo mas, bukan sama gue.” Imbuh Joey dengan bibir yang hampir cemberut.

Nagara tersenyum. Kejadian di balkon apartemennya kembali berputar diotaknya. Kejadian dimana Joey tahu rahasia besar Hendra yang tidak semua orang tahu. Hanya Nagara, Joey, dan Hendra yang mengetahui kalau lelaki hitam manis itu mencintai Nagara.

Nagara mengangkat tangannya, memindahkan helaian rambut yang menghalangi wajah istrinya ke belakang telinga gadis itu. ”Gimanapun, Hendra juga cowok Joey.”

Joey membulatkan matanya. ”Emang dia pernah suka sama cewek?”

Sang suami mengangguk pelan. ”Dulu, waktu kuliah.”

”Siapa ceweknya?” Tanya Joey dengan nada penasaran.

Tangan yang awalnya berada diatas kepala Joey, kini berpindah ke pipi gadis mungil itu. ”Tanya aja sama dia sendiri.”

Joey mendengus kesal. Nagara, selalu saja membuatnya mati penasaran.

Tatapan mereka kemudian bertemu. Saling menyelami ke dalam obsidian tersebut dan mencari arti penting disana. Sentuhan pada pipi Joey membuat gadis itu memejamkan mata. Menikmati setiap sentuhan Nagara yang bisa membuatnya mabuk kepayang.

”Tadi siang udah ke dokter Fransiska?”

Suara berat Nagara membuat mata yang terpejam itu kembali terbuka. ”Ud... udah.”

Nagara menaikkan alisnya. ”Udah apa belum?”

”Udah mas.” Joey menurunkan tangan Nagara dari pipinya.

Namun Nagara tetap tidak tenang. Seperti ada yang disembunyikan darinya.

”Beneran udah?”

Joey mengangguk yakin. Entah apakah itu artinya sang gadis telah berkata jujur atau malah berbohong. Nagara mencoba untuk percaya.

”Mas. Mau sampai kapan kayak gini terus?”

”Sampai dokter bilang kalau kandungan kamu benar-benar siap Joey.”

”Tapi gue capek mas harus disuntik sana sini. Kita beralih ke obat aja ya.”

”Nggak, jangan pake obat. Itu bahaya.” Tegas Nagara.

Joey mengalihkan pandangannya. Ini sebenarnya hanya masalah alat kontrasepsi. Joey setiap minggunya harus berbolak-balik ke rumah sakit untuk disuntik agar mencegah dirinya hamil. Semua atas kehendak Nagara, suaminya. Iya Joey tahu ini demi kebaikan dirinya. Namun makin lama Joey merasa kesakitan jika harus disuntik terus menerus.

Melihat tanda kecemasan pada sorot mata Joey, Nagara lalu memeluk istrinya erat. Menenangkan Joey dan meyakini gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja.

”Bertahan dikit lagi. Demi kita, saya dan kamu. Ya?”

Joey akhirnya mengangguk pelan di dalam pelukan Nagara. Lelaki itu cukup keras kepala, jadi mau tidak mau Joey harus bisa menghadapi sikap keras kepala dari suami tampannya itu.

”Mas.”

”Hmmm?”

”Kangen.”

Nagara terkekeh pelan. Ia tahu setiap Joey mengatakan kangen padanya, pasti ada arti terselubung disana.

”Mau saya tidurin lagi malem ini?”

Joey mengangguk gemas.

”Kan udah disuntik, jadi nggak bakal hamil kok, tenang aja.”

Nagara sebenarnya ingin menolak. Namun melihat istrinya memohon begini, lelaki jangkung itu seakan tidak tega. Jujur, Nagara juga sangat merindukan mencumbu dan menghirup aroma cherry dari tubuh Joey.

Dan ya, detik selanjutnya Nagara mencium bibir ranum itu. Mencumbunya dengan rasa rindu yang memenuhi hatinya. Melumatnya dalam, kemudian beralih ke leher jenjang Joey. Memberi tanda pada daerah kekuasaannya itu.

Suara lenguhan, desahan, dan kecupan seketika memenuhi ruangan. Membuat Nagara ingin segera memasuki Joey malam ini. Tangannya membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan sang istri tercintanya. Menangkup buah dada Joey yang sangat pas ditangannya.

Nagara tidak tahan lagi. Ia segera menggendong tubuh mungil Joey dan membawanya ke atas kasur. Ditemani oleh cahaya rembulan, mereka membuat malam ini menjadi malam yang tidak akan terlupakan.

—jaemtigabelas

bagian dua puluh empat; mencintai Nagara.

Selagi menunggu Nagara pulang dari kantor, kini Joeu sedang berada di balkon apartemennya. Memandang matahari yang perlahan melenyap ditelan bumi, menikmati suasana senja yang mampu membuat hatinya lebih relax dari biasanya.

“Woy!!!” Hendra datang mengejutkan Joey. Membuat gadis itu sedikit terjengat.

”Ihhhh... kebiasaan banget ngagetin.” Joey memukul lengan Hendra.

Kini mereka berdua berdiri berdampingan. Hendra tidak juga melepaskan senyum bahagianya. Baru kali ini Joey bisa melihat senyuman seadem itu di bibir manis Hendra.

”Gue seneng banget lo pulang. Nagara juga udah jadi manusia lagi sekarang.”

Joey memandang lurus ke depan. “Dan gue berterima kasih sama lo. Buat semuanya. Lo bener-bener setia kawan.” Joey tertawa.

“Gue jadi penasaran, alasan lo betah bareng Nagara terus tuh apa sebenernya?” Imbuhnya.

Hendra sedikit tersenyum. “Teman, setia dan cinta.”

“Yaa, dia juga pernah bilang sih, dia sayang sama lo. Lo lebih dari sekedar karyawan atau sahabat. Lo adalah keluarga.” Joey menatap Hendra.

Lelaki manis itu sedang tersenyum penuh arti. Hendra menatap Joey dan terdiam cukup lama.

“Gue cinta sama dia.”

Diam sejenak. Joey tidak merespon apa-apa. Sangat bingung untuk meresapi kalimat Hendra barusan. Cinta? Cinta apa?

“Lo…” Joey tidak bisa berkata-kata lagi. Semua kalimat menyangkut ditenggorokannya.

“Maaf...”

Joey kemudian melolot ke arah Hendra. Bukan, ini bukan marah. Gadis mungil itu hanya terkejut bukan main. Sangat! Rasanya seperti ada gunung meletus di hadapan Joey saat ini.

“Nagara tahu?” Joey beralih menghadap Hendra.

“Yaa.” Hendra hanya menatap langit berwarna jingga itu.

“Dan dia..” Joey benar-benar bingung. Jadi selama ini Hendra menaruh perasaan pada Nagara, suaminya?

Astaga.

“Dia cuma tahu. Cuma sekedar tahu. Kita nggak ngelakuin apapun. Lo bisa percaya itu. Dia cuma biarin gue bahagia.”

“Bahagia?” Lirih Joey.

“Gue bahagia tiap kali melihatnya. Dan bagi dia nggak masalah. Kayak sekarang. Menjadi karyawan, sahabat dan keluarga.”

“Lo nggak cemburu kan sama gue?” Joey tahu itu adalah pertanyaan yang konyol. Tapi, dia amat sangat penasaran.

”Cemburu sama lo?” Hendra tertawa geli. ”Nggak tahu kenapa kalo lihat dia sama lo gue nggak cemburu. Malah ikut seneng lihatnya.”

Joey menutup mulutnya rapat. Bingung dengan keadaan ini. Demi Tuhan, tidak ada rasa marah atau kecewa. Joey hanya terkejut. Tidak menyangka dan… ini luar biasa membuat jantungnya berdebar.

Joey dan Hendra hanya diam beberapa saat. Sampai Nagara berjalan ke arah mereka. Dia berjalan sambil mambuka jasnya. Hendra tersenyum ke arahnya. Senyuman penuh arti. Dan itu menggetarkan jantung Joey saat ini. Awalnya bagi Joey itu adalah senyuman biasa. Tapi setelah tahu fakta bahwa Hendra menyukai Nagara, membuat Joey merinding seketika.

Ya Tuhan apa mereka selalu seperti itu? Dan apa Joey benar-benar tidak pernah menyadari ini? Hendra yang tidak pernah berhubungan dengan wanita. Hendra yang selalu menempel pada Nagara. Hendra yang… Oh! Astaga.

Nagara menyampirkan jasnya pada pagar balkon di samping Joey. Lalu tangannya yang hangat melingkar sempurna di pinggang Joey. Memeluk daksa istrinya dari belakang. Memeluknya dengan erat. Tapi entah kenapa Joey menjadi tidak tenang sama sekali dengan kehangatan pelukan Nagara kali ini.

Nagara menopangkan dagunya di bahu kanan Joey. Lelaki itu masih sibuk melihat kedepan sesekali mencium lembut pipi istrinya. Joey kemudian menatap Hendra. Dia terlihat tenang.

Nagara lalu membisikkan sebuah kata ditelinga Joey.

“Dia nggak bakal ngambil saya dari kamu. Dia mungkin mencintai saya. Tapi dia sayang juga sama kamu. Biarin aja dia sama kita ya?”

Tuhan, bisakah dunia kiamat sekarang saja?

Joey masih menatap Hendra. Dia memandang lurus ke depan. Tatapannya ragu-ragu dan… Takut? Joey berpikir. Ya, gadis itu sudah berpikir. Joey mengingat semua yang Hendra lakukan untuk Nagara, untuknya, untuk mereka berdua. Semuanya. Joey menghirup napas dalam. Ini tidak salah.

Joey mengangguk pelan. Nagara mempererat pelukannya pada perut ramping Joey.

”Aku mencintaimu.” Bisik Nagara lagi. Membuat hati Joey jadi luar biasa hangat.

Joey lalu menggenggam tangannya pada Hendra. Dia membalas. Dan saat itu, Joey mendengar hantinya bersuara. ’Tidak akan terjadi apa-apa, Joey. Nagara akan tetap menjadi milikmu’

Benar.

Mereka akan selalu seperti ini. Hidup bersama dengan rahasia besar yang tersimpan rapi diantara mereka bertiga. Hanya Joey, Nagara dan Hendra yang tahu tentang semua ini. Mereka akan selalu saling melindungi. Hendra akan selalu bersama mereka, sebagai karyawan, sahabat dan keluarga.. Sekarang Joey tahu, alasan kenapa Nagara tidak pernah benar-benar cemburu pada Hendra.

Dan disinilah mereka, di balkon apartemen Nagara. Menatap mentari jingga yang akan tenggelam. Dengan Nagara yang memeluk Joey dari belakang dan sesekali mencium rambut gadis itu. Dengan Joey dan Hendra yang berpegangan tangan. Saling menggengam erat.

Joey dan Hendra mungkin mencintai Nagara. Tak bisa Joey pungkiri lagi, dia dan Nagara juga sangat menyayangi Hendra. Tapi satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah, Nagara mencintainya. Akan selamanya mencintai Joey sampai akhir cerita mereka.

FIN

—jaemtigabelas

bagian dua puluh tiga; merelakan.

“Apa-apaan kamu Nagara?” Nenek Nagara mendesis tajam saat Nagara dan Joey mengahadap keluarganya yang sedang sarapan. Keluarga Nagara serta gadis pilihan neneknya. Freya ada disana.

Tangan keduanya masih bertaut. Dengan Joey yang masih setia bersembunyi dibalik punggung Nagara. “Aku cuma mau menegaskan. Aku memutuskan hubungan dengan Freya.” Suara Nagara lantang.

“Na…” Freya bersuara.

Sial! Suaranya merdu sekali di telinga Joey.

“Jangan begini. Kita perlu bicara.”

“Nggak. Maafin aku frey. Aku nggak bisa. Aku udah menikah. Dan hanya sekali.”

“Na please. Ayo bicara. Berdua.”

“Kita cuma teman frey. Jangan merubahnya! Aku nggak mau memusuhimu.”

“Jadi kamu menginginkan kematianku?” Nenek Nagara berdiri dari duduknya. Melotot pada sang cucu. Joey menegang, jantungnya semakin berdetak kencang. Bicara apa mereka? Kematian?

Nagara mempererat genggaman tangannya pada Joey. Gadis itu tahu kalau Nagara sebenarnya juga takut. Berhadapan dengan sang nenek adalah hal yang paling Nagara takutkan sejak dulu. Akan tetapi Nagara berusaha terlihat tenang. Ia harus bisa menjaga keluarga kecilnya dengan baik. Termasuk menjaga Joey dari kebencian neneknya.

“Aku akan merelakan kematian oma... seperti aku merelakan kematian bayiku.” Ucap Nagara dengan nada yang sedikit bergetar. Berbicara pada neneknya. Tentu setelah tahu, Penyakit jantung neneknya adalah akal-akalan untuk mengendalikannya.

“Oma, aku sayang sama oma. Tapi oma nggak pernah menyadari itu.”

Nagara kemudian menatap sang ayah. “Yah. Mulai sekarang aku restui ayah untuk menikah lagi.”

”Nagara... nggak bisa begini. Kamu udah janji...”

”Freya...” Potong langsung Nagara. ”Kita hanya ditakdirkan untuk menjadi saudara. Aku bakal terima kamu jadi adikku, tapi tidak jadi istriku.”

Rahang Nagara menegang. Joey mengusap genggaman tangan lelaki itu dengan lembut. Berusaha menenangkan dan meredamkan amarah Nagara yang ada dibenaknya.

”Sampai kapanpun, istriku cuma Joanne Josephine. Gadis yang sekarang lagi berdiri di belakangku.”

“Pergilah, Nak.” Ayah Nagara menghampiri sang anak dan menantunya. “Biar oma menjadi urusan ayah. Kalian juga harus bahagia ya.”

Ayah Nagara lalu menatap Joey. “Saya titip Nagara sama kamu, nak.”

Joey mengangguk.

“Menantu di rumah ini cuma kamu. Saya janjikan itu padamu.”

“Terima kasih ayah.” Joey tersenyum haru.

“Terima kasih, ayah. Kami pergi.” Ucap Nagara kemudian membawa Joey pergi bersamanya.

—jaemtigabelas

bagian dua puluh dua; hasrat.

Ditemani oleh dinginnya malam, sepasang suami-istri itu tengah tertidur di kasur yang sama. Saling menatap dan menelusuri arti tatapan tersebut. Lebih dari dua puluh menit mereka seperti ini. Berbicara melalui insting mata yang kuat. Hanya mereka yang mengerti.

”Saya mau sentuh kamu.” Suara Nagara pertama yang terdengar. Dengan tatapan yang tenang, menenangkan hati Joey.

”Yaudah sentuh aja mas kalo mau.” Jawab Joey yang matanya masih belum berkedip sama sekali.

Tersirat rasa takut di netra tersebut. ”Tapi saya takut kamu hamil lagi.”

Kepala Joey terangkat sedikit, membenarkan kepalanya yang semakin mendekat ke kepala Nagara. ”Mas nggak mau kehadiran seorang bayi?”

Diam. Nagara membisu. Tangannya terangkat membelai surai hitam pekat itu. ”Urusan anak, saya bisa pikir nanti. Yang penting tunggu kandungan kamu sehat dulu. Saya masih bisa menghamili kamu meskipun usia saya tua, Joey.”

Kini Joey mengerti besarnya rasa cinta Nagara padanya. Rasa cinta yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Nagara yang mempedulikan keselamatan dirinya, Joey sudah menganggap bahwa lelaki itu amat sangat mencintainya. Dan Joey kini bisa merasakan itu.

“Sini kamu!” Pinta Nagara.

Lelaki berkaos putih polos itu langsung meraih pinggang Joey. Satu tangan kanannya mampu membawa gadis itu kepelukannya. Joey melebarkan matanya. Ada yang mengalir deras di sekujur tubuhnya saat ia bersentuhan langsung dengan Nagara. Hidungnya mencium aroma minyak telon dari lelaki yang sedang memeluknya saat ini. Dan ia menatap wajah tampan nan memukau itu dalam jarak yang sangat dekat. Cukup untuk menjadi alasan, kenapa jantungnya seperti hampir lompat dari tempatnya.

“Apa?” Tanpa rasa berdosa, Nagara bertanya sambil menyunggingkan senyumnya.

“Wangi.” Jawab Joey tertahan sambil menundukkan wajahnya.

“Kamu baru tahu kalo wangi suami kamu emang kayak gini, Joey ?”

Joey tidak bisa menjawab pertanyaan konyol Nagara. Tentu saja ia tahu. Ia tahu benar bagaimana aroma tubuh dari lelaki yang berstatus suaminya itu. tapi Joey tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

Menyadari Joey yang masih sibuk dengan lamunannya sendiri, Nagara semakin mempererat pelukannya. Bahkan sekarang, tangan kirinya sudah ikut andil dalam mengurung tubuh mungil itu. Nagara memulai serangannya dengan meletakkan dagunya dibahu Joey. Menempelkan bibirnya untuk mengecup leher gadis itu. Tak ketinggalan hidungnya yang mancung mulai mengendus tengkuk Joey.

Joey kontan memejamkan matanya dan bibirnya mengeluarkan lenguhan kecil. Tentu saja. Itu adalah salah satu titik kelemahannya. Nagara mungkin sudah sangat ahli dibidang ini.

Bagaimana tidak? Pergerakannya sangat cepat. Keterampilannya dalam membius Joey memang pantas diacungi jempol. Joey masih belum tersadar dari menikmati ciuman Nagara di lehernya saat jari-jari lentik nan panjang milik Bapak Nagara itu mulai melepas satu–persatu kancing kemeja yang dipakai gadis itu.

Mungkin malam ini, Nagara tidak bisa menahan hasratnya untuk tidak meniduri Joey. Lelaki itu sudah sangat merindukan aroma tubuh istrinya.


Nagara ambruk diatas Joey. Menciumi seluruh permukaan wajah cantik itu yang basah karena keringat. Beberapa kali dia melumat lembut bibir Joey. Dia seperti tak pernah puas pada tubuh gadis itu.

Napas mereka tersenggal bersama. Nagara menyingkir dari tubuh Joey dan menyelimuti tubuh telanjang istrinya. Joey menatap Nagara. Dia sedang memejamkan matanya. Mulutnya sedikit terbuka untuk mengambil napas.

“Maaf kalo mainnya agak kasar.” Nagara menatap Joey sedikit menyesal.

Joey menggelengkan kepalanya. Gadis itu tahu betapa rindunya Nagara pada dekapannya. Joey memaklumi itu.

Kepala Joey terangkat untuk bersandar pada dada bidang dan polos lelakinya. Sehingga dirinya saat ini bisa mendengar degup jantung Nagara yang berdetak sedikit cepat dari biasanya.

”Besok... temenin saya ke suatu tempat.” Ucap Nagara sambil membelai rambut Joey.

”Kemana mas?”

”Ke rumah oma. Ada sesuatu yang harus saya luruskan.”

Joey diam sejenak. Jantungnya ikut berpacu cepat. ”Tentang Freya ya?”

”Hmmmm...” Gumam Nagara yang artinya ’iya’

”Lo mau nikah sama dia?”

”Ya Tuhan nggak.” Tegas Nagara langsung. ”Sampai kapanpun istri saya itu kamu Joey. Saya nggak bakal menikahi gadis lain selain kamu.”

Joey tersenyum. Mempererat pelukannya. Menandakan bahwa Joey percaya pada kalimat Nagara. Bahwa suaminya tidak ada niatan untuk menikahi gadis lain selain dirinya. Hanya Joey... hanya dirinya lah yang bisa menempati hati lelaki super kaku ini. Joey senang mendengarnya.

”Makasih. Gue cinta sama lo, Nagara.”

Cup

Kecupan itu mendarat di pipi Nagara. Membuat lelaki itu menoleh dan menatap Joey lekat. Kepalanya sedikit menunduk hanya untuk mencium bibir ranum itu lagi. Melumatnya sebentar hanya sekedar untuk menyalurkan rasa cintanya.

”Saya juga cinta sama kamu, Joanne.”

Joey kembali pada tempat ternyamannya. Di pelukan Nagara.

Nagaranya yang tampan. Nagaranya yang malang. Nagaranya yang berwajah dewa setengah iblis. Nagaranya yang kaya raya. Nagaranya yang tidak sempurna. Joey memeluknya dengan segala kelebihan dan kekurangan lelaki itu.

—jaemtigabelas

bagian dua puluh satu; kehangatan mereka kembali.

Joey hampir saja membanting pintunya ketika Hendra menahan daun pintu tersebut agar tetap terbuka. Terlihat Joey yang sesenggukan dan matanya yang memerah basah. Menatap sedih Hendra. Lelaki itu lalu menggenggam tangan mungil Joey, membawa gadis itu masuk kamarnya.

“Gue nggak bakal maksa lo. Semua keputusan ada di tangan kalian. Tapi please, lo dengerin ini dulu.”

Hendra mengambil ponsel dari saku celananya. Mencari aplikasi perekam suara disana.

Detika selanjutnya, Joey mendengar suara samar-samar dari ponsel Hendra. Suara tangisan lelaki.

Hendra merekam semuanya. Merekam saat dirinya memukul wajah bosnya berkali-kali sampai tidak berbentuk. Nagara yang mengaku, Nagara yang menangis, Nagara yang ternyata mencintai bayi empat minggunya, bayi mereka.

Dan inti dari rekaman tersebut adalah Nagara yang mengutamakan keselamatannya.

“Dia nggak pernah menginginkan kematian bayi kalian. Dia cuma terlalu cinta sama lo.”

Joey menutup mulutnya erat. Sial. Seandainya bisa, dia ingin memisahkan mulut kurang ajarnya dari wajahnya. Dia bahkan memaki Nagara. Siapa yang biadab sekarang?

“Kenapa dia nggak jujur sama gue sih?”

“Lo tahu persis Nagara orangnya gimana?”

Tanpa babibu lagi, Joey berlari keluar kamar. Dia ingin bicara dengan Nagara.

Diruang tamu, terlihat Malik yang duduk seorang sendiri sambil menekuk wajahnya. Kaki Joey gemetar. Kemana Nagaranya? Malik kemudian mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan netra Joey. Malik memasang wajahnya yang paling menyesal. Seandainya dulu dia tidak menyetujui ide gila Nagara untuk menikahi adiknya. Nagara dan Joey tidak akan sesakit ini.

“Dia pulang.”

Joey berbalik. Dia bahkan tidak menjawab kalimat Malik. Dia ingin Nagaranya. Joey ingin pulang ke pelukan suaminya. Kakinya berhenti di halaman depan. Malamnya terasa cerah. Secerah siang tadi.

Nagara masih di sini. Berdiri memunggunginya. Badannya yang menjulang, bahunya yang tegap. Nagara yang berdiri dengan kedua tangan yang tersimpan di saku. Joey ingin lelakinya.

“Na…” Joey memanggil dengan suara lirih. Tapi dia memastikan Nagara mendengarnya.

Lelaki itu tetap diam, tidak merespon. Joey sudah tidak tahan. Persetan dangan harga diri. Dia berlari mendekap Nagara. Nagara masih tidak bergerak. Tubuhnya kaku menerima pelukan Joey. Gadis itu bernapas dipunggung jenjang Nagara. Meminta kembali kebahagiaan yang dulu di berikan lelaki itu. Joey menggeser tubuhnya. Ingin menatap wajah Nagara.

Demi Tuhan, Joey seperti tenggelam di lautan. Ia tidak pernah merasakan ini dan tidak pernah melihat ini seumur hidupnya. Untuk pertama kalinya, Joey melihat Nagara dengan wajah basah penuh air mata. Benar-benar basah. Bahkan hidungnya berair. Wajah dan matanya yang memerah sempurna. Tidak ada suara. Dia kesakitan Joey.

“Saya yang membunuhnya, ya?” Lirih Nagara.

“Nggak... nggak.” Joey menggeleng cepat. Menangkup rahang lelakinya. ”Itu semua salah gue. Bukan salah lo, na.”

Joey memeluk Nagara lagi. Kali ini Nagara menyambut. Mereka menangis bersama.

“Gue yang bunuh dia. Gue yang ceroboh. Gue yang nggak becus menjaganya. Maafin gue.” Joey berteriak dalam tangisnya. Tepatnya didalam pelukan Nagara, ia menangis tersedu-sedu.

Malam saksinya. Malik yang di belakang mereka, ditemani Hendra yang mengintip dari jendela kamar Joey.

Nagara memeluk Joey sampai tangisnya mereka mereda. Dan didetik itu juga, kehangatan mereka kembali.

“Dari kemarin saya cari kemeja ini kemana-mana. Ternyata ada disini.”

Joey tersenyum, “Gue yang bawa tanpa sepengetahuan lo.”

Gadis itu melepaskan diri dari Nagara.

“Ayo pulang.”

—jaemtigabelas